Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 55


__ADS_3

Setelah hubungannya dengan Vano membaik, belum pernah Vano mengajak Ayra kerumahnya. Bahkan sejak pergi meninggalkan rumah Vano hingga sekarang Ayra belum pernah ke rumah itu lagi


Hari ini Vano mengajak Ayra untuk ke rumahnya mengambil beberapa barang milik Vano, sebentar lagi Ayra juga akan melahirkan pasti akan lama untuk ke rumah Vano lagi.


" Sayang apa pinggangmu sakit saat berjalan jauh..?"


" Sakit sedikit tapi gak apa-apa mas, banyak jalan membuat kepala bayi Cepet masuk panggulnya.."


" Oo.. Begitu ya..."


" Hemm... Menurut artikel yang aku baca.."


" Ada larangan apa gitu..?"


" Gak ada mas, di artikel juga tertulis wanita yang terbiasa kerja keras atau sering melakukan aktivitas berat saat melahirkan nanti tidak terlalu merasakan sakit.."


" Mau lahiran normal atau operasi, kemaren sahabatku istrinya baru melahirkan dengan operasi metode terbaru. Gak sakit terus setelah operasi langsung bisa duduk, penyembuhannya juga lebih cepet katanya ."


" Memangnya sahabat mas Vano kenapa harus operasi..?"


" Ya gak kenapa-napa, Takut sakit katanya.."


" Ayra mau lahiran normal aja mas.."


" Terserah sayang, pokoknya yang terbaik ibu dan bayi sehat.." Vano menciumi puncak kepala istrinya.


Ayra didepan meja riasnya sedang mengoleskan bedak tipis diwajah cantiknya, dan memoleskan lipstik untuk membuat bibirnya lebih segar tidak terlihat pucet.


" Udah selesai ayo mas berangkat.."


" Ayo..."


Keduanya berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam lift dan turun ke bawah. Vano dan Ayra sudah berada dihalaman mansion.


" Pak Yosh, Ayra sama mas Vano mau keluar sebentar.."


" Iya Nona, perlu diantar Den.."


" Gak usah pak, mas Vano mau nyetir sendiri.."


Ayra dan Vano masuk ke dalam mobil, mobil meluncur ke rumah Vano.


" Selamat pagi Den Vano Non Ayra..?"


Mang Dadang menyapa kedua majikanya.


" Pagi Mang Dadang.."


Keduanya berjalan memasuki rumah, masih nyaman seperti saat Ayra keluar dari sini.


Dari dapur terdengar obrolan tiga wanita yang sedang menceritakan sinetron yang semalam ditontonnya, sambil mengunyah Dina terus bercerita.


Mbok Yem dan Saroh sesekali menyahut, masih dengan piring di tangan ketiganya.


" Mas Vano naik duluan, Ayra mau ke dapur dulu.."


" Iya sayang, segera nyusul jangan lama-lama."


Vano berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Asyik bercerita sambil sarapan ketiganya tidak menyadari kedatangan majikannya.


" Emm...Ehemmm...."


Sontak ketika wanita itu menoleh ke arah sumber suara, Ayra tersenyum membalas tatapan ketiganya.


" Non Ayra.." Teriaknya hampir bersamaan.

__ADS_1


Saroh, Dina dan Mbok Yem segera berdiri dan langsung menghampiri Ayra.


Mbok Yem memeluk istri majikanya yang sudah lama tidak bertemu. Dilanjutkan Dina dan Sarah juga, ketiganya menangis haru.


" Gak suka ya Ayra datang, kok malah nangis,"


" Ini perasaan bahagia Non, nggak nyangka Non Ayra datang.."


" Meja makan kosong kok makannya di bawah..?"


" Kita lebih suka di bawah Non, bisa cerita ngalor ngidul Den Vano juga jarang pulang.."


" Non Ayra kapan melahirkan..?"


" Tafsiran masih bulan depan.."


" Sehat-sehat ya Non.."


Ketiganya bercerita melepas kangen, hampir 8 bulan lamanya mereka tidak bertemu istri majikannya.


" Ayra naik dulu ya semuanya.."


" Iya Non, Non Ayra nanti mau dimasakin apa,.?"


" Apapun yang mbok yang masak pasti Ayra makan.."


Ayra berjalan menaiki anak tangga menyusul suaminya ke kamar, dilihatnya Vano duduk di sofa dengan bermain ponselnya.


Ayra duduk di pinggir tempat tidur, karena menurutnya lebih nyaman di sana. Vano yang melihat istrinya segera berjalan mendekati ranjang.


" Capek sayang...?"


" Enggak Bee, Ayra bahagia bertemu Mbok Yem, mbak Dina dan Saroh.."


Di luar sedang hujan suasana yang cocok untuk berkembang biak, Vano menatap istrinya ia memegang dagu Aira dan mendekatkan bibir istrinya dengan bibirnya.


Vano mencium lembut bibir Ayra, merasa tidak ada penolakan dan Ayra membalas ciumannya. Ciuman Vano semakin dalam dan semakin menuntut.


" Sayang boleh nggak mas Vano mau jengukin anak kita..?"


" Maksud mas Vano ..?" Ayra berpura-pura tidak mengerti kemana arah pembicaraan suaminya.


" Mas mau nunjukin jalan ke anak kita biar nanti pas lahir nggak bingung.."


" Tapi Ayra nggak tanggung jawab ya nanti kalau pusaka mas Vano digigit sama anak kita.."


" Waduhh... Jangan donk.."


" Iya iya boleh..."


Vano kegirangan ia segera melepas semua pakaiannya dan membantu membuka pakaian istrinya.


Pasangan halal itu menikmati dinginnya siang ini dengan adegan panas, mengingat keduanya sudah lama tidak melakukannya.


Selesai berkeringat bersama keduanya tidur dengan saling berpelukan, meskipun Vano sangat bersemangat tapi Vano melakukan dengan begitu lembut karena istrinya yang sedang hamil.


Ayra bangun lebih dulu, segera duduk dan akan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Merasa ada yang bergerak disebelahnya Vano pun bangun.


" Sayang mau mandi.."


" Iya mas badanku lengket semua.."


Melihat Ayra yang akan memunguti pakaiannya Vano bergegas mengambil pakaian keduanya yang berserakan dilantai.


" Biar mas aja.." Vano memasukkan pakaian itu ke dalam keranjang baju kotor disamping pintu kamar mandi.

__ADS_1


" Ayo..."


Vano mengisi bathub penuh dengan air hangat dan menambah kan aromaterapi kedalamnya.


" Sini mas bantuin masuk.."


Vano menggendong tubuh polos istrinya masuk ke dalam bathtub, Vano membantu Ayra membersihkan diri.


Keduanya sudah selesai dan keluar kamar mandi dengan menggunakan bathrobe, Vano menuntun Ayra untuk duduk didepan meja rias.


Dengan telaten Vano mengeringkan rambut istrinya dengan menggunakan hair dryer.


Setelah rapi Vano dan Ayra keluar kamar menuruni anak tangga menuju meja makan.


Keduanya makan dengan lahap, mbok Yem melihat majikanya kembali seperti dulu.


Beda dengan beberapa bilang belakangan, Vano tidak begitu bersahabat dan tidak pernah menyentuh makanan yang ada di meja makan.


" Mas gimana keadaan Gema..?"


" Gema sudah sembuh, tapi yang namanya orang tua.."


" Semoga kita segera bisa kesana ya mas.."


" Iya tapi nunggu UTUN besar dulu, kasihan dibawa perjalanan jauh.."


***


Rima dan Roby makan malam bersama, keduanya sudah berada disebuah restoran.


" Gimana kabar Ayra...?"


" Sepertinya sudah membaik hubungannya sama mas Vano, Ayra terlihat bahagia.."


" Udah seharusnya Ayra bahagia, aku paling gak tega kalau lihat Ayra sedih. Kita tau kan diantara kita bertiga yang hidupnya paling menyedihkan Ayra, roda berputar sekarang Ayra memetik buah dari kesabaran nya.."


" Ehemmm... Lo pernah suka kan sama Ayra.."


" La kan kita bertiga sahabatan.."


" Ngaku deh, aku perhatikan tatapanmu ke Ayra itu beda. Seperti seorang yang mengagumi.."


Roby tertawa mengingat bagaimana dulu dirinya begitu menyukai Ayra, hingga rela membuntuti Ayra saat pulang sekolah.


" Bener kannn..."


" Iya, menurutku cara berfikir Ayra tu dewasa. Mungkin karena dia terlalu mandiri, gak ada yang bisa di andalkan selain dirinya sendiri. Bersyukur ada kita berdua..."


" Aku sedikit banyak merasakan apa yang Ayra rasakan, tapi aku lebih beruntung ada kak Han tempatku bersandar. Makanya kakak sampai sekarang masih memperlakukan aku seperti saat aku kecil.."


" Nanti saat kita tua ini akan menjadi cerita untuk anak cucu kita..."


" Kita... Emang kita mau bersama..?"


" Apaan sih lu Rob.." Rima tersipu malu.


Semakin kesini Rima mengagumi Roby dalam diam, tapi Roby tak pernah membalas perasaanya.


Roby bersiap biasa seperti sikapnya pada Ayra sekarang, untuk mengungkapkan perasaanya itu terasa tidak mungkin bagi Rima.


***


Apakah Rima berjodoh dengan Roby, atau Rafa..? Ikuti terus kelanjutanya.


Terimakasih para pembaca yang Budiman, setelah novel ini tamat author akan menulis novel baru ya. Mohon mengikutiku untuk mendapatkan pemberitahuan update setiap episodenya.

__ADS_1


__ADS_2