
Satu bulan sudah Ayra dan Vano berumah tangga, Ya masih terhitung pengantin baru lah ya..
Sore ini Ayra sedikit cemberut akan ditinggal Vano selama 2 Minggu, Vano akan ke new York ada saudara dari papa Reno yang mau nikahan dilanjutkan ke Singapore bisnis parfum dengan perusahaan pak Adi akan segera launching.
Vano sudah menawari Ayra untuk ikut tetapi Ayra sedang meng handel pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan, Vano janji setelah kepulangan ya dari Singapore mereka akan berbulan madu.
Ke manapun yang Ayra inginkan, itu sedikit membuat mood Ayra sedikit membaik.
Selama kepergian Vano, Ayra akan ditemani Rima dirumahnya. Mengingat papa Reno dan mama mely sudah berangkat ke new York 2 Minggu yang lalu.
"Sayang nanti aku dari Singapore mau minta oleh-oleh apa."
"aku gak minta oleh-oleh yang aku minta kamu cepet pulang." tangan Ayra menangkupkan kedua pipi suaminya.
"ih... so sweet banget sih istriku."
Vano segera menyambar bibir Ayra, Ayra yang terkejut dengan ulah Vano hanya diam mematung.
Vano yang ngerasa tidak ada penolakan dari istrinya segera melancarkan aksinya, Ayra membalas perlakuan Vano.
Malam panjang dilalui keduanya dengan penuh kenikmatan berulang-ulang.
"Udah Van aku capek.." ucapnya dengan mata terpejam.
"ini hukuman untukmu karena berani memanggil suamimu dengan nama."
Seketika Ayra langsung membuka matanya, menatap Vano yang sedang menatapnya. Manik mata keduanya bertemu, "emang salah ya..?"
"jelas salah donk, panggil suamimu dengan panggilan yang enak didenger. Honey, sayang, cinta, bebeb, darling.. "
Ayra menatap Vano dengan tatapan sedikit aneh..
"Aku panggil mas aja gimna..?"
"Yang lebih spesial gak ada.?
"Iya nanti aku pikirkan.."
Selesai melakukan ritual malamnya keduanya tertidur dengan saling berpelukan, seakan Vano akan pergi bertahun-tahun.
Matahari sudah menyapa, kedua pasangan halal itu masih belum beranjak dari tempat tidur. Ayra yang sudah membuka matanya seakan enggan untuk beranjkak, masih ingin terus disamping suaminya.
Jam menunjukkan pukul 9 pagi keduanya sudah rapi, Vano yang akan keluar negeri dan Ayra mengantarkan ke bandara.
Berat rasanya melepas suaminya pergi, tapi apa daya Vano akan melakukan perjalanan bisnis.
Sebagai istri harusnya mendukung suaminya...
"Dua minggu hanya sebentar, Vano akan segera kembali.." Batinya.
Setelah sarapan Vano ,Ayra, mang Dadang menuju bandara. Han dan Rima sudah menunggunya disana
"Sayang mas berangkat dulu ya,." Vano membawa tubuh istrinya kedalam pelukan.
"Hati-hati bee.. salam sama papa dan mama.."
Vano menghujani pucuk kepala istrinya dengan ciuman sayang, Ayra memeluk Vano dengan erat. Setelah Ayra mencium punggung tangan suaminya, dan Vano mencium kening istrinya Vano segera check in.
"kak Han titip suamiku ya.." Ayra berteriak pada asisten Han.
__ADS_1
Han menatapnya dan mengacungkan kedua jempol pada ayra, tersenyum kemudian berbalik mengikuti Vano.
"Ih... ditinggal sebentar kayak gak rela banget." goda Rima.
"Iya nie Rim, gue ngarasa berat banget ngelepas Vano pergi."
"Diajak gak mau, ditinggal nangis." celetuk Rima.
"Apaan sih gak sampai nangis juga kali."
"mau langsung pulang atau mampir kemana dulu Non.." ucap mang Dadang setelah Ayra dan Rima masuk kedalam mobil.
"Mau ketemu temen dicafe yang dijalan xx dulu mang."
"Baik Non."
Rima dan ayra memasuki cafe dan matanya menangkap sosok yang ia cari, Roby sudah menunggunya dari 10 menit yang lalu.
"Hi Rob.." Sapa Ayra dan Rima hampir bersamaan.
"Enak nie yang udah nikah, kemana-mana ada yang nganterin..!" goda Roby.
"Enak, punya guling hidup. Lo kapan nyusul.."
Cukup lama mereka nongkrong dicafe itu, hari sudah semakin sore Rima dan Ayra pamit undur diri. Roby juga harus kembali kerumah sakit.
Sore sekitar pukul 5 Ayra dan Rima sudah tiba dirumah Reno, dari dapur bik yem melihat kedatangan majikanya segera menghampiri.
"Sore Non Ayra, non Rima. Non Rima kamarnya sudah bik Yem siapkan ." Sapa bik Yem ramah.
"Terimakasih bik.."
"Mbok Yem masak apa, baunya enak bnget.."
"Masak sop ikan Non, Non Ayra mau makan sekarang atau nanti."
"Nanti aja mbok masih kenyang, Nanti malam kita makan sama-sama mbok."
"Gak usah Non, bibik jadi gak enak.."
"gak apa-apa, nanti gelar karpet aja bik. Biar lebih santai.."
Ayra pun menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamarnya, sedangkan Rima dikamar tamu.
Setelah bersih-bersih Rima menyusul Ayra ke kamarnya, dilihatnya Ayra sedang duduk disofa menonton tv.
"Ra gue masuk ya." Tidak ada jawaban dari Ayra, Rima mulai mendekati sofa.
"Eh Lo Ra ngelamun aja.."
"Ada apa sih Rim, ngagetin aja."
"Sore-sore gini ngelamunin apaan sih Lo Ra."
"Kamar sepi banget mas Vano gak ada.."
"Sama Ra, semenjak Lo gak tinggal di apartemen kamar gue sepi banget..!"
"Ya iyalah elo belum kawin gimana gak sepi."
__ADS_1
"Hehehe.... Bener juga Lo Ra."
Keduanya memutuskan untuk turun kebawah, dan makan malem bersama semua penghuni rumah.
Mbok Yem, mang Dadang, Mbah saroh, Mbak Tini, pak satpam rame banget.
Makan malam yang sederhana tapi begitu terasa nikmat bagi khayra, ditempat yang berbeda Vano menatap layar ponselnya dengan senyum yang mengembang.
Memperhatikan setiap tinggah istrinya, Han yang melihat Vano tersenyum sendiri menatap aneh pada bosnya itu.
Han adalah saksi perjalanan cinta Vano, mulai dari Vano yang begitu terpuruk karena kepergian Alexa dan sekarang Han harap Vano bahagia bersama Ayra.
Vano akan berada di new York selama 2 hari, setelah itu langsung ke Singapore. "Semoga pekerjaannya bisa selesai sebelum yang ditargetkan. Bisa segera pulang menemui istrinya."
****
Karena ini adalah malam Minggu Ayra dan Rima hanya melewatinya dengan menonton film dilaptop, hingga dini hari keduanya tertidur dikamar Rima.
Vano menghubungi Ayra puluhan kali gak ada yang tersambung sekalipun, suara operator mengatakan nomor yang anda tuju sedang diluar jangkauan.
Akhirnya Vano memutuskan menghubungi mang Dadang, pada panggilan pertama langsung terhubung.
"Hallo Den Vano,." Suara diseberang sana terdengar ramah.
"Mang... Khayra dimana, kenapa dihubungi gak bisa..?"
"Ada di kamarnya Den, Non Ayra belum turun. Mungkin karena semalam nonton film sampai pagi. Mau mang Dadang panggilkan Den..?"
"Hp mang Dadang kasihkan Ayra sebentar, aku mau ngomong"
Dari halaman depan mang Dadang segera berlari masuk ke dalam rumah, dan menaiki tangga menuju lantai 2 dimana kamar majikanya berada.
Tok tok tok...
"Non Ayra..."
Tok tok tok...
"Non ada telpon dari den Vano."
Begitu pintu kamar terbuka mang Dadang segera menyerahkan ponsel yang ada ditanganya kepada istri majikanya.
"Hallo bee.."
"Sayang kemana aja, kenapa hp nya gak aktif.?
"Maaf sayang lupa, ponselku kehabisan baterai. Lupa gak di charge..?
"Sayang dapet salam dari papa dan papa hati-hati dirumah katanya. Mas juga mau ngabarin nanti malam mas bertolak ke Singapura."
"Walaukumsalam.... Mas juga hati-hati ya, jaga diri baik-baik, jaga pandangan dan jaga hati."
"Banyak amat yang harus dijaga.." Vano terkekeh dengan sikap istrinya.
"Masih ada lagi, jaga perasaanku juga."
"Iya iya sayang,.. Udah dulu ya mas mau siap-siap.."
Tutttt..... panggilan pun terputus. Ayra segera menuruni tangga untuk mengembalikan ponsel pada mang Dadang.
__ADS_1