Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 47


__ADS_3

Siiang ini papa Reno meminta Vano untuk ke kantornya, Vano yang merasa heran kenapa papanya memanggilnya pun segera menyetujui untuk datang.


Vano melangkahkan kakinya memasuki lift, ia memencet angka 8 di mana ruang Papa Reno berada. Di lantai 8 Vano berpapasan dengan Han, Han tidak menyapanya dan segera berlalu pergi dari hadapannya mungkin masih marah karena kesalahpahaman antara Vano dan Han.


" Siang Pa..."


" Siang, duduklah Van.."


Vano mendaratkan tubuhnya di sofa, Papa Reno menghampirinya dan ikut duduk di sofa. Di sana sudah menyala layar proyektor dari sebelum dirinya masuk.


Papa Reno menampilkan video dari laptopnya yang langsung terhubung ke proyektor, Vano ikut menyaksikan video yang papanya tampil kan.


" Apa kamu mengenali wanita ini..?"


" Ini Ayra Pa ."


Ayra terlihat sedang berada di sebuah mall dan berjalan ke arah toilet. Ini adalah video di mana Ayra mengalami kecelakaan, yang mengakibatkan pergelangan tangannya retak.


Vano terkejut ada seseorang yang dengan sengaja menumpahkan sesuatu di sana, dari gerak geriknya jelas terlihat targetnya adalah Ayra.


" Coba kamu perhatikan wanita yang menumpahkan sesuatu ini, apa kamu mengenalinya..?"


Vano hanya terdiam mengamati video dan memutarnya secara berulang-ulang untuk melihat jelas pelaku.


Sepertinya Vano sudah menyimpulkan dengan melihat ciri-ciri wanita ini, sangat mirip dengan seseorang, termasuk tas yang ia bawa.


Sama persis dengan milik wanita yang setiap pagi ke rumahnya. Di salah satu tangannya juga menggunakan gelang yang terdapat liontin berwarna merah di sana.


Vano pun menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah ingin mengembalikan sepenuhnya kesadarannya.


" Pa..." Vano menatap wajah laki-laki yang duduk di seberangnya.


" Gimana kamu mengenalinya..?"


Vano mengangguk dengan yakin, wajahnya terlihat marah sekaligus malu pada Papa Reno.


" Pikirkan baik-baik Nak sebelum bertindak, kamu sudah dewasa dan sebentar lagi mau menjadi papa. Jelas dia bukan hanya menargetkan Ayra tapi juga kandungannya."


Vano menangis, tidak menyangka kesalahannya bukan hanya mencelakai istrinya tetapi juga calon anaknya. Kata-kata Mama Melly terus ternyang di benaknya, untuk segera memiliki momongan. Kehamilan Ayra adalah berkah untuk keluarganya dan juga dirinya.


" Masuk lah Han..."


Han yang sejak tadi berdiri di samping pintu ruangan Papa Reno segera membuka pintu.


Dan melihat betapa lemahnya Vano hatinya juga merasa iba, bagaimanapun Han dan Vano sudah puluhan tahun hidup bersama.


Sejak keduanya masih duduk di bangku SMP, keluarga Vano adalah keluarganya juga. Begitu juga dengan papa Reno menganggap Han dan rima seperti anaknya.


" Kembalilah sama Vano Han, selalu ingatkan Vano jika jalannya salah.."


" Baik Om.."


Vano berdiri dan menghampiri Han, ditatapnya mantan asistennya itu dalam-dalam. begitu juga dengan Han yang menatap Vano.


Vano segera memeluknya, kini keduanya pun berpelukan.


" Maafin gue Han.."

__ADS_1


" Lo nggak salah, segera perbaiki. Semua belum terlambat.."


" Pa maafin Vano ya Pa.."


Papa Reno menepuk-nepuk pundak putranya.


" Jadikan semua ini pelajaran.."


Sepulangnya dari kantor Vano melajukan mobilnya ke mansion Ayra, Vano membawakan istrinya buket bunga yang sangat indah. Sebagai permintaan maafnya sekaligus terima kasih pada istrinya.


Sebelum ke kamar istrinya Vano terlebih dahulu bertemu Pak Yosep di lantai bawah.


" Bisa bicara sebentar Pak..?"


" Bisa Den mari.."


Pak Yosef membawa Vano ke halaman belakang mansion, agar pembicaraanya tidak terdengar oleh siapapun.


" Pak bagaimana perkembangan penyelidikan kasus kecelakaan yang menimpa istriku..?"


Pak Yosef terdiam sejenak.


" Den vano sudah tahu tentang ini..?"


" Aku baru tahu dari papa.."


" Kami semua masih merahasiakan dari Nona muda Den.."


" Sebaiknya begitu Pak, istriku sedang hamil kasihan kalau terbebani masalah ini."


" Beberapa anak buah sudah saya perintahkan untuk memata-matai wanita itu Den.!"


" Bersama seorang pria di apartemen x.."


"Apaaaa...." Vano begitu terkejut.


" Menurut laporan yang saya terima seperti itu Den, rencananya besok pagi kita lakukan penggerebekan.."


" Oke saya ikut, kita tetap jaga rahasia ini.."


" Baik Den.."


Vano naik ke lantai atas ke kamar istrinya, dibukanya pintu kamar pelan-pelan dan Vano mendongakkan kepalanya ke dalam. Dilihatnya Ayra tertidur pulas di atas ranjang dengan buku masih berada di tangannya.


Ayra yang hobi membaca novel, semenjak hamil iya banyak mengoleksi novel-novel dari beberapa penulis terkenal. Kadang cerita dalam novel membuat emosinya ikut terbawa.


Vano menutup kembali pintu dengan sangat pelan, hampir tidak menimbulkan suara.


Ia melepas sepatunya dan merangkak naik ke atas ranjang, dilihatnya wajah istrinya yang sedang tertidur terlihat begitu tenang.


Rasa lelah yang menghampiri nya membuat Vano ikut tertidur memeluk istrinya.


Ketika Ayra membuka mata, iya dikagetkan dengan Vano yang tertidur di sampingnya.


Dilihatnya wajah lelah suaminya, Ayra pun tak tega untuk membangunkan. Perlahan Ia turun dan mendapati buket bunga yang sangat indah di atas meja didepan televisi.


Ayra menghampiri dan mencium beberapa kelopak bunganya, disana terdapat sebuah kartu dengan tulisan untuk istriku.

__ADS_1


"Benar-benar bunga yang sangat indah.." Batinya.


Belum puas memandangi keindahan bunga-bunga ini Ayra memutuskan untuk segera membersihkan diri.


Ayra mengisi bathub dengan air hangat, memasukkan beberapa tetes aromaterapi kedalamnya dan segera berendam disana.


Dirasa sudah cukup Ayra menyudahi acara mandinya, dilihatnya Vano masih tertidur pulas.


Ayra berlahan keluar kamar dan keruang tamu dilantai bawah,


" Non Ayra butuh sesuatu..?"


" Gak Yuk, sini deh Yuk.."


Ayra menepuk-nepuk sofa disampingnya agar Yuk Darmi duduk disana, Yuk Darmi pun segera mendudukkan dirinya.


" Yuk sore ini chef Ronald masak apa..."


" Iga bakar mentega Non, dengan fillet ikan salmon."


" Kalau chef Ronald yang masak, udah gak ragu lagi sama rasanya.."


" Pasti Non, wenakkk bangettttt.." Yuk Darmi dengan mengacungkan dua jempol tangannya.


" Yuk... Diatas ada mas Vano..."


" Iya Non, tadi Pak Yoseph sudah bilang bahwa Den Vano datang.."


" Lagi tidur Yuk, biarin paling capek.."


" Yuk lihat Den Vano ini orangnya baik Non, bertanggung jawab juga, pekerja keras."


" Iya Yuk.. Ayra lihat juga begitu.."


Keduanya larut dalam obrolan, didalam kamar Vano mulai mengerjakan matanya. Dilihatnya langit-langit kamar, jelas ini bukan dikamarnya.


Tanganya meraba-raba sampingnya, ia tak mendapati istrinya. Vano pun duduk dan menyandarkan punggungnya dikepala tempat tidur, tak lama pintu kamar terbuka.


" Udah bangun mas.." Ayra datang dengan membawa nampan berisi teh hangat.


Ayra duduk dipinggir tempat tidur, Vano menatap istrinya dalam.


" Sayang maafin mas ya.." Vano menggenggam tangan istrinya.


" Maaf untuk apa mas.."


" Untuk semuanya, maaf untuk kebodohan mas yang terus melukai hatimu."


" Sayang maafin Papa ya, Papa udah bikin Mama sedih terus.."


Vano menciumi dengan lembut perut istrinya.


" Mas mandi dulu gi..."


" Nanti aja mandi dirumah, mandi gak ganti baju kan risih.."


" Mas mandi dulu, bentar lagi pakaian gantinya nyampek. Ayra udah telpon sama Mbok Yem untuk dibawakan pakaian mas Vano sekalian untuk ke kantor besok.."

__ADS_1


" Makasih sayang, Emang istriku yang paling mengerti.."


Vano mencium pucuk kepala istrinya dan berlalu masuk ke kamar mandi.


__ADS_2