
Andi membuka pintu perlahan tetapi ponselnya bergetar.
Dreet....Dreet....Dreet....
Andi mengangkatnya dan menjauhi pintu.
"Itu siapa dara? seperti ada orang di luar" kata ramadhan sambil menengok ke arah pintu.
"Mungkin temanku yah, yang mengantarku tadi" kata dara menoleh ke arah pintu tetapi tidak kunjung orang masuk.
"temanmu di sini, kenapa tidak suruh masuk?"
"Aku pikir dia mengikut di belakangku tadi"
"Ya sudah, cepat cari temanmu dan bawa dia ke sini" perintah Ramadhan.
Dara keluar, mendapati Andi yang sedang menelpon.
"Dia menelpon, pantes tidak kunjung masuk dari tadi" guman dara melihat Andi dari belakang sedang menelpon.
"kau apakan dia faul? aku akan segera ke sana" kata Andi mengakhiri panggilannya.
Ternyata yang menelpon adalah adiknya, faul. Andi terlihat panik, dia bingung harus melakukan apa. Dara yang melihatnya, mendekat.
"Siapa yang menelpon?"
"Faul, aku harus pulang sekarang" kata Andi menoleh menatap dara.
"Ada masalah?"
"Aku tidak tau, faul menyuruhku segera pulang. Maaf, aku tidak bisa bertemu ayahmu, lain kali saja" kata Andi sambil pergi sebelum dara merespon.
"Andi sangat cemas dan panik, apa yang terjadi? apa masalah besar" guman dara sambil melihat punggung Andi.
Dara masuk ke kamar di sambut tatapan ramadhan yang bingung, tidak melihat teman dara.
"Temanmu di mana, kau tidak membawanya ke sini?"
__ADS_1
"Dia ada urusan yah, lain kali saja ayah bertemu dengannya"
*****
Andi datang, terlihat cemas dan panik. Dia melihat faul duduk di sofa sambil memegang ponsel.
"Faul, rendy mana? apa yang sudah kau lakukan padanya? kau membuat dia marah lagi? kau sadar, dia masih anak-anak kau malah membuatnya marah" kata Andi yang menyerbu pertanyaan pada Faul.
"Sabar dulu kak, aku belum bicara, sudah di serbu duluan" kata Faul yang masih terlihat santai sementara andi sudah ssperti orang gila.
"Sabar bagaimana, kau menelponku dan mengatakan rendy menangis sambil melihat foto mamanya. Apa yang sebenarnya terjadi, kau buat dia sedih lagi?" kata Andi yang sudah marah.
"Jadi begini kak, tadi aku ingin balas dendam pada kakak lewat Rendy, tetapi malah...."
Flash back**
Rendy baru bangun, dia menuju dapur dan meminum jusnya. Itu sudah menjadi kebiasaan rendy ketika bangun tidur.
Faul yang melihatnya, jadi ingin mengoda rendy. Faul ingin balas dendam pada Andi.
"Rendy sayang dengan papa Andi? Tetapi papa Andi seperti tidak peduli dengan rendy. Papa Andi tidak memberitahu Rendy jika dia mau jalan-jalan bersama dokter dara?"
"Aku berhasil sepertinya rendy mulai tertarik, aku harus membuat rendy benci dengan kak Andi. Siapa suruh dia mendoakan aku lajang seumur hidup" guman faul sambil tersenyum.
"Rendy, kau harus marah pada papamu supaya dia lebih perhatian lagi denganmu. Kau tidak mau kehilangan kasih sayang papa, mama saja kau tidak dapat kasih sayang, dan sekarang kau mau kehilangan kasih sayang papa juga?" kata Faul berusaha mempengaruhi rendy.
Rendy berlari ke kamar dengan kencang, membuat faul bingung.
"Ada apa lagi anak itu, kenapa rendy mulai bertingkah aneh" kata faul sambil mengehela napas panjang.
Faul menghampiri rendy di kamarnya, tetapi pintu kamar terkunci. Faul jadi panik, dia mengetuk pintu tetapi tidak mendapat respon dari dalam.
"Rendy, kau baik-baik saja di dalam?" Kata faul yang panik.
Faul mendobrak pintu kamar rendy hingga terbuka, Faul melihat rendy yang bersandar di tembok menangis sambil memegang foto mamanya.
Faul jadi kasihan, dia menghampiri rendy.
__ADS_1
"Rendy, maaf kan paman, bukan maksud paman seperti itu. Paman hanya bercanda, tidak ada maksud apa pun" kata faul sambil memegang pundak rendy.
Rendy menangis tanpa bersuara, dia menghiraukan paman faul yang berada di depannya.
"Aku merasa kasihan dengan keponakanku, aku harus bagaimana untuk membujuknya?" guman faul yang sudah kebingungan.
Rendy belum berhenti menangis, faul menjauh dan menghubungi Andi. Faul sempat berpikir untuk tidak memberitahu kakaknya, Andi bisa marah. Faul tidak punya pilihan selain memberitahu Andi, mungkin Andi bisa membujuk Rendy untuk tidak menangis lagi.
Faul menghela napas panjang, siap menerima amukan Andi. Dia mengambil ponselnya di saku celananya dan menghubungi Andi.
"Kak, pulang sekarang. Rendy menangis sambil memegang foto mamanya. Dia tidak mau berhenti menangis"
"Kau apakan dia faul, aku akan segera ke sana" Kata Andi dalam telepon.
Andi mematikan ponselnya sepihak.
"Aku harus siap kena amukan kak Andi, siap-siap faul..." guman faul menyemangati dirinya sendiri.
Flash On***
Andi geram mendengar perkataan faul, dia memukul dan menendang faul sampai faul tersungkal ke lantai dengan sudut bibir yang berdarah.
"Katakan di mana rendy sekarang? kau tidak kasihan dengannya, baru lahir tidak pernah melihat ibunya. Dia hanya bisa melihat dan memeluk fotonya saja" kata Andi yang sudah tidak bisa memahan amarahnya.
"Kau beruntung faul, sejak lahir masih bisa merasakan kasih sayang orang tua, sementara rendy tidak pernah sama sekali. Mama yang mengantikan istriku, tetapi mama sudah tidak ada, Rendy tidak punya siapa-siapa lagi" kata Andi menjelaskan yang membuat faul merenung menyesal.
"Aku minta maaf kak, aku tidak bermaksud membuat rendy merindukan mamanya. Aku benar minta maaf kak" kata faul sambil berlutut di depan Andi.
Andi berlalu pergi ke kamar rendy, menghiraukan Faul yang menangis sambil berlutut.
Andi tidak melihat rendy di kamarnya, dia kembali menghampiri faul yang masih berlutut di lantai.
"Faul, Rendy tidak ada di kamarnya" kata Andi yang membuat faul terkejut.
"Apa kak, Rendy tidak ada di kamarnya? Dia tadi berada di kamarnya kok" kata faul sambil terkejut.
Mereka pergi melihat dan memastikannya, tetapi Rendy tidak berada di kamarnya. Faul terkejut, dia mencari di bawah tempat tidur tetapi tidak menemukan Rendy.
__ADS_1
"Aku yakin kak, Rendy tadi masih ada di sini. kok sekarang sudah tidak ada yah?" kata faul yang heran.
"Kenapa kau bertanya padaku, kau yang berada di rumah tadi"