
Setelah lama kemudian Wijaya pun pamit untuk pergi bekerja
"semuanya!"papah berangkat kerja dulu maaf gak bisa anterin kalian"
Wijaya kemudian melirik putra nya
"dan kamu Arlon kamu harus bisa bersikap adil kepada Laila awas saja jika kamu menyakiti Laila"
Arlon pun tergagap
"iii ya pah"
"janggan iya-iya mulu kamu harus buktiin ngerti"
"iya pah"
setelah itu pak sopir pun
"maaf tuan apakah kita bisa berangkat"
"iya pak"
Laila pun lantas pamit kepada Delia dan Wijaya
"mah,pah!"kalo gitu aku pamit dulu ya"
Delia pun lantas mencium singkat cucu kesayanggan nya kemudian denggan berat hati memberikan beryen dari gendongan nya kepada Laila sementara Arlon pun lantas pamit kepada Delia
"mah aku pamit ya"
"iya sayang"
Anita pun lantas menghampiri Delia untuk pamit
"mah aku pamit juga ya"
namun Delia hanya memalingkan wajah nya setelah itu giliran Arlon menghampiri sang papah
"pah!"aku pamit dulu ya"
"baiklah"
Wijaya kemudian mendekat kan wajah nya ke arah Arlon kemudian membisikan sesuatu
"inggat ya pesan papah Arlon"
Arlon pun tampak gelagapan
"aapa pah..?"
__ADS_1
"janggan pura-pura lupa awas saja kalo sampai ketahuan kamu ngerti"
Denggan nada sedikit menggancam
"iya pah"
"ya sudah papah pergi kerja dulu"
Anita Pun berniat menghampiri Wijaya namun
Wijaya pun lantas segera naik ke dalam mobil
Setelah ituh mereka berdua pun lantas masuk kedalam mobil pak sopir pun mulai melajukan mobil nya di tenggah perjalanan pak sopir pun membelokan mobil nya ke arah sebuah gang Anita pun merasa heran kerena samakin mobil melaju Anita melihat dari jauh seperti banyak kontakan berjejer
(batin)"ah apa tidak salah jalan apa mungkin "
Anita pun masih berpikir tenang
(batin)"ah mungkin saja ini cuma jalan nya saja"
Setelah lama kemudian pak sopir pun lantas menghentikan mobil nya di sebuah pintu gang Anita pun lantas bertanya
"pak kok berhenti...?"
"kita sudah sampai non"
"apa jadi maksud bapak kita pindah ke sini..?"
Anita dan Arlon pun tampak tercenggang
"apa!" apa bapak bercanda...?"
"tidak den memang ini alamat nya"
"ayo,non aden turun karena kita gak bisa bawa mobil ke dalam"
mereka pun denggan terpaksa lantas turun begitupun Laila dia tampak ke susahan membawa koper nya sang sopir pun lantas menghampiri Laila
"non biar saya bantu"
"ah tidak usah pak"
"eungga apa-apa non biar saya yang bawa"
Akhirnya Laila pun membolehkan nya
"baiklah pak terima kasih"
"sama-sama non"
__ADS_1
Melihat semua itu mereka berdua pun lantas memperotes
"pak kok cuma bawa punya dia puya kita gimana"
"maaf,non aden bawa sendiri aja ya"
"jadi maksud bapak kita di suruh jalan kaki sambil bawa koper gitu"
"iya non mau gimana lagi"
"ih bapak gimana sih"
"kan kalian cuma bawa koper aja kalo non Laila kan bawa bayi kasian"
mereka berdua pun denggan terpaksa membawa barang nya sendiri sambil jalan kaki
"pak kita jalan ke arah mana ya"
"den ikutin saya aja ya"
"iya pak"
Denggan tampang malas mereka pun lantas menggikuti pak sopir sementara Anita di sepanjang jalan tidak berhenti-henti nya menggomel dan menggeluh
"aduh jalan kok jelek amat ya mana becek lagi"
"be!"aku cape"
"sama b
e!"kamu kira aku gak cape apa"
"ih be!"
"aku jijik"
"aduh be!"kamu sabar dong"
Sementara Laila dia tampak tenang berjalan
"heeh loe gak cape apa"
Anita pun menyambar
"gak cape dong be!"kamu lupa kan dia sebelum nikah sama kamu dia ituh dari kampung jadi udah biasa beda kalo sama kita"
"eh iya be!"
Laila pun akhirnya menjawab
__ADS_1
"iya mba Anita benar"
"Bersambung...!"