
Dara terkepung, dia tidak tahu harus berjalan ke mana. Semua orang yang mengincarnya dan Rendy berada di mana-mana. "Rendy, tetap pegang erat tangan mama. Kamu tidak boleh melepasnya apapun yang terjadi. Janji?" kata Dara.
Rendy mengajukan jari kelingkingnya dan tersenyum ke arah Dara. Dara memperhatikan kondisi, menarik Rendy berlari untuk pergi dari sana. Banyak orang, membuat Dara sedikit kewalahan. Di saat Dara hampir pergi, salah satu orang yang mengincarnya melihatnya. Dia bergegas berlari menahan Dara. "Hei, kau tidak bisa lepas dari sini." katanya dengan menggenggam erat tangan Dara.
Dara terpaksa melepaskan Rendy, menyuruhnya untuk lari. "Rendy, pergi!!" Teriak Dara yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Rendy termenung dengan mulut terbuka. Dia sangat takut melihat Dara yang di tarik-tarik. Tepat saat itu, seseorang berteriak membuat semua orang beralih menatap penjahat yang sedang menarik Dara masuk ke dalam mobilnya.
"Penculik!! Tolong ada penculik!!" Teriak Andi bersamaan dengan Rio yang berlari menghampiri Dara dan Rendy.
Orang-orang yang berada di dekat Dara, dengan cepat menarik paksa Dara yang hampir masuk ke dalam mobil. Mau tak mau, penjahat tersebut harus pergi dari sana sebelum babak belur. Rendy dan Dara selamat.
"Papa..." Teriak Rendy berlari memeluk Andi.
"Kau tidak apa sayang, baik-baik saja kan?" tanya Andi yang memeriksa tubuh Rendy.
Rio dan Dara hanya memperhatikan tingkah Ayah dan anak yang melepas rindu. Rio kemudian mencari seseorang di samping Dara. "Apa yang kau cari?" tanya Dara melihat orang asing di dekatnya menengok ke sana sini.
"Temanku." jawab Rio singkat.
Dara berpikir sebentar sampai dirinya teringat dengan Ardi. "Oh, teman pengecutmu itu?" Kata Dara yang membuat Rio dan Andi heran.
__ADS_1
"Rendy tunggu di mobil, papa mau bicara dulu." Ucap Andi mengusap lembut rambut Rendy.
Rendy menatap Dara, yang di sambut dengan anggukan. Akhirnya, Rendy pun masuk ke dalam mobil. Andi mulai membahas kejadian yang sebenarnya. "Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Andi yang penasaran.
Dara menghela nafas, dia hanya perlu menceritakan kejadian dirinya dan Rendy. Walau tidak mengerti pada awalnya. "Seseorang menyerang kami di bandara tiba-tiba di saat aku dan Rendy bertemu. Kami terpaksa berlindung, tetapi ada yang aneh. Mereka seolah mengincar Rendy dan teman pengecutmu itu. Ketika kami berhasil bersembunyi, mereka kembali datang menghampiri kami seolah sudah tahu setiap pergerakan kami. Makanya, aku dan Ardi mencari cara untuk lolos dari mereka. Kami memilih keluar dari bandara." Jelas Dara dengan terang-terangan.
Rio mengangguk, dia sepertinya mengerti apa yang terjadi. "Mereka memang sudah merencanakannya dari awal. Tidak mungkin menyerang tiba-tiba. Tetapi siapa pelakunya?" tanya Rio yang bingung.
"Tanyakan pada temanmu, dia sepertinya tahu sesuatu. Tiba-tiba saja, dia menurunkan kami hanya karena Rendy laper. Dia memilih meninggalkan kami, terpaksa aku yang membawa Rendy pergi." Kata Dara kesal. Dirinya yang repot sendirian mengurus Rendy, padahal bukan dia yang membawa Rendy dalam bahaya.
"Aku akan mencari tahu, yang terpenting kalian semua selamat. Ren, aku antar mereka pulang dulu, kamu bisa sendiri mencari Ardi?" Kata Andi, membuka pintu mobil untuk Dara.
Rio menggeleng kepalanya, lagi dan lagi Andi tidak bisa di percaya. Tidak setia kawan. "Aku membantumu mencari anakmu, kenapa tidak mau membantuku mencari temanku?" Tanya Rio.
"Iya, silakan pergi." Jawab Rio mengalah.
Andi masuk ke dalam mobil, melajukannya ke tempat yang aman. Rio baru sadar, dirinya tidak punya mobil lagi untuk mencari keberadaan Ardi. "Sial, di-dia membawa mobilku." Kata Rio yang menepuk kepalanya. Terpaksa dirinya harus pergi dengan berjalan kaki.
Andi membawa Dara dan Rendy ke sebuah rumah tersembunyi. Andi adalah salah satu ketua geng mafia yang mempunyai tempat persembunyian di mana-mana untuk keadaan darurat. Dara melihat pemandangannya sekilas, dia terkagum dengan keindahannya. Begitu banyak bunga-bunga yang bermekaran.
"Papa, Rendy laper." Kata Rendy yang merengek pada Andi.
__ADS_1
Dara menoleh ke arah Rendy. Mungkin karena Rendy tidak di beri makan saat bersama Ardi, makanya baru merasakannya sekarang. "Biar aku antar kamu makan." Kata Dara yang mengajukan tangannya.
Rendy tersenyum, meraih tangan Dara dan berlari masuk mencari makanan. Andi terlihat senang melihat mereka berdua. Lamunan Andi terhenti karena deringan ponselnya yang tiba-tiba berdering. "Halo, Kak Andi. Apa Rendy sudah ketemu, aku berada di bandara tetapi tidak melihat Rendy dan Kak Andi?" tanya Faul dari seberang telepon yang terdengar panik.
Andi tersenyum sumeringai, adiknya sepertinya tidak tahu bakatnya. "Tenang saja, Rendy sudah aman denganku. Aku membawanya ke tempat persembunyian. Kau datang ke sini saja," Perintah Andi.
"Syukur kalau begitu. Aku senang mendengarnya kak, Keponakanku baik-baik saja. Oke, aku akan meluncur ke sana." Kata Faul yang mengakhiri pembicaraannya.
Andi masuk ke dalam rumah, melihat Rendy makan dengan lahap. Berapa kali Rendy menambah makanannya. Dara juga terkejut melihatnya. "Rendy masih laper?" tanya Dara yang melihat Rendy terus menyuap dirinya tanpa henti.
Rendy mengangguk, tetap memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Apa kau tidak makan seharian?" tanya Andi yang menghampirinya.
"Aku sudah memberinya makan tadi." Jawab Dara dengan cepat, dia tidak mau di katakan orang yang tidak punya pengertian terhadap anak kecil.
"Rendy makan yang banyak, biar cepat tumbuh besar." Kata Andi mengusap Rendy. Rendy mengangguk.
Andi menarik Dara sedikit menjauh dari Rendy, masih banyak yang ingin Andi ketahui. "Dar, aku boleh tahu untuk apa kamu berada di bandara?" tanya Andi menatap Dara tajam. Tidak mungkin secara kebetulan, Dara berada di tempat yang sama dengan Rendy.
"A-aku se-sebenarnya ingin pergi liburan." Jawab Dara gugup. Dara sampai tidak sanggup menatap mata Andi.
"Kau tidak memberitahuku sebelumnya. Kau tiba-tiba menghilang tanpa sebab di saat Rendy masuk rumah sakit. Rendy terus mencarimu sampai aku harus repot turun tangan." Jelas Andi.
__ADS_1
Dara sama sekali tidak menjawab, dia takut menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Andi. Dara takut Andi akan marah dan kecewa padanya. "Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Jika aku tidak bicara, Andi pasti akan curiga." Guman Dara yang di lema dengan keadaan. Keringat dingin mulai bercururan di dahinya.
"Dara, apa yang kau sembunyikan dariku?" tanya Andi yang bisa menebak pemikiran Dara.