
Hati Amel berbunga-bunga mendapat kiriman bunga dari Dion dilokasi pemotretannya, menurutnya Dion adalah lelaki yang sangat mencintainya.
Dion rela melakukan apapun untuknya, termasuk antar jemput kelokasi pemotretan.
Setelah mengantar Amel kelokasi pemotretan, Dion segera pergi ke kantor.
Tanpa sepengetahuan Amel, Dion bertemu dengan seseorang disebuah cafe.
Dari jauh mama Sarah melihat sekilas Dion membayar makananya dikasir, dan pergi menggandeng seorang wanita cantik.
Saat itu pula mama Sarah menghubungi Amel dan menceritakan kejadian barusan.
"Udah lah ma, mana mungkin Dion dicafe sedangkan ini masih jam kantor. Mungkinkah mama salah lihat."
Tidak ingin berdebat dengan Amel, mama memutuskn untuk percaya apa yang dikatakan putrinya. Di cafe mama Sarah sedang arisan bersama geng sosialitanya, dengan bisnis perhiasan milik papa Ayra mama berhasil bergabung dengan orang-orang kalangan atas.
Mama Sarah menceritakan karir anaknya yang makin melejit dan calon menantu dari keluarga pengusaha ternama, bukan seperti keluarga Nugraha yangdi gosipkan waktu itu.
Bisnis calon besannya ada dimana-mana, termasuk diluar negeri. Orang-orang yang ada disana pun percaya, hampir setiap Minggu Sarah selalu gonta-ganti mobil mewah.
****
Dilain tempat Dion memang sudah lama tidak ke kantor, dikarenakan papanya mengusirnya dari sana. Dion berada diapartemen milik seorang wanita, yang diakuinya sebagai kekasihnya.
Jauh sebelum mengenal Amel Dion telah memiliki kekasih, kekasih yang tidak disetujui keluarga besarnya.
Selama ini Dion menumpang hidup dari Amel, dengan pura-pura menjadi manager nya. Dan mengelola semua keuangan Amel dengan alasan untuk masa depan mereka kelak.
Karena Dion berasal dari keluarga terpandang Amel dengan mudah mempercayainya, Amel sangat yakin Dion mencintai nya.
****
Semakin hari Ayra dan Vano semakin dekat, memang belum ada seratus pacaran tapi Vano yakin Ayra akan luluh dengan ketulusan ya.
Disaat dimana hari itu terjadi Vano akan langsung melamarnya, Vano sangat yakin akan melabuhkan cintanya pada ayra.
Andaikan nanti Alexa kembali itu urusan nanti, yang penting apa yang ada dihadapannya.
Seperti kata Han waktu itu, jika Alexa benar mengharapkan Vano dia tidak akan pergi begitu saja.
Vano sudah mulai bisa berfikir realistis, tidak semata-mata hanya tentang Alexa. Masih ada cinta lain yang mungkin lebih baik, yang Vano belum temukan.
****
Hari ini sepulangnya dari kantor Ayra berencana untuk mengunjungi rumah peninggalan orang tuanya, Rima menawarkan untuk mengantarnya tapi Ayra menolak tawaran Rima.
Rima tidak habis fikir, segera menghubungi kakaknya dan memintanya untuk membuntuti Ayra. Rima takut terjadi apa-apa dengan sahabatnya, mengingat dulu pernah beberapa kali Rima melihat Ayra mendapat perlakuan kasar dari ibu dan kakak tirinya.
__ADS_1
****
Di kantor setelah dihubungi Rima, Han pun sama khawatir nya dengan adiknya. Segera ke ruangan Vano dan memberitahukan masalah ini.
"Van, Ayra pulang kerumahnya."
"Emang kalau gak pulang kerumah mau pulang kemana sih Han,." Vano menganggap Han sedang bercanda seperti biasanya.
"Lo gimana sih Van, gue orang lain aja khwatir Lo calon suaminya malah biasa aja."
"Maksud gue Ayra pulang kerumah orang tua nya, kan disana Lo tau sendiri ada nenek lampir."
"Ayo kita susul, siapkan mobil "
Vano dan Han segera berlari menuju mobil Vano yang ada di lobby kantor.
Han mengambil kemudi, dan Vano duduk disebelahnya
****
Ayra memencet bell 2 kali, dan pintupun terbuka. Amel membukakan pintu, dikiranya Dion lah yang datang. Saat dilihatnya Ayra yang datang, muka yang tadinya berseri-seri terlihat berubah kesal.
Dari dalam ibu Sarah meneriaki Amel siapa yang bertamu, "Ini ma si anak sial." jawabnya.
Ayra menerobos masuk diruang tamu ibu Sarah melihanya dengan tatapan tidak suka, "Mau ngapain kamu kesini lagi..?"
"Beraninya kamu bicara seperti itu, mau apa dasar perempuan murahan."
"Jangan sekali-kali mama berani menghinaku seperti itu, aku bukan bocah ingusan yang dulu mudah kalian tindas."
"Keluar dari rumahku."
"Sepertinya mama lupa, aku ingatkan lagi. Sebelum mama dan putri mama datang kerumah ini. Rumah ini sudah berdiri seperti ini, sampai hari ini tidak ada yang berubah."
Amel yang mendengar pertengkaran Ayra dan mamanya mendekati ayra dari arah belakang, saat akan mengguyurkan segayung air dikepala Ayra. Tiba-tiba Vano memegangi tanganya dan memutar tangan Amel, hingga air itu tumpah dikepalanya.
"Kurang ajar, oh kalian beraninya keroyokan." Amel yang basah terlihat sangat kesal.
"Aku sudah peringatkan, berani kalian menyentuh calon istriku. Akan ku buat kalian menyesal selamanya."
"Dia yang nyari masalah dengan menghampiri kita..' Nada bicara Amel sedikit melunak.
"Wajar dia kesini, ini rumahnya.."
Vano menghampiri Ayra dan menggandeng tanganya, "Ayo sayang kita pergi dari sini."
Sarah berteriak ke arah mereka bertiga, "Urusan kita belum selesai."
__ADS_1
Vano berbalik dan menatap Sarah dengan tatapan membunuhnya. "Aku tunggu apa yang mau kau selesaikan."
Mereka bertiga berlalu dari sana dan masuk dalam mobil Vano.
"Sialannnn...."
Sarah merasa terhina dengan perlakuan Ayra dan Vano, karena saat itu Han hanya diam mematung. Han percaya Vano mampu mengatasinya sendiri, merekapun pergi meninggalkan rumah itu.
"Sayang kamu gak papa, apa mereka nyakitin kamu.?"
"Aku gak selemah itu Van.."
"Syukurlah kalau gak papa, kita kemana sekarang."
"Kak Han kita pulang aja, aku gak mood mau kemana-mana."
"Oke siap.." Ucap Han dengan mengacungkan jempolnya
****
Di apartemen Rima menunggu kepulangan Ayra dengan cemas, takut terjadi apa-apa dan kak Han terlambat datang.
Pikiran Rima membayangkan hal-hal yang gak jelas, bell pun berbunyi Rima segera berlari untuk membukakan pintu.
Setelah pintu terbuka Rima langsung memeluk Ayra dengan sangat erat, "Ra Lo gk papa kan ?"
"Lo ngapain nangi, gue gak papa."
"Gue khawatir Ra sama Lo,"
"Sejak kapan Lo jadi cengeng kayak gini."
"Sejak hari ini." Mereka berdua tertawa
Vano dan Han menatap kedua sahabat ini, begitu dekatnya mereka berdua batin Vano
Setelah makan malam diapartemen Ayra, Vano dan Han memutuskan untuk pulang.
Besok pagi sekali Vano ada metting dengan klien yang dari Singapura, Vano meminta asisten Han untuk menyiapkan materinya malam ini dan mengirimkan ke email nya.
Vano akan mempelajarinya lebih dulu, sebelum presentasi besok.
Ini menyangkut kerja sama yang akan mereka jalani dengan pemilik perusahaan yang ada di Singapura.
Vano akan menunjukkan jika perusahaanya pantas mendapatkan kontrak kerja sama ini.
Vano sudah sangat siap melebarkan sayapnya ke mancanegara, papa Reno terus memantau bisnis Vano dari jauh.
__ADS_1
Vano yang ingin mandiri tanpa bantuan dari papa nya, papa Reno menjadi bangga dengan kegigihan Vano. Meski masih tergolong sangat muda tapi Vano mampu bersaing dengan perusahan yang telah lama berdiri.