
Dara kembali ke rumah Andi, di sambut faul yang duduk di sofa masih belum tidur. Faul bangkit dari tempat duduknya ketika melihat dara dan Andi pulang bersama.
"Dokter dara sudah di temukan?" Tanya faul yang melihat Andi pulang bersama Dara.
"Iya, Andi datang menolongku" kata dara.
"Alhamdulillah kalau begitu, dokter dara baik-baik saja. Tidak kurang apapun" kata faul.
"Rendy mana faul?" Tanya Andi yang tidak melihat keberadaan faul.
"Dia sudah tidur kak, di kamarnya. Dari tadi rewel, dia nangis mulu kerjaannya" kata faul mengadukan tingkah Rendy.
"Kenapa? Kau membuat dia kesal lagi?" Tanya Andi heran.
"Tidak kak, dia yang membuat aku kesal" kata Faul dengan jutek.
"Dia yang membuat kesal, tetapi dia yang menangis, aneh" kata Andi.
"Kakak baru sadar jika anak kakak aneh? Sifatnya turun dari kakak sendiri" kata faul drngan enteng.
Dara yang mendengar pertengkaran adik kakak, jadi diam. Dia tidak ingin ikut campur.
"Aku ke kamar Rendy, kalian lanjutkan bicaranya" kata dara sambil melangkah ke kamar Rendy.
"Kau tidak melukai anakku bukan? Biar dia anak aneh, tetapi dia itu keponakanmu. Kamu sebagai paman harus melindunginya bukan menyakitinya" kata Andi melanjutkan pembicaraannya.
"Kakak tidak percaya padaku, kau mau percaya dengan siapa?" Tanya faul yang mulai kesal. Dirinya di introgasi oleh Andi.
"Aku percaya dengan Reno, aku akan menyuruh reno menyelidikinya" kata Andi sambil berjalan ke kamar Rendy.
"Anak sama ayah, benar aneh. Urusan keluarga masih menyuruh reno menyelidiknya? tidak bisa apa kak Andi mandiri dikit" Kata Faul yang sudah di tinggalkan kakaknya.
Di kamar Rendy, dara membuka pintu perlahan. Dilihatnya pasiennya yang sudah tertidur tanpa menggunakan selimut.
"Rendy tidak pake selimut, dia tidak kedinginan" kata dara sambil menarik selimut menutupi tubuh rendy.
Wajah Rendy basah, seperti selesai menangis. Dara perlahan menghapusnya, dilihat wajah orang yang terlelap seperti tidak asing bagi dara.
Kepala dara pusing, Andi yang melihat dara memegang kepalanya, menghampirinya.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Andi.
"Kepalaku sedikit pusing"
"Kau butuh istirahat, aku antar ke kamarmu" kata Andi memawarkan bantuan sambil membantu dara berdiri.
"Kau tidak perlu repot mengantarku, aku bisa sendiri. Kau juga istirahat, kau capek habis menolongku" kata dara menjauhkan dirinya dari tangan Andi.
"Dara, aku bantuin. Kepalamu pusing, kalau jatuh bagaimana?" Tanya Andi memaksa membantu dara.
Dara tidak enak hati, Andi butuh istirahat. Dia tidak ingin merepotkan Andi padahal Andi sangat mengkhawatirkan keadaan Dara.
"Kau sebaiknya jaga Rendy, aku bisa sendiri ke kamar. Tidak apa-apa, kepalaku sudah mendingan" kata Dara menolak.
"Kau tidak mau aku membantumu, kalau begitu lain kali aku tidak akan membantumu lagi" kata Andi kemudian berlalu meninggalkan dara yang masih bengong di kamar Rendy.
"Kenapa kau sama sekali tidak mau aku membantumu? Apa kebaikanku selama ini tidak berarti bagimu?" Guman Andi.
"Apa kebaikanku selama ini tidak berguna bagimu, termasuk aku menyelamatkanmu barusan?"
Andi merasa kesal di tolak dara, kenapa jadi seperti ini perasaan Andi.
"Apa dia marah karena aku menolak untuk di bantu?" Guman dara sambil membolak-balikkan ponselnya.
"Aku sebaiknya tidur, tidak penting juga aku memikirkannya" guman dara sambil membarikan tubuhnya di kasur.
Pagi hari, Rendy sudah bangun tetapi terlihat cemberut. Andi dan faul yang melihat Rendy jadi tahu jika dia sedang marah.
"Kau yakin tidak melakukan apapun padanya?" Bisik Andi di telinga faul.
"Kakak Andi tidak percaya, mana berani aku membuat Rendy marah, apalagi menyakitinya" kata faul.
"Kenapa dia marah?"
"Mana aku tau, kak Andi ayahnya, pasti lebih tau"
"Awas jika kau macam-macam dengannya, aku bisa membuatmu masuk ICU"
"Sekalian gantung aku, dari kemarin ancamannya itu-itu terus"
__ADS_1
Andi mendekati Rendy yang meminum jus, tetapi rendy menjauhinya. Andi dan faul heran.
"Rendy kenapa, tidak suka dengan jusnya?" Tanya Andi bersikap ramah dan manis.
Rendy memalingkan wajahnya dan tetap meminum jusnya. Dia tidak menghiraukan perkataan Andi.
"Rendy suka dengan jus nya?" Tanya faul yang ikutan.
Lagi-lagi mereka berdua tidak mendapat respon, andi dan faul saling menatap sambil menghela napas. Rendy masih sibuk minum jus nya.
Rendy menatap Andi dan faul berganti, mereka membungkukkan badan, memohon pada rendy untuk mendapat kasihani. Rendy tidak peduli, dia meninggalkan mereka berdua sambil meminum jus nya.
"Kak, kita sudah seperti pengemis tetapi Rendy masih tidak peduli dengan kita" kata Faul yang membungkuk badannya mengikuti ide gila kakaknya.
"Aku pikir rendy akan lunak hatinya, aku salah menilai anakku sendiri" kata Andi sambil berdiri.
"Ayahnya saja salah, apalagi aku yang hanya sekedar paman" kata faul.
Rendy berjalan, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat wanita yang dia sangat rindukan. Rendy mengucap matanya dan menyadari jika ini bukan mimpi.
Rambut lurus, tanpa di ikat, membuat rendy sangat mengenali orang yang berjalan menghampirinya.
"Mama...." Teriak Rendy sambil berlari ke arah dara.
Dara tersenyum menyambutnya, dia juga sangat merindukan panggilan dan teriakan rendy. Panggilan mama jelasnya, perasaan dara senang mendengar rendy memanggilnya dengan sebutan mama.
Andi dan faul jadi kaget melihat rendy begitu senang melihat dara.
"Aku bingung dengan keponakanku, dia lebih senang bertemu dengan dokter dara daripada Ayahnya. Kak Andi sebaiknya tidak perlu memasang wajah di depan rendy, yang rendy mau hanya dokter dara, bukan kakak" kata faul yang berhasil membuat emosi Andi.
Melihat kakaknya menatap tajam ke arahnya, faul jadi gugup. Bisa jadi faul akan jadi sasaran amukan kakaknya.
"Aku hanya bercanda, tidak perlu di ambil hati. Di mana-mana, orang tua perannya lebih penting dari seorang dokter. Kak Andi ayahnya, dara hanya dokter pribadi saja. Rendy hanya merindukan ibunya saja, bukan ayahnya" kalimat terakhir faul membuat Andi melotot lagi.
"Aku jadi serba salah, sudah, malas berurusan dengan kakak dan rendy. Bisa naik tensi aku" kata Faul meninggalkan Andi yang masih memperhatikan keakraban dara dan rendy.
Rendy tersenyum manis bersama dokter dara, Andi yang melihatnya jadi terharu. Dara mau membuat putranya tersenyum lepas seperti sekarang.
Jangan lupa, Like dan komen. Semoga suka ceritanya...
__ADS_1