
Yuk Darmi dan seorang pelayan yang menunggu selama Ayra dirumah sakit. Sedangkan didepan ruangan rawat beberapa laki-laki berbadan tegap yang sedang berjaga-jaga.
" Ra gimana keadaanmu.." Roby yang datang untuk melakukan pemeriksaan.
" Sudah lebih baik Rob, terimakasih yaa.. Kayaknya juga darahnya udah gak keluar lagi. Boleh pulang hari ini..?"
" Ini adalah ruang rawat terbaik dirumah sakit ini, udah mirip hotel berbintang masih gak betah juga.." Candaan Roby pada sahabatnya.
" Senyaman-nyamanya dirumah sakit ya lebih nyaman dirumah sendiri lah.."
Ya beginilah kalau pasien dan dokter temen nongkrong. Ngrasa lagi ditungguin sahabat sendiri, karena setiap senggang pasti datang ke ruangan.
Asisten Roby mencatat semua pemeriksaan yang dokternya lakukan, untuk melengkapi rekam medisnya.
Tok..Tok..Tok...
" Selamat pagi Nona muda.." Rima datang bersama kakaknya.
" Ra gimana keadaanmu..?" Sambil meletakkan buah yang tadi dibawanya.
" Udah lebih baik kak Han, terimakasih ya Kak udah bersedia direpotin teruss."
" Hem.. Kita kan keluarga gak perlu sungkan.."
Roby pamit undur diri dari ruang rawat Ayra, dirinya masih harus keliling ke pasien-pasien yang lain.
Tak lama datang papa Reno dan Mama Mely, karena hari ini memang hari libur.
Mama Mely membawakan beberapa makanan kesukaan menantunya.
" Gimana Nak, sudah lebih baik..?"
" Sudah Pa, terimakasih Pa Ma..!"
" Syukurlah.. Obat yang paling mujarab adalah hati yang bahagia oke.."
Ayra mengangguk membenarkan perkataan mertuanya, semua yang ada disana larut dalam obrolan.
" Sayang membina hubungan rumah tangga itu kadang manis kadang juga pahit. Kita harus yakin ujian ini akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.."
" Ayra sangat faham Ma, bagaimana kalau manisnya mengandung racun..?" Awan yang sejak tadi mendung akhirnya turun hujan.
Semua orang terdiam, Mama Mely juga ikut menitikkan air mata.
" Apapun yang terjadi pada kalian nanti, Ayra tetap jadi anak Mama yaa..?"
Mama Mely menepuk-nepuk punggung tangan Ayra dengan telapak tangannya. Diakhiri dengan pelukan sayang antara anak dan ibunya.
Hari sudah menjelang siang Papa Reno dan Mama Mely pamit pulang dulu, diikuti Rima dan kak Han juga undur diri.
" Yuk semua orang dimansion jangan ada yang ngabarin Papa Anton ya, rahasiakan kondisi Ayra.."
" Sudah Non, Kemaren pas Non Ayra ngabarin pak Yoseph langsung mengumpulkan para pelayan.."
Vano datang kerumah sakit dengan membawa bouquet bunga mawar merah yang sangat indah. Dirinya melangkah dengan gaya cool nya.
__ADS_1
Vano tidak menghiraukan beberapa orang yang berdiri didepan ruang rawat istrinya.
" Maaf anda dilarang masuk..!" Ucap salah satu diantara mereka.
" Anda salah orang, aku suaminya.." Jawab Vano dengan percaya diri.
" Ya anda dilarang masuk, Nona muda tidak ingin bertemu dengan anda."
Setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya Vano mengalah dan pergi meninggalkan ruangan dengan perasaan kesal.
Sebelum pergi ia menitipkan bunga pada pengawal tersebut.
" Nona ada titipan bunga dari Tuan Vano.."
" Letakkan saja disana.." Ayra menunjuk sebuah nakas yang tak jauh dari tempat tidurnya.
Yuk Darmi dan seorang pelayan yang melihat hanya diam, tanpa berani bertanya apapun.
***
Seorang wanita yang terus mengomel dan membuang beberapa barang dilantai apartemennya.
" Kamu kenapa sih Beb, marah-marah Mulu dari kemaren. Biasanya habis ketemu Vano Heppy banget.."
" Heppy apanya, yang ada aku tu kesel bangettt. Bisa-bisanya Vano nyuekin aku teruss.."
" Dia kan punya istri Beb, ngapain sih emang aku kurang apalagi..?"
" Ya banyaklah kurangnya kamu, katanya anak orang kaya mana buktinya. Sekarang malah jadi kere kayak gini.."
" Puncak khayalan maksudnya.." Alexa pergi masuk ke kamar mandi.
Dinginnya air shower sedikit mengurangi panas didalam kepalanya.
Menyesal pasti, harusnya dulu dia berusaha meyakinkan orang tua Vano, bukanya malah termakan rayuan Dion. Mengingat dulu Vano sangat mencintainya.
Andai sekarang dirinya menikah dengan Vano, alangkah bahagia hidupnya saat ini. Tanpa harus bekerja pun Vano bisa menjamin hidupnya dan keturunannya, Lihat aja karirnya jatuh dirinya masih harus pontang-panting cari kerjaan.
Alexa menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam bathub.
Kenapa sekarang gue yang disalahin, aku sudah menghabiskan banyak uang buat nurutin gaya hidupnya.
Terbiasa dengan kemewahan membuat Alexa gak bisa hidup susah. Tiap hari hanya mengomel terus, panas telinga Dion mendengar ocehannya.
***
" Selamat sore Nona muda...?"
" Apaan sih Rob..."
Robi tertawa puas melihat kekesalan dimuka Ayra.
" Aku membawa kabar baik dan buruk, mau dengar yang mana dulu.." Roby terlihat serius.
Ayra terlihat cemas, begitu juga dengan Yuk Darmi.
__ADS_1
" Kabar baik dulu aja deh, siapa tau kabar buruknya berubah menjadi baik.."
" Kabar baiknya, hari ini kamu sudah diperbolehkan pulang. Tetapi harus bedrest dirumah, gak boleh banyak gerak dulu. Kalau dirumah gak bisa diem, Lo balik aja bedrest dirumah sakit lagi.."
" Diem nya masih boleh bernafas kannn.."
" Emang selama Lo disini gak bernafas apa,.."
" Bernafas tapi sangat pelan, karena Lo dokter yang over protektif banget.."
" Semua kan demi kebaikan Lo juga, dan ponakan gue tentunya.."
" Oke oke... Terimakasih, lanjut kabar buruknya.."
" Hemzzz... Maafin gue Ra, rasanya gak tega mau ngomong.."
" Parah banget ya Rob. Perasaan gue baik-baik aja. Apa mungkin pemeriksaanya salah."
" Lo udah siap dengerin penjelasan gue Ra.."
" Siap gak siap, ayo dong jangan bikin gue mati berdiri karena penasaran.."
" Kabar buruknya adalah, gue harus kehilangan seorang pasien yang bawel dan cerewet kayak Lo.."
Hahaha.... Roby tertawa puas setelah berhasil mengerjai Ayra.
Dan... Buukkkkk..
Ayra melemparkan bantal tepat mengenai muka Roby. Seketika tawanya langsung sirna.
" Apa-apaan sih Ra.."
" Ngapain Lo tertawa merem.."
" Ya karena gue sangat menjiwai lah.."
" Lo seneng kalau gue mati karena jantungan.."
" Iya iya maaf, cuman mau kasih kejutan aja."
Yuk Darmi yang mendengar penjelasan dokter Roby bernafas lega, artinya tidak ada yang menghawatirkan pada majikanya.
Yuk Darmi dibantu beberapa pengawal membereskan semua barang, dan membawanya ke parkiran untuk dimasukkan kedalam mobil.
Setelah semua barang sudah masuk mobil, Yuk Darmi kembali lagi untuk membantu majikanya.
Beberapa pengawal membantu mengangkat Ayra untuk duduk diatas kursi roda dan mendorongnya hingga parkiran.
Setelah semua orang masuk ke dalam mobil, supir pun membawa mobil itu meninggalkan rumah sakit.
Sejak tadi pergerakan Ayra selalu dipantau seseorang dari dalam mobilnya, mobil itu pun berjalan mengikuti mobil yang membawa Ayra.
Ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk mencari tau keberadaan Ayra, orang kepercayaannya telah pergi kini dirinya yang harus lakukan sendiri.
Sekitar 35 menit berjalan kini mobil sudah terparkir didepan gerbang yang sangat tinggi, tak lama keluarlah seseorang dan membuka pintu gerbang untuk majikanya.
__ADS_1
Mobil yang sejak tadi mengikuti segera berputar arah dan meninggalkan mansion, setidaknya dirinya sudah mengetahui dimana istrinya tinggal.