Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Bab 75


__ADS_3

Andi dan anak buahnya sudah mengepung Haris. Jika Haris keluar atau kabur, sudah tidak mungkin. Dia akan langsung tertangkap. Andi masuk ke dalam rumah teman Haris yang tidak terkunci. Andi terus mengamati setiap ruangan di rumah yang dia masuki. Tetapi tidak ada yang mencurigakan sampai Andi membuka tiap kamar.


"Kosong?" kata Andi yang bingung. Dara sama sekali tidak berada di sini. Andi kemudian keluar dan memeriksa sekeliling. Sepertinya, ketua mafia ini di tipu oleh seseorang. "Hei, kalian. Masuk dan periksa rumah ini!" teriak Andi yang memberi perintah.


Lima orang anak buahnya masuk sesuai perintah Andi. Tidak berselang lama, mereka datang melapor pada tuannya. "Maaf tuan, sepertinya mereka kabur. Soalnya, tidak ada siapapun di rumah ini." ucap salah satu anak buah Andi.


Andi mengepal tangannya, ini pertama kalinya dirinya di tipu habis-habisan. Dia langsung menghubungi Reno yang memberikan informasi salah padanya. "Reno, di mana keberadaan orang yang kamu tangkap itu?" tanya Andi yang masih bersuara datar.


"Aku sekap di rumah kosong tuan, ada masalah?" tanya Reno bingung dari seberang telepon.


"Tentu saja ada masalah. Kau berhasil di tipu olehnya. Dara sama sekali tidak ada di sini?" ucap Andi yang berteriak.


"Tidak mungkin, Tuan Andi. Aku sudah memastikannya kemarin, perkataan teman Haris benar."


"Lalu, harus bagaimana. Memang benar, Dia tidak ada di sini."


"Jadi, dokter Dara tidak di sana?" tanya Reno memastikan.


"Iya, masa aku bohong."


"Lalu, Haris masih ada di sana kan tuan?" tanya Reno.

__ADS_1


Andi semakin emosi mendengarnya. Entah otak Reno yang bergeser atau pikirannya yang tidak bisa mengkapnya. "Jika Dara tidak ada di sini, lebih-lebih Haris." ucap Andi kesal. Ingin sekali dirinya memukul Reno.


"Baik, tuan Andi. Aku akan segera ke sana," kata Reno yang langsung mengakhiri panggilannya.


Andi menatap ponselnya yang sudah mati. "Ini anak, mulai bersikap seenaknya padaku. Dia pikir, aku tidak akan membunuhnya?" ucap Andi sambil menggeleng kepalanya.


Tidak butuh waktu lama, Reno telah sampai di rumah teman Haris. Dia langsung menghampiri Andi yang sedari tadi menunggunya. "Tuan, maaf. Apa Haris dan Dara sudah tidak ada di sini?" tanya Reno memastikan.


"Kau tuli apa buta? aku sudah bilang tadi. Kenapa masih bertanya?" Tanya Andi dengan tatapan tajam ke arah Reno.


"Maaf, Tuan. Aku tidak percaya mendengarnya." jawab Reno yang spontan.


"Apa? kau tidak mempercayai diriku?" tunjuk Andi.


"Tetapi, kenyataannya mereka tidak ada di sini. Jika kamu tidak percaya, silakan cek sendiri." perintah Andi.


"Jika aku tahu akan seperti ini, sudah pasti aku bergerak semalam." lirih Reno yang sayup-sayup di dengar Andi.


"Apa kamu bilang? katakan satu kali lagi!" titah Andi.


"Tidak tuan, tidak. Mana berani aku!" ucap Reno sambil menggeleng kepalanya. Dia mendadak menjadi gugup ketika melihat tuannya.

__ADS_1


Di tempat lain, Dara masih pingsan. Dirinya tiba-tiba saja di bius oleh Haris dan di pindahkan ke rumah kosong. "Aku rasa, di sini lebih aman." ucap Haris yang menatap sekeliling.


"Aku tidak yakin, Tuan. Kita bukan hanya melawan Andi, tetapi Hansa juga. Dia sampai marah kemarin jika kita membawa pergi anaknya tanpa seizin dirinya." jelas anak buah Haris yang merasa takut. Hanya dia yang bertahan saat ini, semua teman-temannya telah di tangkap anak buah Hansa.


"Jadi, bagaimana selanjutnya, Tuan. Aku bingung, kita harus bersembunyi di mana. Jika keluar kota, kita akan langsung di tangkap anak buah Hansa. Tetapi jika kita tinggal di sini, nasib kita sama saja. Tetap akan di tingkap, entah Andi atau Hansa." Lanjut anak buah Haris.


"Sudah. Kamu tenang saja. Untuk sementara, kita tinggal di sini dulu sampai keadaan aman. Baru setelah itu, kita pikirkan bagaimana selanjutnya." ucap Haris menenangkan. Dirinya mulai pusing di tambah, anak buahnya tinggal satu.


Di rumah Hansa, anak buahnya datang membawa beberapa orang yang tidak di kenalnya. "Siapa mereka?" tanya Hansa yang memasang wajah datar.


"Mereka anak buah Haris, tuan. Kami berhasil menangkapnya." kata salah satu anak buahnya yang merasa senang karena berhasil.


"Lalu, kau pikir aku akan senang melihatnya?" tanya Hansa yang mulai memperbesar pupil matanya.


"Iya, Tuan."


"Tidak. Dasar bodoh. Aku minta, anakku yang kamu bawa ke sini. Jika bisa, sekalian Haris. Tetapi, lihat dengan mata kepalamu. Siapa yang kamu bawa ke rumah, ha? anak buah Haris yang tidak berguna. Untuk apa aku membutuhkannya?" teriak Hansa masih pagi-pagi.


"Tuan, jangan marah-marah. Nanti, anda tambah tua. Ini masih pagi."


"Hei, kau! kenapa jika aku sudah tua. Kau keberatan? ini memang pagi, makanya aku menyuruhmu membawa Dara dan tangkap Haris. Jika tidak, riwayat kalian semua kalian akan tamat di tangan Andi. Termasuk aku!" ucap Hansa yang sangat keras.

__ADS_1


Semua anak buahnya menunduk, mereka tidak ada yang bicara. "Lalu, di mana Haris dan Dara sekarang. Kenapa kalian tidak membawanya ke sini?" tanya Hansa.


"Tidak tahu, Tuan. Mereka sempat berpisah dengan anak buahnya saat kami kejar." jawab jujur anak buah Hansa yang membuat kembali tensi Hansa naik.


__ADS_2