Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 46


__ADS_3

setiap pagi Alexa selalu datang ke rumah Vano, hanya untuk sarapan bersama sebelum Vano berangkat ke kantor.


semua asisten rumah tangga Vano sudah mengetahui gelagat wanita ular ini, begitu manis dan lemah lembut di depan Fano tapi buas di belakangnya.


Sebenarnya Vano juga merasa risih Alexa ke rumahnya setiap hari, tapi tidak ada alasan yang tepat untuk mengusirnya. Kini keduanya sedang menyantap hidangan makan paginya.


" Mbok Yem.."


Mendengar namanya dipanggil Mbok Yem segera menghampiri majikannya di meja makan.


" Iya Den Vano.."


" Mbok makanan pesanan saya sudah siap..?"


" Sudah Den, salad buah dan salad sayur untuk Nona Ayra kan.."


Vano pun mengangguk, Mbok Yem sengaja menyebut nama istri majikannya. Supaya wanita ular ini lebih tahu diri.


" Saya yang akan mengantarnya sendiri mbok.."


" Baik Den, Mbok siapkan dulu.."


Memang sebelumnya mang Dadang yang mengantarkan salad ke mansion Ayra, itu atas permintaan Vano karena hubungannya dengan Ayra sedang tidak baik.


" Dasar pembantu nggak tahu diri, bikin selera makan ku hilang aja.." Alexa begitu kesal menatap mbok Yem.


" Kamu nggak telat Van, gue bantu anterin boleh.."


" Nggak perlu, aku mau lihat keadaan istri dan calon anakku. Lagian kalau aku telat juga nggak akan ada yang berani marahin.."


Alexa terlihat makin kesal, jelas-jelas dirinya yang ada di hadapan Vano kenapa malah Ayra yang dipikirkan.


" Kamu yakin Van anak yang ada dalam kandungan Ayra anak kamu.." Alexa mulai menghasut Vano


" m


Maksud kamu apa..?" Vano menaikkan nada bicaranya.


" Bukan apa-apa Van, buktinya Ayra betah lama-lama berada di luar rumah. Ninggalin suaminya di rumah sendirian, gak mungkin lah kalau gak ada apa-apanya. Pasti Ayra lebih bahagia bebas dari kamu."


" Terus kamu ngapain setiap hari ke rumahku, datangi suami orang di saat istrinya sedang tidak di rumah. Mau memelihara bibit pelakor..?, Lagian istriku pergi juga gara-gara kamu yang terus nempel sama aku.." Vano yang kesal mengungkapkan semua yang terpendam dihatinya.


Vano segera bangkit dari duduknya dan berlalu pergi, ia akan mengantarkan salat ke rumah Ayra.


" Vano.... Vano....." Alexa berteriak memanggil Vano, tetapi Vano terus mengabaikannya.


" Haaaahhhj.." Alexa berteriak kesal dengan membanting sendok yang ada di tangannya kemeja.


Mbok Yem, Dina dan Saroh yang sejak tadi menguping pembicaraan majikannya memegang dada karena kaget. Alexa segara berdiri dan mengambil tasnya yang ada di sofa kemudian berlalu pergi dari rumah Vano.


" Untung bukan wanita ini yang menjadi nyonya di rumah ini.."


" Benar, bisa-bisa kena stroke kita dibuatnya.."


" Hussshhh... udah udah ayo bereskan meja makan.."


" Lagian den vano baik mana mungkin jodohnya kayak gitu.."


Vano memarkirkan mobilnya di halaman depan mansion, karena Ayra sudah mengizinkan untuk Vano datang tidak ada alasan lagi security untuk melarangnya.


" Pak Ayra belum turun..?"

__ADS_1


" Belum Den, perlu bapak panggil kan..?"


" Ayo saya ikut naik.."


Vano mengikuti Pak Yosep naik ke lantai 2, di mana kamar istrinya berada.


tok...tok....tok...


" Non Ayra.."


" Iya Pak Yos ada apa..?" Ayra menjawab dari dalam kamarnya.


" Ada Den Vano Non.."


" Suruh naik aja.."


" Den Vano sudah disini Non.."


Ceklek....


Keluarlah Ayra dari dalam kamarnya, Vano begitu terkejut melihat keadaan istrinya.


" Sayang ada apa denganmu...?"


" Nggak apa-apa hanya terjatuh." jawabnya datar


" Apa masih sakit...? Perlu ke dokter lagi.." Vano begitu ngilu melihatnya.


" Udah nggak apa-apa.."


" Bagaimana keadaan anakku.."


" Kondisinya baik.."


" Sayang ini aku bawakan salad kesukaanmu.."


Vano membuka kotak salad dan mengambil sendok untuk menyuapi istrinya.


" Aku aja.."


Ayra merebut sendok dari tangan Vano, Vano pun hanya tersenyum.


Melihat Ayra yang begitu kerepotan dengan tangan kirinya untuk mengambil salad.


" Udah biar aku aja.." Vano mengambil alih sendok dari tangan Ayra.


" Aku hanya mau memastikan anak dan istriku kenyang.."


Hati Ayra menghangat batinnya tersenyum, Vano dengan telaten terus menyuapi istrinya.


" Sayang mas mau ke kantor dulu, nanti pulang dari kantor kamu minta mas bawakan apa.."


" Hemzzz... nggak usah mas..."


" Istri dan anakku sudah kenyang mas berangkat dulu ya..?" Vano mencium puncak kepala istrinya, yang dicium hanya diam mematung tanpa tau harus berbuat apa.


Vano berjongkok menjajarkan tubuhnya dengan perut Ayra yang sedang duduk.


" Sayang papa berangkat kerja dulu, adik baik-baik di perut mommy ya.." Vano mencium lembut perut Ayra yang terlihat membuncit.


Sepeninggalan Vano dirinya berjalan-jalan di kebun bunganya, puas di sana Ayra memutuskan untuk ke dapur yang ada di bawah tanah.

__ADS_1


Terlihat chef Ronald sedang membuat cake, cekatan dan sangat rapi.


" Nona muda.." sapanya ramah.


" Chef sedang membuat apa..? aromanya wangi sekali.."


" Cake nona, ini ada yang sudah matang mau mencobanya.."


" Tentu.."


Ayra duduk di kursi yang ada di meja barnya, sambil menikmati kue dan melihat chef Ronald mengaduk-aduk adonan.


" Enak sekali chef, boleh ajarkan saya membuatnya..?"


" Kapanpun Nona bersedia saya siap mengajari.."


Kenyang dengan menyantap beberapa hidangan cake, Ayra pun meninggalkan dapur untuk kembali ke kamarnya.


Dirinya membaringkan tubuh di atas ranjang king size miliknya.


***


Perjalanan dari mansion ke kantor Vano terus mengembangkan senyum manisnya, hatinya sedang berbunga-bunga Vano seperti sedang jatuh cinta.


Perasaanya bertolak belakang dengan saat dirinya keluar dari rumah pagi tadi, melihat senyuman istrinya seketika emosi Vano mereda.


Kenapa dirinya baru menyadari sekarang, tidak ada wanita lain yang mampu membuatnya sebahagia ini.


****


Alexa membanting tas yang tadi dibawanya ke atas ranjang, seketika Dion segera terbangun.


" Apaan sih, pulang pulang marah.."


Rencananya membuat Ayra celaka malah Vano semakin memperdulikan, kandungannya juga baik-baik saja.


***


Sepulangnya dari kantor Vano kembali lagi ke mansion, dirinya ingin terus melihat istrinya.


Baru beberapa jam berpisah sudah membuatnya begitu kangen.


Vano membawakan rujak buah untuk istrinya, ini rujak tradisional yang bumbunya masih di ulek. Karena Vano bingung mau bawa apa untuk Ayra, dirumah ini Ayra tidak kekurangan apapun.


Vano masuk ke kamar Ayra dilihatnya kosong tidak ada orang, tapi didalam kamar mandi ada yang lagi mandi.


Ia membuka jasnya dan meninggalkan kemeja kerjanya, kemudian Vano berbaring disofa panjang.


Ayra keluar kamar mandi menggunakan bathrobe dengan bernyanyi kecil, Vano tersenyum melihatnya.


Begitu menyadari ada orang dikamarnya Ayra berteriak..


"Aaaaaa..., Ngapain kamu disini mas."


" Gak apa-apa, dikamar istriku masa tidak boleh.."


Ayra segera mengambil pakaian gantinya dan masuk ke ruang ganti, keluar sudah berpakaian lengkap.


Ayra duduk dikursi didepan meja riasnya, melihat Ayra yang memegang hairdryer Vano segera mendekat.


Ia segera mengambilnya dari tangan Ayra dan mulai mengeringkan rambut istrinya, aroma shampo yang begitu disukai Vano biasanya Vano suka menciumi kepala istrinya.

__ADS_1


Untuk saat ini Vano bisa menahanya, takut jika istrinya semakin marah padanya mengingat hubungannya mulai membaik.


__ADS_2