
" Mas Vano berangkat ke kantor jam berapa..?"
" Siangan paling jam 09.00. ada apa sayang..?"
" Terus pulangnya..?"
" Berangkat aja belum kok tanya pulang..!"
Vano menoel hidung istrinya dengan gemas.
" Tanya mas, kok nggak dijawab.."
" Bisa sore bisa juga malam.."
" Kalau nggak ada meeting cepetan pulang mas.."
" Memangnya kenapa, kok kayak nggak ikhlas mas ke kantor.."
" Gini mas tadi pas bangun tidur aku kan langsung mandi, terus aku lihat di celana ada bercak darah gitu.."
" Terus gimana apa kita perlu ke rumah sakit sekarang..? Bukanya tafsiran masih Minggu depan ya.."
" Ya kan bisa maju mas, belum ada kontraksi mas ini cuma pinggang aja yang sakit.."
" Mas ke kantor sebentar, Kalau ada apa-apa langsung telepon mas ya.."
Ayra mengangguk dan mencium punggung tangan suaminya, Vano pun berangkat ke kantor.
Selesai sarapan Ayra jalan-jalan di taman belakang supaya pembukaannya bertambah cepat.
" Non susunya belum diminum..?"
" Iya Yuk..."
Ayra segera menghampiri yuk Darmi di kursi taman dan duduk di sebelah yuk Darmi. Ia meraih gelas susu yang ada di meja dan menekuknya hingga tandas.
" Non Ayra berkeringat sekali..?"
" Iya Yuk, rasanya perut Aira sudah mulai kontraksi tapi masih pelan. Tadi juga keluar darah ini Ayra pakai pembalut.."
" Yuk telepon den Vano gimana Non.."
" Enggak usah Yuk, masih belum seberapa. Ini mau tak buat jalan-jalan terus biar sering kencengnya.."
" Saya temani ya Non.."
Yuk Darmi pamit mengembalikan gelas ke dapur, saat melewati ruang tamu yuk Darmi bertemu dengan Pak Yoseph.
" Pak Yosh, minta tolong perhatikan Nona muda kayaknya sudah mau melahirkan.."
" Iya Yuk siap, saya kasih tahu pengawal yang lain.."
Pak Yoseph memberitahu para pelayan dan beberapa pengawal untuk mengawasi Nona mudanya yang sedang jalan-jalan di taman belakang. Dari dapur yuk Darmi segera kembali ke taman dengan membawa jus buah di atas nampan.
Yuk melihat dari jauh Ayra yang sedang berjalan memutari kolam renang, kini Aira berjalan menghampiri yuk Darmi di kursi taman.
" Gimana Non sudah sakit..."
" Belum Yuk..."
" Minum dulu Non, minuman manis baik untuk menambah tenaga.."
Ayra duduk sebentar di kursi dan meminum jus yang dibawakan yuk Darmi untuknya. Ia kembali berdiri dan berjalan memutari taman sambil melihat-lihat bunga yang sedang bermekaran.
__ADS_1
Yuk Darmi berlari menghampiri Aira dengan membawakan ponsel miliknya.
" Nona ada nyonya besar yang menelpon.."
" Iya Yuk.."
Ayra mengambil ponsel dari tangan yuk Darmi dan menggeser gambar telepon berwarna hijau.
" Hallo Ma.."
" Saya lagi ngapain..."
" Ini Ma lagi olah raga di belakang.."
Ayra menunjukkan pada mertuanya.
" Jangan capek-capek ya nak, kasihan cucu mama..."
" Mama lagi dimana..?"
" Ini lagi mau nyusul Papa ke kantor, sekalian nganterin makan siangnya.."
" Rencana pulang ke Indonesia kapan Ma..?"
" Minggu depan mungkin, sekalian nunggu cucu Mama lahiran nanti.."
Ayra mengaktifkan matanya kepada yuk Darmi memberi isyarat untuk tidak bersuara. Yuk Darmi pun memahami kode dari majikannya.
" Jaga kesehatan ya mama sama papa, salam Ayra untuk Gema.."
" Iya iya sayang mama berangkat dulu ya..?"
Setelah panggilan video berakhir, Ayra kembali melanjutkan jalan-jalan hingga jam 11.00 siang.
" Yuk temenin ya Non.."
" Iya Yuk.. Ayo..."
Keduanya berjalan memasuki lift dan naik ke lantai 3 di mana kamar Ayra berada. Ayra langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan yuk Darmi duduk di sofa yang ada di depan TV kamar Ayra.
Pak Yoseph dan beberapa pengawal siaga di lantai 3, berdekatan kamar majikannya. Dengan maksud jika terjadi sesuatu sama majikannya mereka segera mengetahui.
Ayra masuk ke dalam bathtub dan berendam dengan air hangat di sana, ia sangat menikmati tak terasa Ayra pun tertidur.
Sudah satu jam lamanya Ayra tidak keluar kamar mandi, yuk Darmi mulai khawatir ia mondar-mandir di dalam kamar Ayra.
Ia segera keluar kamar dan mendapati Pak Yosep di sana.
" Pak Yosh, Non Ayra kok nggak keluar-keluar ya..?"
" Maksudnya bayinya belum keluar gitu.."
" Ya memang belum keluar, gimana sih. Non Ayra tadi pamit mandi, tapi sudah 1 jam kok nggak keluar. Takut terjadi apa-apa di dalam sana.."
" Coba diketuk dulu pintunya, udah belum..?"
" Belum, tadi gak berani.."
" Gak akan marah Nona muda hanya diketuk pintunya. Coba dulu deh.."
" Iya udah saya coba dulu.."
Hhuuhhh.... yuk Darmi menghembuskan nafas panjang, dan melangkahkan kakinya masuk ke kamar kembali.
__ADS_1
Tok..Tok...
" Non Ayra.."
Tidak mendapatkan jawaban dari dalam kamar mandi.
" Non Ayra, Non gak apa-apa..?"
Ayra yang mendengar yudarmi memanggil pun terbangun.
" Iya yuk..."
" Syukurlah non Ayra baik-baik aja.."
yuk Darmi berbicara sendiri dengan memegang dadanya.
" Buka aja Yuk.."
Yuk Darmi membuka pintu kamar mandi perlahan, dan melihat Ayra sedang berendam.
" Non.. Kok lama mandinya, yuk khawatir non Ayra kenapa-napa.."
" Gak ada yang perlu dikhawatirkan Yuk. Ayra ketiduran..!"
" Ayo Non, Yuk bantu naik.."
Ayra membilas tubuhnya dengan air bersih dan memakai bathrobe. Setelah berganti pakaian daerah duduk di pinggir tempat tidur.
" Yuk.. Ayra kok ngantuk banget ya.."
" Gak apa-apa non tidur selagi masih bisa, nanti kalau sudah kencangnya sering nggak akan bisa tidur pasti.."
" Ayra tidur dulu ya yuk..."
" Iya Non, makan siang dulu gimana..?"
" Nanti aja yuk, keburu ngantuknya hilang.."
Ayra menyalakan pendingin ruangan dan segera masuk ke dalam selimut. Tidak menunggu waktu lama Ayra pun tertidur yuk Darmi keluar kamar untuk makan siang.
" Gimana yuk..?" Pak Yoseph tergopoh-gopoh.
" Gak apa-apa, Non Ayra hanya ketiduran di kamar mandi.."
" Syukurlah..."
Yuk Darmi kembali melanjutkan berjalan ke dapur dan makan siang di sana bersama para pelayan yang lain. Di mension ini Ayra tidak mengharuskan majikan makan terlebih dahulu, masalah makanan semua pelayan dibebaskan.
Bagi yang sudah lapar dulu boleh langsung makan, makanan untuk majikannya sudah disiapkan di atas meja makan sedang para pelayan lebih suka makan di dapur.
Cukup lama Ayra tertidur kini dirinya bangun karena merasa lapar, Ayra turun dari ranjang segera keluar kamar dan makan makananya dimeja makan.
Ayra mendapati Yuk Darmi naik dari bawah menggunakan tangga, dan Yuk Darmi segera menghampiri majikanya di meja makan.
" Yuk kok gak pakai lift, lihat tu ngos-ngosan kan.."
" Tadinya mau olah raga Non, kok capek juga.."
" Gak inget usia yuk nie.."
" Inget Non..."
Seperti biasa keduanya bukan seperti pembantu dan majikan malah seperti ibu dan anak. Bahkan Ayra sering bermanja-manja sama Yuk Darmi, Yuk Darmi pun menyukainya dan menganggap Ayra seperti anaknya sendiri.
__ADS_1