
Ayra berada di sebuah cafe tempat biasanya dirinya bertemu Rima, bisa dibilang tempat favorit keduanya. Selain tempatnya yang bagus dan nyaman makanan di cafe ini juga sangat enak.
Tempat ini juga sangat dekat dengan kantor di mana Rima bekerja.
" Hai Ra udah lama.." Rima segera menarik kursi untuknya duduk.
" Ah barusan juga nyampe, gimana kerjaan lo.."
" Ya masih seperti biasa baik. Eh gimana sama calon keponakan gue..?
" Sehat nih udah terlihat sedikit buncit kan...?" Ayra dengan menunjukkan perutnya pada Rima.
" Sehat-sehat ya keponakan tante di dalam sini.." Rima berbicara dengan memegang perut Ayra.
Kini keduanya makan dengan lahap, acara makan siang dan temu kangen dengan sahabatnya harus segera berakhir. Rima yang harus kembali ke kantor karena jam makan siang udah hampir habis.
" Nggak papa lo gue tinggal sendiri Ra.."
" Ya nggak apa-apa lah, tenang aja. besok-besok lu main ke tempat gue ya biar kita ngobrolnya lama."
" Oke deh, gue duluan ya.."
Semua yang kedua sahabat ini lakukan tak luput dari penglihatan seseorang yang tak jauh dari tempat Ayra duduk.
SetelahRimq pergi ia pun mencoba untuk mendekati Ayra.
" Hai... Maaf boleh saya duduk di sini..?.." ucapnya dengan menunjuk kursi kosong yang ada di depan Ayra.
Meski merasa sedikit aneh Ayra tetap menerimanya dengan baik.
" Oh ya silakan.." ucapnya sopan.
" Kamu Ayra kan istrinya mas Vano. Kenalin aku Alexa." Alexa mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.
" Ya aku Ayra, kita memang belum kenal tapi rasanya aku pernah melihatmu bersama suamiku."
" Di sini aku cuman mau bilang, aku begitu mencintai mas Vano. Dulu saat aku pergi hubungan kita belum berakhir, dan sekarang aku kembali. Dan aku nggak pernah tahu mas Vano sudah menikahi kamu."
Ada rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh Ayra mendengar apa yang Alexa ucapkan, ia berusaha untuk tenang dihadapan Alexa.
__ADS_1
" Aku sakit hati, bagaimana bisa mas Vano giniin aku."
" Terus kamu maunya gimana, aku sedang mengandung anaknya mas Vano. Harusnya aku dong yang sakit hati dengan apa yang kalian lakukan, aku istrinya."
Alex sayang pura-pura terkejut mendengar bahwa Ayra sedang hamil.
" Hubunganku sama mas Vano dulu sudah sangat jauh kita hampir menikah. Kita juga dulu tinggal satu apartemen."
" Oh yaaa.." Ayra masih terlihat santai.
" Ya.. Kita sama-sama kuliah di new York, kamu kan juga tahu Vano punya Oma di sana. Tapi dia memilih tinggal di apartemen bareng aku."
Hati Ayra semakin perih, seperti terisis pedang yang sangat tajam.
" Kamu masa lalunya dan aku masa depannya. apapun yang terjadi pada kalian berdua di masa lalu, biarlah menjadi rahasia kalian. Aku nggak perlu tahu dan nggak ingin tahu. permisi..."
Ayra segera pergi meninggalkan Alexa dengan perasaan yang kecewa. Alexa tersenyum manis, meskipun Ayra terlihat biasa saja tapi dia yakin Ayra sedang tidak baik-baik saja.
Sudah terlihat jelas bagaimana perubahan raut wajah Ayra saat pergi tadi.
Di perjalanan pulang Ayra hanya murung tidak seperti biasanya, bercanda dan mengobrol bersama Philips dan Boby.
Tidak ada yang berani memulai obrolan, di dalam mobil hanya hening hingga mobil memasuki halaman mansion.
Suara Boby membuyarkan lamunan Ayra.
" Oh ya terima kasih Bob.." Ayra tersenyum tipis.
Senyuman yang tak pernah pudar meskipun hatinya sedang lerluka, Ayra terlalu pintar untuk menyembunyikan luka hatinya.
Karena dirinya gak mau orang lain ikut merasakan apa yang ia rasakan.
Di mata para pelayan Ayra adalah sosok yang humoris, sangat baik dan juga ramah. Terkadang diamnya Ayra membuat para pelayan salah tingkah, padahal selama ini Ayra tidak pernah marah sama mereka.
Ayra masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur.
" Sayang mama harus bagaimana..? perasaan cinta untuk Papa mu sering membuat mama sakit.." Ayra menangis dan mengungkapkan isi hatinya pada buah hati yang masih didalam rahimnya.
Ayra mengirimkan lokasinya pada Rafa, dan meminta Rafa untuk datang sepulangnya dari kantor nanti.
__ADS_1
Rafa membalas pesan Ayra dengan menyetujuinya, dan akan segera datang setelah pekerjaannya selesai.
Pada pukul 17.00 mobil Rafa sudah memasuki halaman mansion, Ayra sudah memberitahu bagian menjaga gerbang bahwa akan ada sahabatnya yang akan berkunjung.
Philips mengantar Rafa masuk kedalam mansion hingga ruang tamu dan memintanya menunggu Ayra di sana.
" Selamat sore Den, mau minum apa..?" ucap Yuk Darmi ramah.
" A apa aja Mbk terserah.."
Mbok Darmi segera ke belakang untuk membuat minuman untuk tamu dan majikannya.
" Fa lu udah datang..?"
Rafa yang tidak menyadari kedatangan Ayra sedikit terjingkat.
" Ra beneran lo tinggal di istana ini.." Rafa juga mengagumi bangunan megah ini.
" Biasa aja kalau ngomong.."
Yuk Darmi meletakkan dua gelas orange juice di meja dan segera pamit undur diri. Ayra mulai membuka laptopnya dan jari-jemarinya menari-nari di atas keyboard, tak lama ia menyerahkan laptopnya pada Rafa untuk dilihat.
Di situ terlihat jelas letak selisih pemasukan dan pengeluaran dan di bagian mana terdapat kecurangan. Bahkan Ayra menandainya dengan huruf tebal agar mudah dipahami Rafa dimana bagian penting nya. Rafa selanjutnya tinggal menangkap orang-orang yang terlibat dalam penggelapan dana perusahaannya.
Permainan pendapatan perusahaan yang dilakukan oleh beberapa orang sudah terjadi bertahun-tahun, yang mengakibatkan anjloknya beberapa saham milik Bimantara Group.
Sebagian orang yang Rafa minta untuk menyelidikinya justru terlibat dalam masalah ini. Rafa akan menindak tegas siapapun penghianat di perusahaannya, ia akan memberi hukuman berat pada pelakunya.
Rafa pastikan mereka akan membayar mahal dengan apa yang telah mereka lakukan.
Acara membahas pekerjaan telah selesai keduanya melanjutkan dengan mengobrol santai seperti biasa, dan diakhiri dengan makan malam bersama.
Pada pukul 20.00 Rafa meninggalkan mansion milik Ayra, dan segera meluncur ke rumahnya.
Masalah orang lain dengan mudah Ayra bisa membantu menyelesaikannya tapi untuk masalahnya sendiri masih belum ada jalan keluarnya.
Ayra bernafas lega, ia telah menyelesaikan pekerjaan dengan klien terakhirnya. Ayra memutuskan untuk berhenti bekerja terlebih dahulu, ia masih ingin fokus dengan kehamilannya dan akan belajar mengelola perusahaan peninggalan ayahnya.
Andaikan ia harus meninggalkan Indonesia untuk sementara waktu, paling tidak urusan di sini sudah selesai.
__ADS_1
Ayra masih bingung bagaimana caranya mengatakan kepada kedua mertuanya, mertua yang iya anggap seperti orang tuanya sendiri.
Ayra yakin pasti mereka sangat kecewa dengan apa yang terjadi pada rumah tangga putranya, terlebih lagi pada mama Mely yang begitu menyayangi Ayra.