Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 27


__ADS_3

"sayang hari ini mau kemana..?"


"Gak kemana-mana mas, mau dirumah aja badanku pegel semua." Ayra memijit lenganya.


"Mau aku pijitin.." Tatapan Vano menggoda istrinya.


"Hemz.. Bukanya mau ke kantor ya..? Maaf aku gak sanggup gaji tukang pijit sebesar penghasilanmu dikantor." Ayra membalas godaan Vano dengan canda.


"Eh siapa bilang aku minta bayaran, gratis tau.." jari telunjuk Vano menoel hidung Ayra.


"Apaan sih mas, buruan dihabiskan sarapanya terus berangkat. Ntar telat lagi..."


"Ngusir nie ceritanya.."


Selalu obrolan singkat mewarnai suasana sarapan pagi dirumah Vano. Kebetulan hari ini Vano tidak memiliki jadwal meeting pagi, Vano punya janji makan siang dengan seseorang.


Setelah mobil yang Vano bawa sudah meninggalkan halaman rumah, Ayra segera berjalan cepat menuju dapur.


"Mbok Yem kok pada belum sarapan..?"


"Eh non Ayra, Nunggu Dina sama Saroh non. Masih bersih-bersih."


"Kan bisa dilanjutin nanti Bik, udah siang nie. Gak baik ditunda-tunda."


"Hehe.. udah jadi kebiasaan Non."


Tak jauh dari tempat Ayra berdiri Dina lewat dengan membawa ember dan kain pel.


"Mbk Dina sarapan dulu.."


"Baik non Ayra."


"panggil semuanya mbk Dina, mang Dadang juga."

__ADS_1


Dina segera berlari untuk memanggil semuanya, setelah semua asisten rumah tangganya duduk ditempat masing-masing mereka saling tatap.


"Ayo makan mang Dadang, mbok Yem semuanya. Aku udah makan tadi bareng mas Vano."


"Mungkin Non Ayra butuh sesuatu, saya buatkn Non."


"Ayra mau duduk aja mbok, nemenin mbok Yem Ama yang lain sarapan.."


"Mari Non.." mang Dadang menawari Ayra dengan sopan.


"Silahkan mang, udah tadi ama mas Vano gak usah sungkan."


Setelah menemani asisten rumah tangga sarapan Ayra kembali ke kamar, Ayra membuka laptopnya yang sudah lama vakum.


Ayra mempelajari kembali kasus yang sedang ia tangani, Ayra berusaha semaksimal mungkin.


"Mungkin ini kasus terakhir yang aku tangani, sebelum aku benar-benar menjadi seorang istri dan hanya melayani suamiku dirumah".


Menurutnya sekarang suami adalah yang paling utama, seperti kata pepatah.


****


Amel dan wanita itu menandatangani surat pernyataan untuk tidak membuat keributan direstaurant itu lagi, setelah ada kata damai Amel segera pergi meninggalkan ruangan scurity.


Sarah yang begitu kaget melihat penampilan putrinya dengan rambut yang acak-acakan, lipstik belepotan.


"sayang kamu dari mana?, Kenapa penampilanmu begini?" Sarah memegang helaian rambut putrinya.


"Habis kasi pelajaran perempuan ****** Ma."


"Maksudnya perempuan siapa?"


"****** yang udah ngrebut Dion dari Amel.."

__ADS_1


"Apa..! Bener kan Dion itu laki-laki gak bener, Mama pernah lihat dia gandeng tangan cewek."


"Ayo Ma kembali ke hotel Amel pusing."


Kedua wanita ini berjalan cepat menuju kamar hotel tempatnya menginap, sesampainya didalam kamar Amel segera menjatuhkan bobot tubuhnya diatas kasur.


Amel terus memejamkan matanya, ada beban berat yang lagi dipikulnya.


Sarah yang melihat tingkah putrinya hanya bisa mengambil nafas dalam-dalam.


"Terus gimana nasib kita sekarang." Sarah membuka pembicaraan.


"Menurut Mama gimana..? Uang Amel habis digasak si brengsek itu"


"Gak ada pilihan lain, kita tinggal dirumah yang sudah disiapkan papamu untuk kita"


"Rumah itu digang sempit Ma."


"Gak ada pilihan lain Mel, dari pada jadi gelandangan."


Keduanya mengemasi barang-barangnya untuk segera meninggalkan hotel.


Dion yang kesusahan berjalan dibantu wanita disebelahnya, wanita yang terus mengembangkan senyum kemenangan karena telah berhasil menyingkirkan pengganggu.


"Sayang kita perlu kerumah sakit??"


"Gak perlu, langsung ke apartemen aja"


"Yakin itu gak papa habis kena tendangan tadi.."


"Emangnya kamu seneng kalau ada apa-apa dengan pusakaku..?" Dion berkata dengan sedikit kesal.


Hari semakin siang matahari pun semakin terik, Vano bergegas meninggalkan kantor dan masuk ke mobil.

__ADS_1


Siang ini Vano membawa mobilnya sendiri menuju tempat yang sudah disepakati dengan seseorang, Han yang biasanya selalu menemani Vano kini ditinggal begitu saja.


Bahkan Vano tidak mengatakan akan pergi kemana dan dengan siapa. Han merasa aneh tapi itulah Vano, susah untuk ditebak


__ADS_2