
Sore ini Rima mendatangi mansion bersama Roby, Rima ingin memberikan Ayra kejutan atas kemenangan mengalahkan pelakor.
Roby pun setuju dengan ide yang Rima usulkan, mobil Roby memasuki halaman mansion Rima turun dengan membawa banyak barang begitu juga dengan Roby.
" Pak Ayra di mana ya..?"
" Mungkin di kamarnya Non, biasanya Nona Muda turun saat makan malam.."
Rima menyiapkan kejutan di ruang tamu, dibantu beberapa pelayan. Mereka mendekorasi ruang tamu seperti taman penuh lampu warna-warni.
Setelah selesai Rima dan Roby naik ke lantai atas di mana kamar Ayra berada, kondisi ruang tamu gelap semua lampu dimatikan.
" Ra... Lo ada di dalam..?"
" Masuk aja.." teriak Ayra
" Gue sama Roby loh.."
" Iya masuk aja.."
" Haiii..." Rima menyapa sahabatnya dengan heboh.
" Akhirnya kalian ke sini juga gue kesepian tauu.."
" Spesial buat lo hahaha.." Rima tertawa renyah.
" Tumben lo gak kerja Rob, biasanya nggak ada libur.."
" Tadi gue jaga pagi tahu.."
Tiba-tiba semua lampu di mansion mati, Ayra merasa ada yang aneh.
" Wda apa nih, biasanya nggak pernah lampu mati.."
" Lu nggak bayar listrik kali.."
" Enak aja.."
" Kalian di sini dulu biar gue lihat keluar.."
Roby berjalan keluar kamar dengan mematikan saklar lampu kamar Ayra, di luar Roby juga mematikan beberapa lampu dibantu para pelayan.
Ketika semua lampu dimatikan hanya lampu yang mereka pasang tadi, sungguh sangat indah yang berwarna-warni.
Roby pun masuk ke kamar kembali untuk membawa Ayra keluar.
" Mati lampu ternyata, ayo kita keluar aja."
" Lu pegangin tangan gue sama Rima ya Ra..?"
" Hati-hati.."
Ketiganya bergandengan tangan keluar kamar, Ayra melihat ke bawah dengan lampu yang sangat indah.
SELAMAT YA MAMA UTUN
Seperti itu tulisan yang tertulis di sana, Ayra tersenyum memandang wajah kedua sahabatnya secara bergantian. Kini ketiganya saling berpelukan, Ayra terharu dan menitikkan air mata.
" Lo nggak sendiri Ra, kita selalu ada.."
" Terima kasih ya, kalian emang terbaik.."
Ketiganya pun turun dan duduk di ruang tamu Ayra benar-benar menangis bahagia. Ternyata chef Ronald sudah menyiapkan banyak makanan.
" Ayo kita makan sekarang..?"
__ADS_1
" Bentar kita lagi nunggu yang lain.."
Ayra mengernyitikan dahinya, Ia pun setuju untuk menunggu. Tak lama terdengar suara mobil dan masuklah dua orang di mansion, Ayra yang melihat langsung berjalan menghampiri dan berhambur ke pelukan Mama Melly.
" Maafin Ayra mah.. Pa.. harusnya Ayra yang ke rumah mama dan papa.."
" Nggak apa-apa sayang, mama dan papa pengen lihat di mana anak mama tinggal.."
" Mari Pa.. Mah.. silakan duduk."
Tak lama disusul Kak Han dan Rafa juga datang, mereka tidak janjian hanya bertemu di depan mansion.
Kini semua tamu Ayra dan para pekerja di rumah makan malam bersama. Diselingi obrolan-obrolan ringan, setelah selesai semua kembali ke ruang tamu.
" Besok berangkat jam berapa nak..?"
" Jam 09.00 pagi Pa.."
" Papa dan Mama langsung ke bandara ya..?"
"Iya Pa.."
" Ra.. di manapun berada jaga kesehatan.."
" makasih Kak Han.."
Pukul 23:00 semua tamu sudah pulang ke rumah masing-masing.
" Pak Yos, sudah siap semua yang mau dibawa..?"
" Sudah Non, Pak Yos jamin nggak ada yang ketinggalan.."
" Istirahat dulu ya pak.."
" Silakan Nona muda.."
" Yuk istirahat dulu.. Kan besok mau pergi.."
" Bentar lagi kelar kok non.."
" Ayra mau naik dulu.."
" Iya Non silahkan.."
Ayra yang memandangi koper besar miliknya dan tas kecil yang berisi make up dan barang-barang kecil lain.
" Sayang kita akan jalan-jalan ketemu nenek dan kakek ya.."
Ayra berbicara pada anaknya, seolah bisa mengerti bahasa ibunya Ia pun menendang sebagai jawaban.
Tepat pukul 04.00 Ayra sudah bangun, ia membersihkan diri dan salat subuh. Ayra turun ke bawah, Pak Yosep sudah ada di sana.
" Ayo Pak Yos sarapan dulu mana yuk Darmi..?"
" Yuk Darmi lagi ngasih barang non.."
Tepat pukul 06.00 Ayra bertolak ke bandara, di sana sudah ada Rima, Robi, Rafa, Kak Han dan orang tua Vano.
Pesawat akan berangkat tepat pukul 08.30 pagi ini.
" Sayang jaga cucu mama ya..? Ayra juga jaga kesehatan nanti kita ketemu di new York.."
" Iya Ma.. Mama juga jaga kesehatan.."
" Pa Ayra berangkat dulu.."
__ADS_1
" iya sayang hati-hati.." Ayra memeluk ayah mertuanya.
" Hati-hati ya Ra.."
" terima kasih Kak Han, cepet nikah ya ntar Ayra pulang harus udah punya calon.."
" Do'ain dong.." keduanya tertawa.
" Lu jangan betah-betah di sana, entar gue nggak ada temennya di sini.."
" Tuh ada Roby.." Aira dan rima berpelukan.
Kini Ayra sudah di ruang tunggu bersama yuk Darmi dan dua pengawalnya.
Beberapa hari ini Vano memang tidak ke mansion, Vano merasa malu untuk bertemu sama Ayra.
Karena ini hari minggu selalu memutuskan untuk datang. Seperti biasa Vano memarkirkan mobilnya di halaman Manson, Pak Yosep yang melihat kedatangan Vano bingung apa yang harus ia katakan pada suami majikannya.
" Pagi Den Vano..?"
" Pagi Pak Ayra nya ada..?"
" Memang den Vano nggak tahu Nona muda pergi ke luar negeri."
" Kapan...?"
" Barusan Den pesawat jam 09.00."
Tanpa berpikir panjang Vano segera menaiki mobilnya dan melaju ke bandara. Setibanya di bandara Vano bertemu orang tuanya Han, Rima, Rafa dan Roby semua masih lengkap di sana karena Ayra memang baru naik ke ruang tunggu.
" Ma.. Ayra dimana..?" Vano ngos-ngosan karena berlari.
" Ayra sudah berangkat Van.."
Seketika Vano menjatuhkan tubuhnya ke lantai, kakinya tidak kuat untuk menopang tubuhnya. Vano terduduk dan menangis sejadi-jadinya, semua orang yang lewat melihat ke arah Vano.
" Ra.. kenapa kamu ninggalin aku Ra.. aku salah aku minta maaf.."
Semua yang melihat Vano menangis merasa iba, orang tua Vano berharap semoga Vano benar-benar berubah.
" Van ayo kita pulang.." Ucap Mama Mely.
Mama Mely ikut menangis melihat anaknya, Papa Reno hanya diam tanpa berkata-kata.
" Vano mau bawa Ayra pulang Ma, Vano udah berubah Vano gak akan ninggalin Ayra lagi.."
Vano terus menangis dipelukan mamanya
" Iya sayang Mama tau, anak Mama sudah berubah.."
Dengan bujukan dari semua orang akhirnya Vano memutuskan untuk pulang, Han yang akan membawa mobil dan mengantarkan Vano sampai rumahnya.
" Han.. Ayra kok gak bilang kalau mau pergi..?"
" Aku juga gak tau Van, Rima kemaren sore ngabarin nyuruh gue ke mansion ternyata ada pesta kecil-kecilan.."
Han juga ngrasa gak enak sama Vano, kasihan juga melihat Vano yang begitu terpukul.
" Berapa lama Ayra akan pergi..?"
" Kurang tau, mungkin setelah anak kalian lahir.."
" Apaaa...."
Vano kembali meneteskan air mata, Han hanya diam bingung apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
" Gue gagal jadi ayah, gue nelantarin istri dan calon anak gue gitu aja..."
Vano yang terisak terus saja mengungkapkan perasaanya, Han hanya jadi pendengar dan sesekali menjawab sekiranya tau.