
Seminggu setelah kerja sama dengan perusahaan Singapura terjalin, kini Devano yang harus ke Singapura untuk metting di perusahaan koleganya.
Besok Vano dan Han berangkat ke Singapura, mereka akan disana selama 4 hari. Vano berencana sepulang dari Singapura akan melamar Ayra, keinginan ini sudah Vano sampaikan kepada kedua orangtuanya.
papa Reno dan mama Mely sangat antusias menyambut hari itu tiba, mama melu terharu sampai menangis mendengar rencana Vano kali ini.
Mama yakin setelah kehadiran khayra, Vano menjadi lebih baik lagi. Papa Reno menyiapkan jet pribadinya untuk keberangkatan Vano besok ke Singapore, papa ingin memastikan Vano berangkat dan pulang dengan selamat.
"Ma besok pagi sekali Vano sudah harus berangkat, Vano pamit. Mama jaga diri baik-baik, do'akan Vano ya ma.? Vano berjongkok dikaki mama Mely yang duduk disofa.
Mama Mely tidak kuasa menjawab perkataan Vano, mama masih terisak dengan tangisan nya. Setelah puas menangis mama meminta Vano untuk duduk disebelahnya.
"Tanpa kamu minta, setiap saat mama selalu berdo'a untuk kebaikanmu sayang."
Mama Mely memeluk Vano, menyandarkan kepalanya di pundak Vano.
Han yang berdiri tidak jauh dari keduanya melihat mama dan Vano ikut merasakan perih dihatinya, tanpa terasa matanya berkaca-kaca.
Di lubuk hatinya yang paling dalam, selalu merindukan sosok seorang ibu.
Setelah melepaskan pelukannya Vano pamit keruang kerja papa Reno, mama Mely mengusap air mata. Tanpa disadari mana melu menatap Han dan melihat Han mengusap matanya, "Han ayo sini Deket mama."
Mama Mely memeluk Han seperti mama memeluk Vano, "jaga diri kalian baik-baik di Singapura. Han sekarang Rima sudah bekerja, saatnya kamu juga cari pendamping ya."
Han mengangguk dengan senyum mengembang dibibir nya.
"Mama juga menganggap kamu seperti anak mama, sekarang mama punya 2 putra yang waktunya menikah. Vano sudah menemukan Ayra, selanjutnya kamu jangan lama-lama."
"Doain Han Tante.!"
"Pasti, tanpa kamu minta Mama selalu Do'ain.?
Pukul 23:00 Vano dan Han meninggalkan kediaman orang tuanya, Han akan menginap dirumah Vano malam ini. Sore sebelum berangkat kerumah papa Reno Han terlebih dahulu pulang kerumah, mengambil keperluannya yang akan dibawa keluar negeri selama 4 hari.
*****
Setelah jam makan siang Vano sudah menginjakkan kakinya di perusahan tempatnya metting, pemilik perusahaan terbesar di Singapura menyambutnya dengan sangat baik.
Selesai acara metting dilanjutkan makan malam telah selesai, Vano dan Han kembali ke hotel mewah milik papanya.
Di hotel ini mereka akan tinggal selama di Singapura, pagi ini pukul tujuh Vano akan mengunjungi laboratorium. Dimana tempat penelitian dan pembuatan bibit parfum yang akan mereka pasarkan nantinya, acara hari ini sangat padat.
Mulai dari ketempat penelitian, gudang pembuatan botol tempat parfum sampai dengan pembuatan label.
Selama disini mereka terus berkutat dengan semua ini, tak terasa 4 hari sudah berlalu.
Saatnya Vano dan Han akan kelmbali ke tanah air, Vano sudah tidak sabar akan bertemu dengan khayra.
__ADS_1
****
Vano tidak berpamitan pada ayra saat akan pergi, Rima pun merahasiakan kepergian Vano dan kakaknya.
Rima yang sudah mengetahui rencana Vano setelah ini pura-pura tidak mengetahui nya, Ayra merasa aneh biasanya Vano seperti jailangkung.
Datang tak diundang pulang tak diantar, bisa tiba-tiba ada. Tapi beberapa hari ini gak ada Vano, Ayra merasa ada yang beda.
Apa dirinya mungkin sudah menyukai Vano, seperti ada yang hilang saat Vano tidak menemuinya.
Suara dering ponsel mengagetkan lamunannya, diliriknya tertera nama Vano disana.
Segera ia menggeser gambar telepon warna hijau dan menempelkan ditelinganya.
"Dasar malu-malu mau.." Dari jauh Rima yang melihat tingkah Ayra berdecak.
"Rim.. Nanti ada acara makan malam dihotel xx.."
"Kak Han sudah mengatakannya tadi waktu ditelpon. Dandan yang cantik Ra, nanti ada calon mertua Lo." goda Rima.
"Apaan sih lo Rim..."
"Oh ya ini dari kak Vano, nanti Lo disuruh pakek." Rima menyerahkan 2 paper bag pada Ayra.
"Ini barang mewah semua, apa aku pantes makeknya..?"
Ayra mencoba mencerna kata-kata Rima barusan, gak tau lah yang penting dipakek biar yang ngasih seneng begitu menurutnya.
Pukul 5 sore bell apartemen Ayra berbunyi, Rima sudah tau siapa yang datang ia segera membukakan pintu dan menyuruhnya untuk masuk.
Setelah itu Rima berjalan masuk kekamar dan mendapati Ayra baru keluar dari kamar mandi, "siapa yang mencet bell rim.?
"Buruan gih kedepan ada orang suruhan kak Han datang buat dandanin kamu, eh kita maksudku." Rima nyengir kuda supaya Ayra gak curiga.
"La Lo kenapa malah masuk kamar gak duluan.."
"Lo duluan kan gue belum mandi." Rima berlari masuk kamar mandi meninggalkan Ayra.
Setelah setengah jam lamanya Rima keluar dari kamar menuju ruang tamu, dilihatnya Ayra yang hampir selesai di make up.
"idihhh.. cantik banget temen gue, siapa yang punya nie.." Rima terus saja menggoda Ayra.
Mendengar Rima yang menggodanya Ayra melemparkan bantal yang dari tadi dipegangnya, dengan sigap Rima menangkap lemparan Ayra.
"Wekk gak kena." dengan menjulurkan lidahnya.
Pukul 7 malam Han menunggu ayra dan Rima dilobby apartemen, satu jam kemudian mereka sampai disebuah hotel yang sangat mewah dipusat kota.
__ADS_1
Ayra dan Rima memasuki aula hotel dengan bergandengan tangan, Orang tua Vano yang melihat kedatangan ayra langsung menghampirinya.
"Sayang ayo sebelah sana,."
"mas Vano dimana ma.?"
"Vano masih ada urusan sebentar."
Di ruangan yang sangat besar dan megah Ayra mengedarkarkan pandangan mencari sosok Vano, kebanyakan undangan adalah teman Deket papa Reno dan vano. Dan ada beberapa rekan bisnis papa dan Vano, mama mengandeng Ayra untuk naik keatas panggung.
Papa Reno yang akan memberikan sambutan terlebih dahulu, ini adalah acara peresmian hotel papa Reno.
Ditengah sambutanya papa Reno mengenalkan Ayra sebagai calon menantu dari keluarga Nugraha, sontak semua undangan bertepuk tangan.
Tiba-tiba lampu didalam aula mati, sontak semua yang hadir kaget. Ditengah riuhnya suara tamu dalam gelap lampu menyala lagi, Vano sudah berdiri dibelakang Ayra dengan seikat bunga ditanganya.
Ayra baru menyadari setelah beberapa undangan meneriaki nama Vano, Ayra menoleh kebelakang Vano tersenyum dan melambaikan tanganya.
Vano berjongkok didepan Ayra, "sayang Will you marry me..?
"Tapi Van.."
"jawab dulu sayang." ucap Vano
Ayra tak kuasa menahan air matanya, luruh sudah cairan bening dari matanya. Dengan yakin Ayra mengangguk dan menerima lamaran Vano.
Semua undangan yang hadir bertepuk tangan, Vano mengambil kotak disaku celananya.
Membuka kotak itu dan menyematkan sebuah cincin dijari manis Ayra, mama Mely dari awal terus menitikkan air mata bahagia.
****
Setelah acara selesai Vano menggandeng Ayra masuk ke mobilnya, dan Rima pulang bersama Han.
"Sayang terimakasih kamu mau menerima lamaran ku."
"Iya aku juga terimakasih, kamu dan keluargamu memperlakukan ku dengan sangat baik."
Disepanjang jalan Vano terus memegang tangan Ayra dengan tangan satunya fokus menyetir, senyuman tak hilang dari sudut bibir keduanya.
Ayra merasa hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan dalam hidupnya, Vano adalah laki-laki pertama sekaligus terakhir yang akan selalu ada dihatinya.
Meskipun ayra bukan wanita pertama tapi akan menjadi wanita terakhir buat Vano, bahkan perasaanya pada ayra melebihi pada Alexa dulu.
Acara lamaranya bukan hanya membuat Ayra bahagia tapi juga mama Mely, wanita yang paling Vano sayngai seumur hidupnya.
Juga papa Reno, laki-laki yang Vano jadikan panutan dalam hidup.
__ADS_1