Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 61


__ADS_3

Siang ini Nessa melajukan mobilnya dijalanan yang tidak terlalu ramai, sesekali ia melirik layar yang ada disebelah kemudi.


Dirinya mengikuti petunjuk yang ada disana, rute sesuai yang dikirimkan Vano padanya semalam.


Laju mobilnya berlahan melambat, dan berhenti di sebuah toko baby shop yang cukup besar.


Setelah parkir Nessa turun dari mobil dan memasuki toko.


" Ada yang bisa saya bantu Nona..?" Sapa salah seorang pegawai toko tersebut.


" Saya mau nyari kado mbak.."


" Untuk anak cewek atau cowok kalau boleh tau.."


" Cewek baru lahir 5 hari yang lalu.."


" Mari Nona.."


Nessa berada diruangan yang menyediakan banyak bingkisan khusus anak perempuan, yang di dominasi warna pink muda.


Terlalu banyaknya membuat Nessa menjadi bingung karena semua bagus, kini pandangan nya tertuju pada sebuah set baju dengan sepasang sepatu dan bando.


" Mbak mau lihat yang itu..." Nessa menunjuk ke arah pakaian tersebut.


" Saya ambilkan Nona.."


Pegawai itu mengambil dan menyerahkan pada Nessa, Nessa merasa cocok dan memasukkan pada keranjang belanja.


Nessa juga membeli bantal menyusui dengan motif sapi, terlihat lucu dan menggemaskan.


Setelah memasukkan beberapa barang Nessa menuju meja kasir untuk membayar barang belanjaannya.


Kini Nessa sudah berada di dalam mobil, saat dirinya menoleh ke belakang terdapat banyak hadiah untuk anak Vano dan bouquet bunga untuk istri Vano di jok belakang.


Senyum tipis menghiasi wajah cantiknya.


Sebuah mobil terparkir di depan gerbang, seorang scurity datang menghampiri dan Nessa menurunkan sedikit kaca mobilnya.


" Maaf Nona mau nyari siapa..?"


" Mas Vano, saya datang mau mengunjungi bayinya.."


" Silahkan masuk Nona.."


Security itu berlari dan membuka pintu gerbang lebar-lebar dan Nessa memarkirkan kendaraanya di halaman sesuai petunjuk Scurity itu.


Nessa melangkah kan kakinya memasuki pintu utama mansion.


" Selamat siang Nona ada yang bisa saya bantu..?" Ucap pak Yoseph dengan ramah.


" Siang pak, saya mau mengunjungi anggota baru di keluarga ini.."


" Silahkan Nona saya antarkan naik ke atas.."


Pak Yoseph membawa Nessa memasuki pintu lift dan naik ke lantai 3.


" Maaf Nona kalau boleh tau saya bicara dengan siapa..?"


" Saya Nessa pak.."


" Saya panggilkan sebentar Nona, silahkan duduk.." Pak Yoseph meminta Nessa menunggu di sofa tamu yang tidak jauh dari kamar majikanya.


Tok..Tok...Tok...


" Nona muda ada Nona Nessa diluar.."


" Suruh masuk pak Yosh.." teriak Vano dari dalam.


" Susah Den.."


" Ia tunggu sebentar.."


" Nessa siapa mas.."


" Itu yang lagi Deket sama Han.."


" Oh..." Ayra mengangguk-anggukan kepalanya.


" Sini biar Shireen mas yang gendong.."


" Iya mas.."


Ayra menyerahkan Shireen pada suaminya dan membenahi pakaiannya setelah menyusui.


Vano keluar kamar lebih dudu dengan membawa Shireen.


" Udah lama kamu Ness...?"


" Enggak mas baru aja datang kok..."


" Hai cantik... Namanya siapa...?"


" Shireen Tante..." Kedua orang ini tertawa mendengar Vano menirukan suara anak kecil.


" Istri mas Vano kemana...?"


" Masih di dalam bentar lagi keluar.."


Terdengar suara pintu kamar terbuka dan Ayra berjalan pelan ke arah sofa.


" Tu istriku kenalin.."


Nessa menoleh ke arah dimana Vano menunjuk.

__ADS_1


Kedua wanita ini terdiam sesaat.


" Nessa... Kamu..!"


" Ayra.... Jadi kamu istrinya mas Vano.."


" Kalian udah saling kenal...?"


"Udah ..!" Jawab keduanya bersamaan.


Nessa dan Ayra saling berpelukan..


" Ternyata waktu kembali mempertemukan kita.."


" Iya maaf, belum sempet ngabarin kalau aku sudah di Indonesia.."


" Ayo silahkan duduk..."


Keduany asik bercerita dengan Vano yang hanya sebagai pendengar, bosan berada disana Vano membawa Shireen berjalan-jalan dilantai bawah.


" Biar sama saya aja Den.."


" Iya mbak, tidurkan dalam box aja.."


" Baik Den.."


Pengasuh itu membawa Shireen ke kamar bayi dan menidurkannya disana.


" Terimakasih ya Ness kamu datang kesini pakai bawa barang banyak banget lagi.."


" Kalau aku tau istri mas Vano itu kamu dari kemaren aku datengnya.."


" Ooo... Jadi gitu, Oia kamu lagi Deket sama kak Han ya..?"


" Pasti mas Vano yang cerita, dasar ember..."


" Udah gak usah malu, aku dukung 100%.."


" Ayra...." Nessa berteriak..


Ayra tertawa cekikikan melihat Nessa malu ia ledekin terus.


" Han kan udah punya pacar.."


" Siapa yang bilang..?"


" Aku tau sendiri Ra, aku lihat mereka mesra banget. Malah kaya suami istri.."


" Mungkin kamu salah lihat Ness.."


" Enggak Ra, mataku masih normal.."


Vano datang menghampiri kedua wanita yang sedang asik mengobrol.


" Ayo makan dulu udah siang.."


" Nessa makan nanti aja mas.."


" Ayo sekarang, kapan lagi kamu makan disini.."


Nessa yang sedang lapar akhirnya mau diajak makan bersama, di meja makan yang sangat besar dengan berbagai macam hidangan tersaji disana.


Selesai makan Ayra pamit duluan.


" Ness jangan pulang dulu ya, ngobrol sama mas Vano ASI ku penuh mau mompa dulu.."


" Iya aku nungguin kamu selesai, eh ngomong-ngomong boleh lihat gak Ra. Kan aku juga cewek nanti bakalan jadi ibu kayak kamu..."


" Ayo..."


Nessa dan Ayra memasuki kamar milik Ayra, Nessa duduk didepan Ayra dengan terus menatap apa yang sedang Ayra kerjakan.


Mulai dari persiapan hingga proses memompa ASI yang Ayra lakukan tidak lepas dari pengamatannya.


" Sakit gak sih Ra...?"


" Sakit banget Ness kalau penuh, rasanya cenut-cenut tapi kalau udah di pompa gini lega.."


" ASI mu melimpah ya.."


" Iya udah gak perlu tambahan susu lagi, Shireen jadi anteng tidurnya mabok ASI dia.."


" Pantesan gembul banget pipinya Shireen, jadi makin gemes aku lihat.."


****


Sepulang dari kantor Han meluncur ke mansion ada beberapa berkas yang harus Vano tanda tangani.


Saat mobil Han masuk halaman ia melihat mobil merah terparkir disana.


" Seperti mobil Nessa..."


Han segera melangkah memasuki mansion, Vano sudah menunggunya dibawah.


" Mobil siapa di depan Van.."


" Pakek nanya lagi, mobil Nessa gitu. Pura-pura pikun Lo ya.."


" Terus orangnya dimana..?"


" Ada dikamar sama Ayra.."


" Boleh aku naik..."

__ADS_1


" Enak ajak..."


Plak...plak...


Vano memukul Han menggunakan berkas yang dirinya pegang.


" Apaan sih Lo Van..."


" Ayra lagi mompa ASI, seenaknya Lo mau lihat. Ku congkel bola matamu..."


" Mana aku tau kalau Ayra lagi mompa ASI, kali aja boleh ngintip dikit.."


" Ngintip aja Sono, aku pastikan kamu keluar dari sini dalam kondisi buta.."


Han yang membayangkan apa yang akan Vano lakukan padanya bergidik ngeri.


" Sadiss...."


" Apa Lo bilang ulangi..."


" Gadis gue bilang, Nessa masih gadis.."


" Dari mana Lo tau Nessa masih gadis, emang Lo pernah ngerasain.."


" La dia belum menikah, kan masih gadis. Masa udah janda.."


" Bye.. Ra aku pulang dulu ya.." Nessa keluar dari dalam lift dan melambaikan tanganya pada Ayra.


" Sering-sering main kesini ya..."


" Siap pasti..."


" Ness..."


Nessa terkejut tiba-tiba Han berada di belakangnya dengan memegang bahunya.


" Kamu.. Ngapain disini..?"


" Nganterin berkas yang harus di tandatangani Vano.."


" Ness aku butuh penjelasan.."


" Penjelasan apa lagi sih Van, aku rasa tidak ada yang perlu dijelaskan.."


" Ness kenapa kamu jauhin aku, salahku apa..?"


" Kamu gak salah Han, aku yang salah.."


" Maksud mu apa..?"


" Udah aku mau pulang.." Nessa berlalu pergi meninggalkan Han yang berdiri didepanya.


" Mas Vano, Nessa pulang.."


" Hati-hati Ness.."


" Oke..."


Nessa berjalan cepat keluar mansion.


" Han kok malah bengong, kejar kalau kamu memang suka.."


Han yang tersadar segera berlari mengejar Nessa yang ada dihalaman.


Nessa membuka pintu mobil dan masuk, Han membuka pintu bagian kiri dan segera masuk ke dalam mobil Nessa.


" Apa-apaan kamu Han..?"


" Ness aku butuh penjelasan, kenapa kamu berubah kaya gini.."


" Keluar Han, keluar aku bilang.."


" Ness please jangan kaya gini, semua ada sebab akibat.."


Nessa hanya diam, dadanya naik turun menahan kekesalan pada Han.


" Terakhir kali kamu berulang kali menghubungi ponselku, masa kamu marah. Aku lagi keluar dan ponselku ketinggalan.."


" Teruss..."


" Pas aku udah dirumah, aku coba hubungi kamu tapi gak ada jawaban."


" Kamu gak sadar aku ada di mall yang sama denganmu waktu itu.."


" Sungguh aku gak tau, kalau aku tau pasti aku samperin kamu.."


" Yakin mau nyamperin aku, sedangkan kamu bersama seorang wanita."


" Jadi kamu kesel sama aku, harusnya kamu samperin aku. Biar aku kenalkan sama adik ku Ness.."


" Dia adikmu.."


" Iya namanya Rima, sahabatnya Ayra. Kalau kamu gak percaya bisa tanya Ayra sama Vano.."


Nessa merasa malu pada dirinya sendiri, kenapa tidak ia selidiki dulu sebelum memutuskan komunikasi sama Han.


Han meraba saku nya dan mengambil ponsel dari dalamnya. Ia membuka galeri dan mencari foto dirinya dan Rima.


" Apa ini wanita yang kamu maksud Ness.."


Nessa mengamati foto dilayar ponsel milik Han, meski ia tidak mengenalnya tapi dirinya tidak lupa wajah wanita yang ada di mall bersama Han.


" Iya..."

__ADS_1


" Nanti lain kali aku kenalin ya, dia Rima adikku. Kemaren Rima minta di anterin nyari kado untuk calon anak Ayra."


Han menceritakan semua pada Nessa, Nessa hanya diam mendengarkan. Sesekali memberi tanggapan walaupun hanya sedikit-sedikit.


__ADS_2