Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 41


__ADS_3

Malam hari setelah pulang dari kantor Vano langsung ke kediaman orang tuanya, Vano sengaja datang malam supaya Papa juga dirumah.


40 menit menempuh perjalanan kini mobil Vano memasuki halaman rumah Papa Reno. Vano berdiri didepan rumah ada perasaan ragu untuk masuk, akhirnya ia pun memencet bel.


" Den Vano selahkan masuk Den.." ucap salah satu asisten rumah tangga Papa Reno.


" Hemm..." Vano melangkah masuk.


" Tuan Nyonya.. Den Vano datang.."


" Iya Terimakasih mbok.."


Setelah menyelesaikan makan malamnya Papa Reno dan Mama Mely beranjak ke ruang tamu.


Vano duduk disofa menunggunya.


" Pa.. Ma..." Sapa Vano pada keduanya.


Keduanya hanya diam, dan segera duduk disofa.


" Ada yang ingin Vano bicarakan pada Papa dan Mama.."


" Bicaralah.."


" Maafkan Vano Pa.. Ma.." Vano menundukkan kepalanya karena tak sanggup menatap orang tuanya.


" Kenapa kamu minta maaf, memangnya apa yang telah kamu lakukan.." ucap papa Reno datar.


" Vano salah Pa, Vano udah ngecewain papa dan mama.."


" Kamu sudah cukup dewasa Vano, kamu berhak atas hidupmu. Papa dan Mama sudah mengantarkanmu hingga sebesar ini, selanjutnya terserah kamu."


Mama Mely masih betah dengan diamnya, ia hanya menyimak obrolan ayah dan anak.


" Vano anak Papa dan Mama, sebesar apapun Vano bagi Papa dan Mama Vano tetaplah seorang anak. Bukan begitu kalimat yang sering kalian ucapkan pada Vano."


"Jika kamu sibuk dengan pekerjaanmu pengacara Papa akan mengurus perceraianmu. Lepaskan Ayra kalau kamu tak lagi menginginkannya.." Tiba-tiba dada Vano terasa begitu sesak, seperti tertindih batu besar.

__ADS_1


Vano terkejut dengan ucapan papanya dan segera bersimpuh dihadapan orang tuanya.


" Maafkan Vano Pa, Vano kesini minta bantuan papa supaya Ayra mau kembali. Vano gak mau kehilangan Ayra"


" Bagaimana dengan wanitamu yang lain..?"


" Tidak ada wanita lain dihati Vano Pa.!"


" Bagaimana bisa kamu memberinya apartemen kalau tidak ada hubungan."


" Vano hanya membantunya Pa, gak ada hubungan apa-apa, Semenjak Ayra pergi hidup Vano berantakan. Ada yang hudang dalam diri Vano, kerjapun Vano gak fokus "


" Perbaiki dirimu dan selesaikan masalahmu dengan wanita itu. Papa gak bisa membantu."


Tanpa mendapat dukungan dari kedua orang tuanya, Vano meninggalkan halaman rumah orang tuanya dengan perasaan kacau.


Apa yang harus dirinya lakukan, untuk menemui Ayra pun terhalang tembok yang tinggi dan penjagaan ekstra ketat.


****


Hampir setiap hari Ayra menghabiskan waktu didalam rumah, semua pelayan sangat baik dan begitu membantunya.


Setiap hari Yuk Darmi yang menemani Ayra, hingga Ayra gak pernah memanggilnya untuk meminta bantuan.


" Non Ayra besok waktunya kontrol kerumah sakit lagi. Apa Non Ayra ada yang dikeluhkan..?"


" Bagaimana ada yang dikeluhkan, kan susternya ada disini.." Sambil duduk diatas ranjang Ayra memeluk Yuk Darmi yang ada disampingnya..


"Non Ayra bisa aja.." Yuk Darmi membalas pelukan Ayra dan membelai lembut kepalanya.


" Yuk nanti kalau Yuk Darmi udah tua gak perlu kerja lagi, tinggal lah disini sama Ayra."


" Dulu waktu Non Ayra masih kecil Yuk selalu melamun sendiri. Umur Yuk nyampek gak ya sampai Non Ayra menikah. Sekarang malah ngelihat Non Ayra mau punya anak.."


" Terimakasih Yuk.."


" Sama-sama Non.."

__ADS_1


Tok.. tok...tok....


Yuk Darmi segera berjalan untuk membukakan pintu kamar majikanya


" Ada apa pak Yoseph, masuk aja.."


" Non Ayra ada Den Vano memaksa mau masuk. Penjaga sedang menahanya diluar.."


Ayra hanya terdiam, bingung apa yang harus ia lakukan pada Vano.


" Suruh masuk aja pak Yos.."


" Baik Nona Muda.."


Pak Yoseph memerintahkan penjaga untuk melepaskannya.


" Den Vano boleh masuk, mari ikut saya.."


Vano mengikuti pak Yoseph dibelakangnya, dan berhenti diruang tamu yang sangat besar.


" Duduklah Den, tunggu Nona Muda disini.."


" Terimakasih pak.."


Vano menunggu hampir setengah jam, begitu pintu lift terbuka keluarlah Ayra duduk di kursi roda dengan didorong seorang pengawal.


Setelah berada diruang tamu Ayra meminta penjaga dan para pelayan untuk meninggalkan dirinya berdua saja.


" Ra.. Kasih aku kesempatan untuk berubah, aku ingin memperbaiki semuanya.."


" Apa yang diperbaiki..?"


" Semuanya Ra, sikapku, perbuatanku. Biarkan aku menyembuhkan luka yang telah kuperbuat.."


" Entah lah mas, aku sedang gak mau membahasnya.."


" Please Ra, kasih aku kesempatan terakhir. Aku benar-benar tidak menghianatimu, sungguh.."

__ADS_1


" Aku ingin menjadi ayah yang baik untuk anak kita, aku gak mau anak kita malu memiliki ayah sepertiku."


Nanti akan kupikirkan lagi, rasanya Ayra masih ingin melihat keseriusan Vano. Ia gak mau kejadian kemaren terulang lagi, seperti orang lain dirinya hanya ingin pernikahan sekali seumur hidup.


__ADS_2