Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 50


__ADS_3

Siang ini Ayra sudah tiba di London, Ayra akan langsung ke tempat di mana orang tua angkatnya tinggal.


" Yuk, Ayra mau ke toilet sebentar ya..?"


" Iya Non, saya nunggu di sini aja.."


Yuk Darmi menunggu dengan seorang pengawal sedang Ayra membawa satu bersamanya. Seperti biasa pengawalnya selalu jaga jarak dari majikanya.


Saat Ayra berjalan dengan melihat-lihat sekelilingnya tiba-tiba.


Brakkkk....


" Aaaaaa...." Ayra berteriak karena kaget.


" Nona tidak apa-apa.." Untung pengawalnya sigap menangkap tubuh Ayra yang hampir jatuh.


" Hey kalau jalan pakai mata..." Gak tau dia paham atau enggak yang jelas pengawal ini melampiaskan kekesalannya.


" Sorry.." Ucapnya dengan rasa khawatir.


" Sudah gak apa-apa.." Ucap Ayra pada pengawalnya.


" Indonesia..?"


" Ya saya Indonesia.."


" Khayra..." Ayra mengulurkan tangannya pada wanita yang tadi menabraknya.


" Nessa.." wanita itu menyambut ramah uluran tangan Ayra.


" Apa kamu tinggal di sini Nessa..?"


" Iya saya menyelesaikan pendidikan di sini, kamu sendiri khayra..?"


" Aku sedang berlibur, untuk mengunjungi kediaman orang tua ku."


Nessa begitu bahagia bertemu orang yang sama dari negaranya. Ia terus memperhatikan wanita yang barusan dikenalnya.


" Khayra... Kamu sedang mengandung..?"


" Yaaa... " Jawab Ayra dengan menunjukkan perut buncitnya.


" Selamat ya, semoga selalu sehat kalian berdua. Kalau anakku perempuan pasti akan secantik ibunya.."


" Terimakasih Nessa.."


" Mari kita bertukar nomor telepon..?"


" Oke tambahkan aku menjadi temanmu.." Ayra menyebutkan nomor telepon miliknya.


" Ayra lain kali kita bertemu lagi ya, sepertinya pesawatku akan segera berangkat.."


" Oke.. Hati-hati ya Nessa.."


" Kamu juga hati-hati Khayra.."


Keduanya pun berpisah, dan melanjutkan ke tujuannya masing-masing. Kini Ayra sudah berada didepan rumah Papa Anton.


Ting..Tong...


Tak lama pintu yang sejak tadi tertutup berlahan terbuka.


" Wah.. Anakku datang..."


Mama Anna yang bahagia langsung memeluk Ayra hingga enggan untuk melepaskannya.


" Mama Ayra kangen banget.."

__ADS_1


" Mama juga sayang, banget bangettt.."


" Yuk masukk..."


Semua sudah duduk diruang tamu, Mama Anna memencet nomor suaminya.


" Hallo Ma..."


" Pa coba tebak siapa yang datang kerumah kita..?"


" Anak tetangga sebelah.."


Mama Ana menggelengkan kepalanya dan mulai mengarahkan kamera ponselnya ke arah Ayra.


" Hallo Pa.." Ayra melambaikan tanganya.


" Anak Papa beneran datang..?"


" Iya Pa, Ayra datang nie.."


" Tunggu ya Papa pulang sekarang.."


" Hati-hati Pa.."


setelah menutup panggilan teleponnya, Pak Anton bergegas pulang. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putrinya.


" Sayang cucu mama sehat .?"


" Alhamdulillah sehat Ma.."


" Syukurlah, Mama bahagia sekali.."


Setelah 40 menit menempuh perjalanan, kini mobil Papa Anton sudah memasuki halaman rumahnya


" Haii sayang..."


" Pa..."


" Sehat Pa.."


Ayra sedang berbahagia bersama keluarganya, keadaan ini berbeda jauh dengan apa yang dialami Vano.


Sepeninggalan Ayra, Vano banyak menghabiskan waktu berdiam diri. Untuk berbicara dengan orang lain pun rasanya berat, bahkan dengan orang-orang yang ada di rumahnya Vano tidak berbicara.


Hanya Ayra yang mengisi kepalanya, dirinya sedang melamun di balkon kamarnya menyesali semua perlakuannya pada istrinya.


" Aku kira kamu sudah maafin aku Ra, kenapa pergi tanpa pamit. Aku juga kepingin banget menemani kamu melahirkan nanti, aku ingin melihat wajah anakku saat baru dilahirkan. Aku ingin menjadi ayah yang bertanggung jawab, mengumandangkan adzan ditelinganya.."


Semakin jauh memikirkan, semakin sakit perasaannya. Tak terasa air matanya mengalir di kedua pipinya, ia tak mampu menahan kesedihannya.


Tok..Tok..


" Van Lo ada didalam..?"


Tak ada yang menyangkut Han memutuskan membuka pintu kamar Vano, dilihatnya ranjang itu kosong Han pun berjalan ke arah balkon. Ternyata Vano di sana sedang melamun hingga tak menyadari kedatangannya.


Lama Han berdiam diri di sana memandangi Vano dari jauh, di rumah Han terus memikirkan keadaan Vano yang ditinggalkan Ayra.


Membuatnya memutuskan untuk ke rumah Vano melihat sahabatnya, dan benar sekali keadaan Vano benar-benar memprihatinkan.


" Van..." Han berjalan mendekati Vano dan duduk di kursi kosong yang ada di sana.


" Lo Dateng Han..?"


" Gue kepikiran lo terus, di rumah juga nggak tenang please Van Lo jangan kayak gini.."


" Gue nggak tahu harus ngapain, gue kangen ada di samping Ayra. Sekarang gue nggak tahu Aira ada di mana, orang-orang suruhanku juga belum menemukan keberadaan Ayra."

__ADS_1


" Lo harus kuat, bangkit gue yakin lo nggak selemah ini. Urus perusahaan dengan baik, lo banyak ninggalin rekan bisnis kita. Kalau kayak gini terus bisa anjlok usaha kita, Lo buat Ayra bangga.."


" Gue nggak mikirin perusahaan, yang penting istri dan anak gue.."


" Apaaa... usaha yang lorintis dari nol mau lu lepasin gitu aja. Van sadar, pikirkan baik-baik kalau lo jadi kiri bagaimana lo mau biayain anak lu sekolah nanti. Lo mau Ayra ninggalin lo dan lebih memilih Rafa."


" Maksud Lo.."


" Gue perhatikan tatapan Rafa ke Ayra itu beda, tatapan seorang laki-laki yang mengagumi lawan jenisnya. Gue yakin Rafa menyukai Ayra. Kalau dipikir-pikir siapa laki-laki yang nggak suka sama Aira hanya laki-laki yang gak waras."


" Bagaimana sama Lo ."


" Awalnya gue mengagumi Ayra tapi setelah tahu dia lebih suka sama lo. Perasaan itu seperti kakak ke adiknya kayak gue sama Rima.."


Vano mencerna apa yang sahabatnya katakan, ya ada benernya juga kalau gue miskin anak gue mau minta uang sama siapa masa sama orang lain lain.


Han mengajak Vano untuk jalan-jalan cari hiburan biar nggak suntuk. Tapi Vano menolaknya dengan alasan kurang enak badan akibat malam yang nggak bisa tidur.


Han pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya, dan meminta volume memikirkan kembali jika ingin melepaskan usahanya.


Malam ini setelah membersihkan diri Vano masih tetap mengurung diri di dalam kamar. Pukul 19.20 Mama Melly dan papa Reno berkunjung ke rumah putranya.


Tok...Tok..Tok...


" Den Vano..."


Mendengar suara Mang Dadang memanggilnya, Vano membuka pintu kamarnya.


" Den Vano... Ada tuan dan nyonya besar di bawah.."


" Bentar lagi saya turun Mang.."


" Baik Den, Mang Dadang sampaikan.."


Tak lama menunggu Vano pun turun, dan menuju ruang tamu dimana orang tuanya berada.


" Pa.. Ma..."


" Kamu mengapa Van, sakitt...?"


" Enggak Ma, Vano baik-baik aja.."


" Ma.. Ayra pergi kemana..?"


" Mama gak tau Van.."


" Pa..." Giliran Vano memohon pada papanya.


" Papa juga gak tau.."


" Sayang besok Papa dan Mama mau kembali ke new York, jaga kesehatan ya.."


" Kenapa buru-buru sekali Pa Ma.."


" Kasihan Gema kalau ditinggal lama-lama, kamu kan tau cuman Papa mu anak Gema satu-satunya."


" Van.. Berat buat Papa katakan ini, tapi harus Papa katakan daripada nanti dibelakang ada apa-apanya. Apapun yang terjadi sama rumah tangga mu dan Ayra, Ayra akan tetap jadi memantu kami.."


" Pa... Vano gak mau pisah sama Ayra.."


" Van kamu anak Mama dan Papa satu-satunya, Mama pengen dihari tua nanti Mama dan Papa bahagia bersama anak dan cucu mama.."


Mama Mely berkaca-kaca, berusaha menakan kesedihanya. Gak ada orang tua yang menginginkan rumah tangga putranya gagal.


" Maafin Vano Ma, Vano sudah ngecewain Mama dan Papa. Tadinya maksud Vano baik cuman mau bantuin Alexa.."


" Perasaan wanita beda Nak, kalau kamu gak pernah jujur. Keluar bersama wanita lain, buktinya ngasih apartemen Ayra gak tau. Itu lebih menyakitkan saat Ayra mencari tau kebenarannya sendiri dibanding kejujuran dari mulut suaminya."

__ADS_1


Vano benar-benar dibukakan matanya sama kedua orang tuanya, lebih lagi Vano tau bagaimana jahatnya Alexa.


Vano akan berusaha menyembuhkan luka dihati istrinya bagaimana pun caranya. Semoga masih ada kesempatan untuknya menebus kesalahannya.


__ADS_2