Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 34


__ADS_3

Ayra keluar dari rumah Vano tanpa membawa apapun barang milik Vano, ia hanya membawa beberapa pakaian dan barangnya sendiri.


Setiap kali mengingat kenangan bersama Vano, selalu terlintas bayangan saat Vano memeluk wanita lain.


"Non Ayra, waktunya sarapan Non.."


Suara dari balik pintu kamarnya membuyarkan lamunannya.


"Iya yuk, bentar lagi Ayra turun.."


Ayra beranjak dari duduknya dan berjalan ke meja rias, ia menyapukan cream diwajahnya agar tidak terlihat pucat.


Ayra berjalan menuju meja makan yang ada dilantai 2, terlihat yuk Darmi dan beberapa pelayan sedang menata masakan dimeja makan.


"Yuk masak apa pagi ini.."


"Silahkan Non, ini menu kesukaan Non Ayra.."


Ada cap Jay, ayam goreng, sambal, rendang dan beberapa menu lainya tersaji disana.


"Pak Yoseph biasanya berapa lama Om Anton keluar negeri..??"


"Tidak tentu Non.."


"Kamar Om Anton dan Tante Ana ada disebelah mana..?"


Pak Yoseph, yuk Darmi dan pelayanan yang ada disana saling melempar pandangan.


"Anu Non.. pak Anton tidak pernah tinggal disini.." Ucap pak Yoseph


"Lah terus Om Anton tinggal dimana.??, Aneh sekali rumah sebesar ini tidak ditempatin."

__ADS_1


"Kami juga kurang tau Non, kami hanya kerja disini tidak berani bertanya.."


Ayra pun mengangguk-angguk kan kepalanya.


"Semuanya mari makan.." Ayra menawari para pelayan untuk makan.


."Terimakasih Non, kami makan dibelakang.."


***


Rima yang kebingungan beberapa hari sahabatnya tidak bisa dihubungi, nomor ponselnya juga tidak aktif.


Tut ...Tut....


"Hallo... Ada apa? kakak lagi banyak kerjaan.." Jawabnya ketus.


"Apa-apaan sih kak.. Cuma mau nanya Ayra dimana, kenapa ponselnya mati.!"


"Mana kakak tau, suaminya si bodoh itu aja gak tau apalagi kakak.."


"Ayra keluar dari rumah gara-gara si bodoh itu masih berhubungan sama Alexa."


Rima yang mendengar berita kepergian sahabatnya langsung dari kakaknya menangis sedih. Kemana harus mencari Ayra, sementara nomor ponselnya saja gak bisa dihubungi.


Rima tidak habis pikir Vano yang sudah seperti kakaknya sendiri tega menyakiti Ayra.


Sudah 3 hari Aira pergi dari rumah dan 3 hari Vano tidak ke kantor, iya hanya mengurung diri di kamarnya.


Vano membuang barang-barang dari atas meja, kamar berantakan di mana-mana. Pecahan botol parfum berhamburan, bantal dan selimut berserakan di lantai.


Dalam sehari ia mampu menghabiskan puluhan batang rokok, Vano hanya sekali menyentuh makanan dalam sehari kadang juga tidak sama sekali.

__ADS_1


***


Tut....Tutt....Tutttt


"Pa... " Tidak ada sahutan dari dalam.


Mama Melly membuka pintu dan mendongakkan kepalanya ke dalam ruang kerja suaminya.


"Sepi seperti tidak ada orang.." batinya


"Pa....Mama masuk ya ..."


Masih tidak ada yang menyahut, Mama Melly melangkahkan kakinya masuk dan menutup kembali pintu ruangan.


Ia mendekati meja kerja papa Reno dan meletakkan segelas kopi di sana, terdengar gemricik air dari dalam kamar mandi ia yakin suaminya yang ada di dalam sana.


Pandangannya menangkap layar komputer yang masih menyala, saat ia membaca begitu terkejut dengan kata-kata yang ada di sana.


Begitu papa Reno keluar dari kamar mandi ia mendapati istrinya menangis di kursi kerjanya.


"Mama... Ada apa..?" papa Reno berlari panik dan memeluk istrinya.


"Apa yang terjadi sama anak dan menantu kita Pa...?" tangisannya pecah dalam pelukan suaminya.


"Entahlah Ma..., papa juga nggak ngerti dengan cara pikir Vano."


"Kita kembali ke Indonesia Pa.."


"Secepatnya Ma..."


Setelah berpamitan dengan Gema, ini papa Reno dan Mama Melly bersiap-siap akan terbang ke Indonesia.

__ADS_1


keduanya merahasiakan kepulanganya dari Vano, mengabari asisten Han melalui pesan singkat untuk menjemputnya lusa di bandara.


Tadinya Gema sedikit terkejut mengapa anak dan menantunya tiba-tiba memutuskan kembali ke negaranya, papa Reno mengatakan dengan alasan ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


__ADS_2