
Setelah menerima telepon, wajah rio jadi panik. Dia kemudian menuju markas Andi, rio bertemu dengan reno.
"Untuk apa kakak datang ke sini? apa sudah bertemu dengan rendy?" Tanya reno yang mendadak bersikap dingin pada kakaknya.
"Ada kabar buruk, rendy dalam bahaya" Kata rio dengan panik tetapi reno bahakn terlihat tidak peduli.
"Kakak mulai berbohong, katakan saja jika kakak tidak ingin menghianati tuan kakak" Lanjut rio tanpa memandang wajah kakaknya.
"Reno, aku tau kau marah padaku. Tetapi aku serius, rendy dalam bahaya sekarang" Kata rio terus meyakinkan adiknya.
"Siapa yang dalam bahaya?" tiba-tiba suara yang terdengar arogan muncul.
"Rendy dalam bahaya. Temanku barusan mengabariku" jawab rio.
"Kau bilang mertuaku tidak akan melukai rendy, tetapi kenapa bisa begini?" Andi mengeritkan alisnya.
"Aku tidak tau, diakan mertuamu, tidak akan mungkin melukai cucunya sendiri"
"Lalu kenapa kau mengatakan jika rendy dalam bahaya?" ucap reno yang bingung.
Rio menghela nafas, dia perlahan menceritakan pada Andi dan Reno. Tidak lama, ponsel rio berbunyi.
"Bagaimana? kau tau apa yang direncanakan tuan hansa kali ini?" kata rio sambil mengengam tangannya.
"Iya tuan, tuan hansa berniat membunuh Ardi dan anak kecil yang dia bawa" kata seseorang dalam telepon.
Andi dan reno saling menatap mendengarnya.
"Katakan padaku, di mana dia sekarang?"
"Di bandara tuan, aku akan mengirim lokasinya pada anda" Kata seseorang dalam telepon kemudian mematikan teleponnya.
"Aku ikut untuk mencari rendy" kata andi sambil memegang pundaknya.
"Tuan, aku akan menyusul. Aku menyiapkan pasukan terlebih dulu, aku yakin jumlah mereka pasti banyak" Kata reno sekilas sebelum berlari ke dalam markas.
Dalam perjalanan, Andi terlihat panik. Perasaannya menjadi tidak tenang, rendy pasti sangat ketakutan di sana.
"Lokasinya cukup jauh, apa kita akan sampai tepat waktu?" tanya andi memecah keheningan.
__ADS_1
"Aku usahakan tidak akan terlambat" rio terus fokus mengemudi. Dia mencari keswmpatan untuk menyelinap setiap mobil di depannya.
****
Di tempat lain, dara sudah mendapat colokan. Dia ingin menghubungi ulang rio untuk meminta bantuan. Tiba-tiba saja, seseorang mengarahkan pistol di kepalanya membuat dara spontan mengangkat tangannya.
"Katakan, dimana ardi dan anak kecil itu. Kau tadi bersamanya bukan?" tanya seseorang yang menggunakan masker dan senjata lengkap.
"Aku tidak tau, tadi mereka bersamaku tetapi mereka sudah pergi" jawab dara dengan gugup.
"Jangan bercanda, kau pasti menyembunyikannya bukan. Jika kau tidak memberitahuku, aku akan menembak kepalamu" Ancamnya yang membuat dara gemetar.
Dara melihat rendy yang tidak jauh darinya. Dia mengedipkan mata agar rendy menjauh. Tetapo rendy hanya berdiri mematung di tempatnya.
"Aku tidak tau, aku benar tidak tau" ucap dara yang menahan rasa takutnya.
"Sepertinya dia tidak akan buka suara. Bunuh saja dia, tidak ada gunanya berada di sini" kata seseorang yang menghampirinya.
Dara semakin takut, dia tidak tau harus bagaimana. Dia tidak punya pilihan selain mengaku.
"Sebenarnya-" Perkataan dara terpotong setelah suara tembakan terdengar.
Ardi muncul di saat yang tepat, entah darimana dia mendapat senjata. Dara melihat ke arah rendy yang berjongkok ke lantai sambil memegang kedua telingannya.
"Rendy tenang, ada mama di sini" kata dara sambil memeluk rendy.
Perasaan rendy semakin membaik, ardi langsung membawa mereka ke dalam mobil berwarna hitam.
"Dari mana kau dapatkan semua ini?" tanya dara yang berada di dalam mobil.
"Aku punya kenalan, dia akan membantu kita sementara waktu. Tetapi aku tidak bisa menjamin keselamatan rendy" kata ardi yang kemudian mengemudi mobilnya.
"kita mau kemana, mereka pasti akan mencari kita" kata dara yang masih takut.
"jumlah mereka tidak sedikit, kita harus meminta bantuan. Tetapi siapa yang bisa membantu kita?"
"Papa..." Teriak rendy, sepertinya rendy mengerti pembicaraan ardi dan dara.
"Maksudmu andi, tetapi bagaimana caranya kita menghubunginya?"
__ADS_1
Dara diam, dia tidak tau harus menjawab apa. Ponselnya mati, belum beberapa persen dia harus mencabut dengan paksa casernya.
"kita hanya berputar tanpa tujuan. Jika ketahuan sekali saja, kita semua akan dalam bahaya" kata dara yang sudah putus asa.
"Arggg.." Ardi membantin stir mobilnya. Di saat seperti ini, dirinya tidak bisa melakukan apapun.
"*Aku yakin, tuan hansa ada dibalik semua ini. Tidak mungkin banyak orang yang mengincarku dadakan seperti ini. Mereka sepertinya sudah tau jika aku akan datang kebandara" guman ardi yang berpikir.
"Tetapi untuk apa? jika dia mengincar rendy, tidak mungkin dia juga mencariku" guman ardi yang kepalanya sudah pusing memikirkannya*.
"Mama.... aku laper" kata rendy sambil memegang perutnya yang sedari tadu terus berbunyi meminta sesuatu masuk kedalam perutnya.
"Kita cari warung dekat sini" Perintah dara.
"Tidak bisa, jika kita turun dari mobil kemudian ketahuan, kita akan langsung di tembak" tolak ardi.
"Lalu kau ingin membuat rendy kelaparan? dia sudah laper, kau tidak dengar?" kata dara dengan marah.
Ardi yang mendengarnya, menghentikan mobilnya.
"Jika kalian mau turun silahkan. Tetapi aku tidak akan menemani kalian. Jadi jangan salahkan aku jika nyawa kalian tidak selamat" kata ardi dengan serius.
"Hah, kau sudah tidak mau menjaga rendy lagi? kau yang membawanya ke sini tetapi sudah tidak mau bertanggung jawab lagi" dara tidak habis pikir dengan kelakuan ardi.
Dengan paksa, dara keluar dari mobil. Meskipun dia sempat ragu karena takut ketahuan, tetapi wajah rendy yang sudah tidak bisa memahan laper membuat dara tidak bisa menunggu lagi.
"Rendy, kita akan pergi cari makan. Kau tidak perlu khawatir apapun, ada mama yang akan menjagamu" kata dara sambil mengandeng tangan rendy mencari warung yang dekat dari jalan.
"Maaf rio, aku tidak bisa menjaga rendy. Diriku saja tidak bisa aku jamin akan selamat"
Ardi melajukan mobilnya menjauhi dara dan rendy. Dia tidak bisa terus bersama rendy, sementara dirinya sendiri tidak tau bagaimana nasibnya selanjutnya.
"Mama.. Rendy laper" kata rendy yang kini sudah duduk di jalan. Dia sudah tidak punya tenaga untuk berjalan.
"Ada warung nasi kuning dipinggir jalan. Aku akan ke sana dan membelikan untukmu" kata dara tersenyum kemudian berlari ke arah warung tersebut.
Rendy duduk di kursi pinggir jalan. Wajahnya terlihat lelah dan pucat. Sementara dara sudah mengantri untuk membeli nasi goreng. Tetapi ada yang membuat dara khawatir. Seseorang yang memegang senjata seperti sedang mencari seseorang berada di belakang dara. Dara berusaha bersembunyi di kerumunan. Tetapi orang tersebut berjalan ke arah rendy.
"*Gawat, rendy dalam bahaya" guman dara yang melihat ke rendy yang duduk di kursi.
__ADS_1
To be continue*...