Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 71 #End


__ADS_3

Setelah pernikahan kakaknya Rima memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri, dirinya ingin menikmati hidup.


Negeri Paman Sam tujuannya untuk melanjutkan studi, tak ingin terlalu membebani kakaknya dengan biaya pendidikan Rima juga bekerja di sebuah restoran. Kebetulan restoran tersebut milik sahabat Papa Reno, tiga hari dalam seminggu dirinya aktif di universitas tempatnya menimba ilmu. Sisanya Rima gunakan untuk bekerja, bahkan saat hari Minggu Rima tidak pernah mengambil libur.


Nggak terasa 6 bulan sudah Rima berada di negeri ini, papa Reno yang menawari tempat untuk Rima


tinggal tetapi Rima menolak dengan alasan ingin mandiri.


Tak hanya Rima, Roby juga sedang melanjutkan studi nya untuk mengambil spesialis. Sosok yang tidak banyak bicara ini lebih maksimal dalam menggunakan isi kepalanya.


Hidup masih terus berjalan, hari ini jauh berbeda dari hari kemarin. Hari esok juga tidak akan sama dengan hari ini.


***


Shireen sudah berusia 2 tahun, Nessa juga telah memiliki seorang bayi laki-laki yang sangat tampan.


Ayra belajar mengelola perusahaannya sendiri, dalam bimbingan Vano dan papa Anton. Hal yang tidak pernah Ayra fikirkan akan menjadi apa yang harus ia lakukan.


Han telah berpindah ikut mengelola perusahaan mertuanya. Han yang terlalu sungkan untuk mengundurkan diri dari perusahaan Vano, tetapi Vano sudah memecatnya lebih dulu.


Pagi ini seperti biasa Ayra bersiap akan berangkat ke kantor, dirinya juga membantu suaminya.


" Mas.. Mas Vano bisa kan mengelola banyak perusahaan..?"


" Bisa donk, kenapa sayang...?"


" Ayra rasa terlalu sibuk bekerja hingga lupa menjadi ibu dan istri.."


" Sayang kamu gak harus tiap hari ke kantor, bukanya kamu punya orang kepercayaan yang bisa diandalkan.."


" Iya mas, tapi gimana..?"


" Pasti bisa, bekerjalah senyamanmu aja. Kalau tidak nyaman ya gak perlu bekerja. Mas masih sanggup biayai hidup kalian.." Vano mencium singkat bibir istrinya.


" Percaya.. Kan suamiku orang kaya.."


Kini keduanya menuruni anak tangga untuk sarapan bersama. Setiap hari Ayra pulang bergi ke kantor diantar Pak Yoseph.


Setelah keduanya selesai sarapan Ayra berpamitan dengan Vano dan keduanya menaiki mobil masing-masing untuk ke kantornya.


Di dalam mobil menuju kantor Ayra fokus memeriksa berkas-berkas miliknya, sesekali pandanganya keluar jendela menatap ramainya jalanan di pagi hari.


Seseorang mengetuk bagian kaca supir, pak Yoseph membukanya dan memberikan selembar uang 2 ribuan yang selalu ada dimobil. Disiapkan untuk pak Oga atau yang biasanya bantuin mobil nyebrang buat putar balik, atau untuk yang sering bernyanyi di lampu merah.


Saat terdengar ketukan Ayra ikut melihat siapa yang datang, tetapi dirinya terkejut semakin Ayra pastikan semakin yakin kalau dia adalah orang yang sangat Ayra kenal.


" Mama Sarah..."


" Nona muda mengenalnya...?" Tanya pak Yoseph


Setelah diberi uang ibu itu langsung pergi dan mengetuk kaca mobil yang lain sambil menadahkan tanganya. Sampai lampu lalu lintas kembali hijau, dirinya berjalan ke pinggir.


" Pak Yosh kita putar balik.."


" Baik Nona...!"


" Pak minta ibu tadi kepinggir ya, kita berhenti didepan.."


" Baik Nona..."


Saat lampu merah dan ibu tadi kembali menghampiri mobilnya.


" Eh maaf pak.." pintu mobil dibuka dan seseorang tadi sudah memberikanya uang.


" Majikan saya mau bertemu anda.."


" Oh.. baik pak..." Sarah merasa lega, mungkin seseorang yang ingin memberikan kelebihan Rizki nya.


Sarah kepinggir untuk mendorong kursi roda anaknya, ya disini Sarah tidak sendirian tetapi bersama Amel yang duduk di kursi roda dipinggir jalan.


Keduanya terpaksa meminta-minta dijalanan karena sudah tidak memiliki apapun untuk makan.


" Kita mau kemana Ma..."


" Ada orang kaya yang memanggil Mama tadi, itu mobilnya disana.." Sarah menunjuk mobil mewah di depan.


Pak Yoseph sudah turun lebih dulu, menunggu kedua perempuan itu mendekat.

__ADS_1


Saat Sarah dan Amel sudah sampai disamping mobil Ayra, pak Yoseph membuka pintu belakang.


" Silahkan Nona muda, mereka sudah disini.."


" Ayra mengangguk.."


Sarah dan Amel terus melihat ke arah pintu, siapa yang Sudi memanggilnya.


Keduanya melotot ketika Ayra turun dari mobil, hingga tanpa mereka sadari mulutnya ikut menganga.


" Mama Sarah kak Amel, apa yang kalian lakukan dijalanan.."


" Pak Yoseph ikut terkejut saat majikanya memanggil kedua wanita tersebut.."


" Ayra..." Hanya itu yang keluar dari mulut Sarah.


Amel hanya menunduk malu, dirinya tak sanggup melihat mata adiknya itu. Semua kejahatannya dan Mamanya terlintas jelas dalam ingatan.


" Jawab Ayra Ma, kak Amel..." Ayra menggoyang-goyangkan pundak ibu tirinya itu.


" Maaf kan kami nak, seharusnya kami tidak akan berani menampakkan diri di hadapanmu.."


" Apa yang terjadi sama kak Amel, kenapa duduk di kursi roda..?" Ayra mulai meneteskan air mata.


Sarah dan Amel pun terisak, hingga tak sanggup lagi berkata-kata.


Ayra meminta pak Yoseph membantu menaikkan Amel ke dalam mobil, kini keduanya sudah berada didalam mobil Ayra.


Ayra hanya terdiam membiarkan ibu tiri dan kakaknya tenang lebih dulu, baru memberikan banyak pertanyaan.


" Kita kemana Nona..?"


" Putar balik pak, kita kembali.."


" Baik Nona..."


Kebetulan saat ini mobil Ayra belum jauh dari mansion, jadi hanya butuh waktu 20 menit mobil kembali memasuki halaman mansion.


Melihat mobil majikanya kembali lagi, yuk Darmi yang sedang berada dihalaman bersama Shireen dan pengasuhnya segera menghampiri.


" Non Ayra, apa ada yang ketinggalan..?"


Ayra turun dan pak Yoseph membantu Amel untuk turun dan kembali ke kursi roda.


" Nyonya Sarah, Non Amel...?" Yuk Darmi sangat terkejut melihat mantan majikannya berada disana.


Sama terkejutnya dengan Amel dan Sarah saat melihat yuk Darmi berada disini.


Yuk Darmi mengantarkan kedua wanita itu masuk ke dalam ruang tamu yang ada di mansion dan memintanya duduk di sana.


Ayra sudah lebih dulu duduk di sofa ruang tamu.


" Yuk.. tetap di sini yuk.."


" Baik Nona.."


" Tolong ceritakan sama Ayra Ma, Apa yang sebenarnya terjadi..?"


" Sebelumnya Mama minta maaf nak, kakakmu kecelakaan di jalan raya hingga membutuhkan banyak uang untuk pengobatan. Rumah pemberian almarhum Papa sudah mama jual untuk makan dan biaya pengobatan, termasuk uang pemberian suamimu.."


" Apa... Mas Vano..?" Yuk Darmi pun ikut terkejut.


" Saat Amel kecelakaan mama benar-benar sudah tidak memiliki uang, Mama memberanikan diri untuk datang ke sini meminta uang sama Ayra. Tetapi saat itu ada Vano, mungkin Nak Vano khawatir mama akan kembali mengganggu Ayra akhirnya Vano memberikan Mama penawaran.."


Sarah pun menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya dan Amel, termasuk bagaimana cara mengetahui tempat tinggal Ayra. Ayra yang mendengarkan hanya terdiam, tidak tahu apa yang harus dirinya katakan.


" Sekarang apa yang Mama dan kak Amel inginkan...?" Mata ayra berkaca-kaca.


" Kami harus terus melanjutkan hidup Nak, biarkan Mama dan Amel menerima karma dari apa yang kami dulu lakukan padamu.."


" Maafkan kakak Ra, kakak sangat menyesal. Lihatlah keadaan kakak sekarang, semua semakin berat setelah kami hidup dijalanan..."


" Sekarang Mama tinggal dimana..?"


" Dimana aja, kita berpindah-pindah. Kadang di emperan toko, kadang juga dibangunan kosong.."


Yuk Darmi menyimak semua obrolan, dan begitu mengagumi majikanya. Yuk Darmi tahu benar bagaimana perlakuan Sarah dan Amel pada Ayra, tetapi tidak ada kemarahan sama sekali diwajah Ayra.

__ADS_1


Justru Ayra merasa iba dengan Mama dan kakak tirinya itu.


" Bagaimana dengan kakimu kak..?"


" Kata dokter ini hanya lumpuh sementara, tapi semenjak kehabisan uang kakak sudah tidak pernah ke rumah sakit lagi.."


Hah... Ayra menghembuskan nafasnya panjang, ia melepaskan semua sesak didadanya.


" Pak Yosh..."


" Iya Nona muda, ada yang bisa saya bantu.."


" Carikan perumahan untuk ditinggali Mama dan kak Amel.."


" Baik Nona, nanti segera bapak kasih kabar.."


Ayra mengangguk..


" Ra.. kamu gak benci sama kita.."


" Enggak, aku tidak hidup dalam kebencian. Menjadi pribadi yang baik lebih menyenangkan.."


Sarah dan Amel meneteskan air mata mendengar pernyataan Ayra, jika dirinya dulu berfikir seperti Ayra mungkin keadaanya juga tidak akan seperti ini.


" Untuk sementara, tinggal lah di belakang.."


" Pak Yosh apa masih ada kamar kosong disana..?"


" Masih Nona, akan segera saya suruh pelayan untuk membersihkan..."


Setelah selesai yuk Darmi mengantar keduanya ke ruang bawah tanah, tempat kamar para pekerja di mansion ini berada.


Ayra kembali melangkahkan kakinya menuju mobil, disana pak Yoseph sudah membukakan pintu untuk majikanya. Mobil melaju dijalanan menuju perusahaan milik Ayra.


Pukul 16:00 Vano sudah tiba di mansion, Vano yang melihat putrinya bermain di ruang tamu dengan pengasuhnya segera menghampiri dan membawa putrinya dalam gendongan.


" Maaf Den Vano, mau yuk bikinkan minuman..?"


" Gak usah yuk, Ayra kok belum pulang..?"


" Mungkin lagi banyak kerjaan Den.."


Jam 17:30 Ayra baru kembali, dan segera berjalan memasuki mansion.


" Sore Non Ayra..?" Yuk Darmi yang menyiram tanaman depan menyapa majikanya.


" Mas Vano dimana yuk..?"


" Di atas Non, sama non ayu.."


" Ayra naik dulu yuk.."


" Baik Non..."


Setelah tiba dikamar Ayra mendapati suami dan putrinya tertidur di atas ranjang, dengan mainan yang masih ditangan. Mungkin lelah bermain keduanya tertidur, Ayra mendekati suaminya dan mencium keningnya.


Vano yang merasa ada yang menempel di keningnya segera membuka mata, Vano menarik tangan istrinya yang akan beranjak pergi dan mencium lembut bibirnya.


" Rasanya masih sama saat pertama kali keduanya bermesraan.."


" Maksud mas Vano..."


Vano segera beranjak dan membawa istrinya duduk disofa.


" Mas.. dibelakang ada mama Sarah dan kak Amel..."


" Kok bisa mereka disini...?" Vano sedikit terkejut.


" Ayra ketemu tadi pagi di lampu merah mas.."


Ayra pun menceritakan semua yang dialami ibu dan saudara tirinya, Vano mendengarkan dengan seksama.


" Terserah kamu sayang, yang penting mereka tidak menyakitimu lagi.."


" Gak akan berani mas, lagian Ayra juga tidak akan tinggal diam seperti dulu kalau disakiti.."


Dua hari berada di mansion kini Sarah dan Amel harus pindah ke rumah yang sudah Ayra belikan untuk mereka, Pak Yosep sudah mendapatkan rumah yang Ayra minta. Dan Ayra sudah melunasi administrasi rumah tersebut, Ayra juga akan memberikan uang bulanan untuk keduanya dan biaya pengobatan hingga Amel sembuh.

__ADS_1


Vano tidak keberatan justru bangga terhadap apa yang istrinya lakukan, dirinya tidak salah dalam memilih pendamping, bukan hanya cantik parasnya tetapi juga hatinya.


#.. Sampai ketemu lagi bulan depan dengan novel receh terbaruku yang berjudul jodoh yang kedua, ikuti aku ya kakak. Terimakasihhhh


__ADS_2