
Amel sudah keluar dari rumah sakit tetapi dokter memvonis kakinya lumpuh untuk sementara waktu, karena setelah dilakukan tindakan Amel masih belum merasakan apa-apa pada kakinya alias mati rasa.
Vonis dokter terasa seperti petir yang menyambar, Amel menangis histeris dirinya tidak akan pernah siap menerima kenyataan ini.
Sarah menyembunyikan kesedihanya di hadapan Amel, justru dirinya orang yang paling terpukul mendengar kabar ini.
Sejak dari rumah sakit hingga keduanya turun dari taksi tidak sepatah katapun keluar dari bibir Amel, sesekali Sarah melirik Amel menghapus air mata yang menetes di kedua pipinya.
Amel hanya diam di atas kursi rodanya, dan Sarah mendorongnya hingga masuk ke dalam rumah. Agar putrinya bisa segera istirahat Sarah mengantar Amel hingga ke kamarnya, dan membantunya untuk pindah di atas tempat tidur.
" Sayang kamu jangan marah sama Mama nak, sampai kapan kamu mau diemin mama terus. Nanti kita cari dokter yang hebat buat menyembuhkan kakimu ya.."
Amel mengangguk dan menangis, Sarah segera memeluknya dan mencium kepala putrinya.
" Aku gak mau jadi cacat seterusnya Ma, aku benci kaki ini.." Amel memukuli kaki kanannya dengan tangan.
" Hentikan Nak, sudah-sudah. Percaya sama mama ya.."
Setelah Amel tenang dan tertidur, Sarah keluar dari kamar Amel dan duduk di sofa ruang tamu. Dirinya sendiri tidak terlalu yakin Amel akan segera sembuh, hanya kata-kata itu yang bisa membuat Amel sedikit lebih tenang.
Rombongan keluarga papa Reno sudah tiba dihalaman rumah kedua orang tua Nessa, Papa Reno dan Mama Mely, Han, Vano dan Rima.
" Ayo silahkan masuk Pak Reno jeng Mely.."
" Maaf jeng kami kesini tidak membawa apa-apa.."
" Aduh jeng sebanyak ini kok bilangnya gak bawa apa-apa. Ini Rima ya adiknya nak Han.."
" Iya Tante saya Rima.." Rima segera meraih tangan Mama Nessa dan mencium punggung tanganya.
" Ayo ayo masuk, jangan sungkan.."
Kini semua orang sudah berada diruang tamu, makeup yang sederhana membuat Nessa terlihat cantik sore ini.
" Udah Han jangan dilihatin terus, ntar gak kuat nahan rasain Lo.." Vano berbisik di telinga Han karena sejak awal masuk Vano menangkap Han yang terus menatap Nessa.
" Sialan Lo Van.."
" Pram... Langsung aja, maksud kedatangan kami kesini atas permintaan ananda Han yang bermaksud untuk meminta putrimu Nessa.."
__ADS_1
" Ini anaknya Ren, coba tanyakan sendiri apa Nessa bersedia menikah dengan Han.."
" Bagaimana nak Nessa, apa kamu menerima Han sebagai calon suamimu..?"
" Insyaallah saya terima Om, mohon do'nya Papa, Mama, Om Reno, Tante mely, kak Vano dan adik Rima untuk hubungan kami selanjutnya.."
" Alhamdulillah... " Semua mengucap syukur hampir bersamaan.
" Jika putriku menerima tentunya saya sebagai orang tua memiliki kriteria khusus untuk calon menantu, apa yang kamu miliki Han sehingga berani meminta putriku..?"
Suasana yang tadinya bersahabat kini berubah menjadi sedikit tegang, terutama bagi Han.
" Papa...."
" Diamlah dulu, Papa hanya ingin tau seberapa besar dia mengharapkan mu sayang.."
Han mendekat dan duduk persis di hadapan calon mertuanya, tepatnya diseberang meja.
" Saya tidak memiliki apapun yang berharga di dunia ini Om..." Han meraba kantong celana belakangnya dan mengeluarkan dompet kemudian dia membukanya menarik beberapa lembar kartu.
" Ini hasil kerja keras saya selama ini Om, saya akan menyerahkan semuanya pada Putri Om. Dan selanjutnya saya akan bekerja lebih keras lagi untuk bisa memberikan apa yang putri Om inginkan.."
" Itu aja...?"
" Ini adalah salah satu harta saya yang sangat-sangat berharga melebihi apapun di dunia ini. Selanjutnya saya hanya memiliki nyawa saya yang juga sangat berharga, tetapi nyawa ini saya tidak akan menyerahkannya pada Putri Om. Karena adik saya sangat membutuhkan nyawa ini, saya juga akan melindungi putrimu walaupun nyawa saya sendiri taruhannya.."
Rima yang mendengar penuturan menitipkan air mata, cinta kakak ya sungguh sangat besar untuk dirinya.
" Sini kamu...!"
Papa Nisa berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari tempat duduk sebelumnya, Han ikut berdiri mengikuti langkah calon mertuanya dan berdiri persis di hadapannya.
Kini keduanya saling berhadapan tanpa ada pembatas apapun, semua orang yang ada di ruangan itu fokus melihat ke arah kedua laki-laki yang berbeda usia ini.
Tiba-tiba ayah Nisa memeluk tubuh Han dan menepuk-nepuk punggungnya.
" Percaya jika kamu lah laki-laki yang terbaik untuk Putri Papa, Han sayangi Putri papa seperti papa dan mama menyayanginya. Jangan pernah menyakitinya walau hanya secuil pun, jika suatu saat kamu sudah tidak menginginkan Putri papa kembalikan dia secara baik-baik kepada kami orang tuanya.."
Ayah Nessa meneteskan air mata, begitu juga semua orang yang ada disana ikut menangis mendengar penuturan Papa Pram pada Han.
__ADS_1
" Han janji tidak akan pernah menyakiti Nessa Pa, dan akan menjaganya seumur hidup dengan nyawa Han taruhannya.."
Keadaan mulai mencair obrolan berlanjut dengan makan malam bersama, kedua orang tua Nessa sudah mennyiapkan berbagai menu makanan yang dipesan pada sebuah restoran ternama.
Han dibuat shock terapi sama Papa Nessa, setelah kejadian tadi Papa Nessa begitu ramah. Tidak terlihat galak sama sekali, justru begitu nyaman saat mengobrol apalagi kalau membahas masalah bisnis.
Antara Papa Reno, Han, Vano dan ayah Nessa begitu semangat saat membahas bisnis apalagi begitu nyambung dan betah berjam-jam bila dibiarkan.
" Nak Rima jangan sungkan anggaplah rumah sendiri, main-main kesini kakakmu setiap hari betah dikamar sendirian.."
" Iya Om, saya juga sering ketemu sama kak Nessa di luar. Kami berteman baik..."
" Syukurlah.. Saudara itu ya harus seperti itu.."
" Oia Ren bagaimana dengan keadaan Tante di new York.."
" Ya begitulah Pram, namanya juga sudah sepuh. Tapi masih sangat sehat..."
" Bagaimana dengan bisnismu Van.."
" Baik Om, Han yang menghandle semuanya..."
" Memang buah jatuh gak jauh dari pohon ya Ren, Vano mengikuti jejak kesuksesanmu dalam berbisnis.."
" Tapi tanpa paksaan Pram, dia sendiri yang ingin terjun ke dunia bisnis.."
" Jeng Mely nanti untuk menentukan kapan hari H nya menyusul ya, kita bicarakan lagi nanti.."
" Iya jeng gak apa-apa, semua butuh persiapan matang. Apalagi Nessa kan anak tunggal, pasti kita sebagai orang tua menginginkan yang terbaik.."
" Iya bener jeng, tapi jeng Mely udah sukses acara Vano waktu itu. Bagus sekali, udah panen juga dapat 1 cucu.."
" Eh jangan salah Bu, anak kami bukan hanya Vano. Ada Han dan juga Rima, nanti setelah Han menikah Rima kan juga antri.."
" Salut sama kamu Ren, sebenarnya dari dulu aku sudah mengenal Han. Tapi waktu itu mungkin SMA ya.."
" Sepertinya waktu itu SMA,.."
" Loh papa kenal dimana..?"
__ADS_1
" Ya waktu papa baru menjadi rekan bisnis Reno, Reno mengenalkan ketiga anaknya. Mungkin anak-anak ini sudah lupa, tapi tidak dengan Papa. Begitu aku tau Han anakmu yang lagi mendekati putriku, aku langsung setuju. Aku yakin didikanmu pasti baik.."
Malam sudah semakin larut keluarga Papa Reno pamit undur diri, Vano pulang ke mansion, papa Reno dan Mama Mely pulang kerumahnya, Han dan Rima juga kembali kerumahnya sendiri.