
Setellah ituh Arlon pun segera menuruni tangga lalu duduk di sofa sementara Laila kemudian menyusul turun setellah ituh tampak Delia dan Wijaya menghampiri Arlon
"sayang kamu kenapa kok muka kamu detekuk kaya gitu"
"alah palinggan biasa lah mah kaya gatau ajah anak kita"(sindir Wijaya)
"eungga mah eungga kenapa-kenapa"
"oh ya udah kalo gitu"
"mah papah mau berangkat kerja dulu ya"
Wijaya pun pamit pergi bekerja
"baik pah hati-hati"
Setellah lama kemudian Wijaya pun sampai di kantor setellah beberapa lama kemudian Wijaya pun selesai bekerja lalu segera pulang
*Sembilan bulan kemudian...*
terlihat Laila sedang tertidur begitupun denggan Arlon lalu Laila terbanggun dan berniat berjalan ke kamar mandi dan terlihat Laila tampak kesulitan untuk berjalan karena perutnya sudah membesar setellah Laila berusaha berjalan namun hanya sampai di pintu masuk kamar mandi tiba-tiba dia merasa kesakitan Laila pun berteriak sampai akhirnya dia terpingsan
"Aduhh tolong sakit"
Arlon yang sedang tertidur pun akhirnya terbanggun mendenggar teriakan Laila
"aduh ada apa lagi sih berisik amat"
Arlon pun lalu segera menelisik dari mana sumber suara ituh setellah berhasil menemukan sumbernya dia akhirnya kaget melihat Laila yang pingsan dia segera menghampiri Laila setellah itu Delia dan Wijaya yang mendenggar teriakan dari kamar Arlon segera berlari ke arah kamar denggan panik sesampai di kamar
"sayang ada apa"(teriak Delia)
"iyah tapi denggar papah ada yang teriak"
"iyah mah pah Laila pingsan"(serua Arlon)
"apa ayo kita bawa kerumah sakit"(seru Wijaya)
Arlon pun terpaksa membopong Laila dan sementara Wijaya dia pun segera menuju garasi mobil di susul denggan Delia
"ayo pak cepat"(seru Delia)
"iya mah papah juga khwatir sama menantu dan calon cucu kita"
Arlon pun segera meletakan Laila di kursi belakang dan dia duduk di samping Laila lalu Delia duduk di depan setellah ituh Wijaya pun segera melajukan mobilnya setellah di tenggah perjalanan Delia pun replek memegang keningnya
"ya ampun pah saking paniknya kita belum ngasih tau bu Euis"
"eh iya mah"
"gimana dong pah kasian Laila kalo kita lama-lama"
"ya udah mendinggan kita ke rumah sakit dulu"
"baru kita kasih tau bu Euis"(lanjut Wijaya)
"baik pah"
Setellah lama menempuh perjalanan mereka sampai di rumah sakit Wijaya pun segera menghentikan mobilnya
"Arlon udah sampai ayo bawa Laila"
"iya pah"
Delia pun segera turun
"dokter suster tolong menantu saya"
suster pun lalu berlari ke arah Laila sambil membawa brankar lalu dia membawa Laila ke ruang persalinan
Mereka bertiga pun segera menunggu
"halo bu"
"iya halo ada apa"
"Laila tadi pingsan sekarang kami sedang di rumah sakit"
"ya ampun di rumah sakit mana"
"rumah sakit medika"
"terima kasih saya akan segara datang"
bu Euis pun segera mematikan telponya lalu dia segera menunggu angkot setellah beberapa lama kemudian datanglah angkot dan berhenti bu Euis segera masuk dan duduk
__ADS_1
"pak anterin saya ke rumah sakit medika"
"baik bu"
Setellah beberapa lama kemudian bu Euis pun sampai sang sopir pun kemudian menghentikan mobilnya
"bu sudah sampai"
"baik ini uangnya"
setellah membayar bu Euis pun segera berlari ke rumah sakit dia melihat mereka bertiga menunggu di luar
sebelum persalinan di mulai docter pun menyarankan jika sang suami harus menemani sang istri
"sus tolong panggilin suami nya"
"baik doc"
Suster pun lalu keluar dan menghampiri mereka bertiga
"mana suami dari bu Laila"
"saya doc"
"mari ikut docter panggil"
"iya sana sayang"(seru Delia)
Arlon pun terpaksa menuruti sang suster di saat yg bersamaan bu Euis pun sudah sampai di ruang tunggu
"nyonya tuan mana Laila"
"dia sedang di tanggani docter"
"mari duduk"
bu Euis pun lalu duduk bersama Delia dan Wijaya mereka tampak panik bu Euis tak henti-hentinya berdoa beggitupun Delia dan Wijaya mereka juga tampak panik
"ya ampun pah kok lama amat"
"sabar mah"
sementara suster dan Arlon sudah sampai di ruang persalinan
"dok ini suaminya"
"baik dok"
"mas tolong kamu duduk di samping istrinya"
"baik sus"
Arlon pun segera duduk tiba-tiba
kiringg....!
Terlihat pesan masuk Arlon pun segera menggambil gawainya lalu membacanya
"sayang temuin aku di cafe biasa aku kanggen"
Arlon pun tampak binggung tiba-tiba
"maaf mas sebaiknya tidak boleh main ponsel"
Arlon pun tercenggang lalu denggan ragu-ragu dia segera mematikan hendphone nya tampa membalas pesan dan segera memasukanya ke kantong celana
lalu dia merasa kesal kenapa belum di mulai lalu dia bertanya
"doc kenapa belum di mulai juga"
"maaf mas kita tunggu sampai mbak Laila sadar"
Setellah beberapa lama kemudian Laila pun tersadar
"aww sakit"
"bu apa ibu udah siap"
"siap dok"
"mas kayanya mba Laila udah sadar"
"ayo kita mulai"
"mas sebaiknya kamu peggang tanggan istri kamu"
__ADS_1
Arlon pun tampak terdiam
(batin)"apa aku harus peggang tanggan wanita kampung ituh"
"mas kok diam"
"eh baik doc"
Arlon pun kemudian memeggang tanggan Lail
"baik mba tarik napas lalu dorong"
Laila pun segera menurutinya
"aaaa"
"baik lagi mba tarik napas lalu dorong"
"aaaa aku sudah tidak sanggup dok"
"sedikit lagi"
"aaaaa"
Akhirnya Laila pun selesai melahirkan
"ea ea ea"
suster pun segera membawa dan membersihkan bayinya
tampak suara bayi menanggis mereka bertiga pun yang tampak panik lalu tersenyum
"kayanya menantu kita udah lahiran pak"
"alhamdulillah"
"sus tolong panggil keluarganya"
suster pun keluar
"pak bu mari masuk"
"baik sus"
Setellah ituh suster pun kembali membawa bayi munggil dan meletakanya di samping Laila
"ini bu bayinya laki-laki"
"bayiku"
Arlon tampak memperhatikan bayi ituh
"mas ini bayi kita"
Mereka bertiga pun akhirnya masuk bersama
"nak selamat ya"
iya bu"
"sayang selamat ya"(Wijaya dan Delia tampak serampak)
"terima kasih pah mah"
"ya ampun pah liat idugnya bener-bener mirip Arlon"
"iya mah bener"
Arlon pun tampak tidak suka
"apa an sih mah"
"mau di kasih nama apa"
"papah boleh gendong ya"
"silahkan pah"
Wijaya pun menggambil dan menggendong cucu pertamanya
"ya ampun lucunya"(seru Wijaya)
bu Euis pun lalu mendekat ke arah Wijaya
"ya ampun cucu nene ganteng bangget"
__ADS_1
bersambung...!