Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 30


__ADS_3

"Makanan kita sepertinya hampir sampai, kalian lanjutin ngobrol aku keluar sebentar"


"Gak usah Ra, biar aku aja yang ngambil,," Roby menimpali.


"Eh aku aja, sekalian mau cari angin.."


Ayra beranjak dari duduknya dan berlalu pergi, tak lupa ia membawa dompet sama handphone miliknya. Untuk melihat posisi kurir makanan yang ia pesan.


Saat tanganya membuka pintu dan akan melangkah keluar, tak jauh dari tempatnya berdiri telinganya menangkap percakapan antara seorang laki-laki dan perempuan.


"Terimakasih sayang, tempat ini sudah cukup bagus buatku. Lusa aku akan segera pindah kesini." Wanita itu memeluk pria dihadapannya.


"Semoga kamu betah tinggal disini," Ucap si pria.


Seperti familiar dengan suaranya, Ayra memberanikan diri untuk mengintip kearah sumber suara, Ayra memanjangkan lehernya untuk melihat sedang tubuhnya menahan daun pintu agar tidak tertutup.


Dan benar, Vano suaminya sedang dipeluk mesra wanita lain.


Air mata pun tak terbendung, seperti ada benda tajam yang menancap didada tembus ke jantungnya. Rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Tubuhnya bergetar hebat menahan suara tangisnya, agar tidak didengar sahabatnya.


Dengan tangan yang gemetar diraihnya handphone miliknya, ia memasang kamera dan mengarahkan pada kedua manusia laknat itu.


Meski dikiranya kacau tapi otaknya masih mampu bekerja untuk merekam bukti perselingkuhan suaminya.


"Ayo kita masuk.." Dengan wanita itu menggandeng tangan Vano.


Tak lama terdengar pintu ditutup kembali dari dalam, Ayra tak kuasa membayangkan apa yang selanjutnya terjadi didalam sana.


Ayra berlari menuju lift, ia ingin segera pergi dari tempat itu.


Sesampainya di lobby apartemen, ia melihat sebuah taksi berhenti dan menurunkan penumpang.


Ayra segera memasuki taksi yang sudah kosong, "Jalan pak..." Ucapnya pada pengemudi taksi.


"Baik Non.."


Ayra menangis sejadi-jadinya, ia tak kuasa lagi menahan kesedihannya.


Supir taksi hanya berjalan pelan, dengan sesekali ia melirik ke arah kaca spion diatasnya.


Setelah kurang lebih satu jam, ia membawa penumpangnya berputar-putar dan gak tau kemena tujuannya.

__ADS_1


"Maaf Non, ada alamatnya yang mau dituju..?"


Akhirnya driver taksi memberanikan diri untuk bertanya.


"Maaf pak, saya lupa. Kita langsung ke kompleks perumahan x.."


"Baik Non.." Bapak supir segera melajukan kendaraanya ke alamat yang dimaksud.


****


Saat bell berbunyi Roby segera bangkit untuk membukakan pintu.


Saat pintu dibuka, berdiri bapak-bapak sekitar 50 tahun dengan memakai jaket berwarna hitam hijau.


"Maaf mas pesanan atas nama mbk Ayra.."


Sesaat Roby mulai bingung, tapi ia segera menepisnya.


"Oia pak, habis berapa ya..?"


"Ini mas bon pembelianya.."


"Bentar ya pak.." Roby segera masuk ke kamar untuk mengambil dompet miliknya.


"Gue juga bingung, Ayra kemana ya kira-kira.."


"Ada apa ya, gak mungkin Ayra pergi tiba-tiba gini.."


"Coba kamu telfon.."


Rima segera mencari ponselnya didalam tas, dan terus berusaha menghubungi Ayra.


Sudah lebih dari 10x panggilan, tidak satupun ada jawaban.


"Rob gimana ini...?"


"Coba kamu hubungi rumah Vano, kali aja Ayra udah pulang.."


Tut....Tutt.....Tutttt....


"Hallo..."


"Mbok Yem, maaf mau tanya apa Ayra sudah dirumah..?"

__ADS_1


"Non Rima ya...?, belum pulang Non. Bukanya tadi keluar katanya mau ketemu sama Non Rima.."


"Iya mbok ini Rima, ya udah mbok terimakasih infonya.."


"Sama-sama Non..."


Rima menatap Roby dan mengangkat kedua pundaknya.


"Zonk..., Ayra belum nyampek rumah.."


"Coba telpon kak Han, kali aja Ayra ke kantor Vano.."


"Gak mungkin Rob, Ayra hampir gak pernah datengi kak Vano pas kerja.."


Rima pun dengan ragu menghubungi kakanya, dan Ayra pun tidak ke kantor Vano.


****


Setibanya dirumah Vano Ayra segera naik ke kamarnya, mbok Yem dan asisten rumah tangga lainya sedang masak didapur biasanya Ayra menyapa untuk basa-basi. Tetapi ini tidak sama sekali, Ayra bergegas ke kamar mandi dan mencuci mukanya.


Ia segera mengambil handphone nya yang sejak tadi bergetar terus, dilihatnya puluhan kali panggilan masuk dari sahabatnya.


Tuttt....tuttt....


"Hallo Ra, Lo kemana aja. Gue sama Roby bingung banget nyariin Lo kayak orang gila.."


"Maafkan gue Rim, gue ada pekerjaan mendesak.."


"Ra Lo ada masalah, kenapa suara Lo sumbang. Apa Lo habis nangisss..?" Rima terus menyerang Ayra dengan pertanyaan, udah kaya wartawan aja.


"Gue baik-baik aja, Lo lanjutin makan-makan Maafin gue ya ngerusak acara bahagianya Roby.."


"Lo ngomong apa sih Ra.."


"Rim, Lo punya fotonya Alexa gak...? Kirimin gue donk, gue penasaran."


"Iya ntar gue kirimin..."


Setelah panggilan ditutup terdengar notifikasi masuk dihape Ayra.


Rima mengirim pesan bergambar, setelah dibuka memperlihatkan seorang gadis dengan sosok tinggi dan cantik.


Ayra ingat jelas ini lah wanita yang barusan berpelukan dengan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2