Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 35


__ADS_3

Pagi ini Ayra sudah sangat rapi, ada janji bertemu dengan Rafa. Putra tunggal pemilik perusahaan Bimantara Group.


"Pagi Non Ayra..." Sapa pak Yoseph ramah saat melihat Ayra keluar dari kamarnya.


"Pagi pak, maaf pak Ayra tidak sarapan dirumah. Mau ketemu sama klien pagi ini.."


"Mari Non saya bawakan barangnya.." Ayra memberikan tas yang ada ditangannya, keduanya berjalan cepat menuju halaman.


"Ini mobil untuk mengantar kemanapun Non Ayra pergi.."


Ayra mengernyitkan dahinya, pak Yoseph mengangguk dengan senyuman yang mengembang dibibirnya.


Disebelah mobil berdiri dua orang laki-laki berbadan tegap dengan setelan serba hitam.


"Nama saya Boby Nona muda, saya siap mengantar kemanapun Nona muda pergi.."


"Saya Philips Nona muda, saya yang akan mengawal Nona muda.."


Masih dengan keterkejutannya Ayra hanya mematung di tempat, kenapa ada orang sebanyak ini di sekelilingnya.


"Kami semua ditugaskan pak Anton untuk menjaga Nona muda..!"


"Gak perlu pak Yoseph, Ayra bisa kemanapun sendiri.


"Ini perintah Nona, sebaiknya Nona muda mengikuti saja.."


Ayra pun bergegas memasuki mobil yang sudah dipersiapkan untuknya, diikuti Boby dan Philips.


Mobil pun melaju ke sebuah tempat yang sudah Ayra sepakati bersama kliennya.


****


Di gedung Mahkota Group Vano yang sejak kedatangannya terus uring-uringan di ruang kerjanya.


Hampir semua pegawai yang berurusan langsung dengannya mendapatkan kemarahan Vano, hanya asistenya yang berani menentang


Kedua laki-laki ini hampir baku hantam diruangan Vano.


"Lo becus kerja gak, udah berapa lama Lo kerja dikantor ini. Percuma gue bayar gaji Lo mahal kalau kayak gini aja gak selesai.."


"Nie kerjaan udah 4 kali gue revisi, dan ini masih Lo anggep salah. Apa yang Lo mau sebenarnya, Lo nyari-nyari kesalahan gue, ada masalah apa Lo ma gue.." Han membanting tumpukan kertas yang ada ditangannya ke meja.


"Kalau Lo ngrasa keberatan bayar gaji gue, oke mulai besok gue angkat kaki dari Mahkota Group.."


Setelah puas menyampaikan kemarahanya, Han berjalan cepat menuju pintu ruangan.


"Untuk apa kerja sama orang yang gak bisa menghargai kita.."


Meski sambil berlalu kata-kata Han masih bisa didengar Vano.


****


"Ra... Sebelah sini.." Rafa mengangkat tangannya ketika melihat Ayra memasuki restoran.


Ayra berjalan menghampiri Rafa.

__ADS_1


"Lo udah lama Fa..?, Maaf gue lama.." Sambil nyengir kuda.


"Gak kok, gue juga baru nyampek. Yuk kita naik ke atas."


Rafa mengajak Ayra ke ruang VIP yang sudah dipesankan asistennya.


Rafa bersama asistennya, sedangkan bodyguard Ayra menunggu di depan ruang VIP.


Seorang pelayan menghidangkan beberapa menu makanan di atas meja, ketika pelayan akan pergi Ayra menahannya.


"Tunggu sebentar mas.."


Ayra berjalan keluar ruangan untuk menemui Philips.


"Philips pesanlah makanan yang kamu inginkan, tunggu dibawah. Ajak Boby sekalian bersamamu.."


Ayra mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dan menyerahkan pada Philips.


"Baik Nona.." Philips mengangguk dan segera turun ke bawah.


Ayra kembali ke meja makan dan mulai menyantap makanan bersama, ketiganya makan dalam diam.


Tak berapa lama Aira menyudahi makannya.


"Maaf gue udah duluan kalian silahkan dilanjutkan ."


"Kenapa Ra.. Lo sakit..??, Gue perhatiin Lo agak pucet.."


"It's oke gue baik-baik aja.." Kalian lanjutin dulu makannya nanti kita ngobrol lagi.


"Ra..."


"Hemmzz" Jawabnya singkat.


"Gue sahabat Lo, kalau ada masalah cerita sama gue Ra..."


"Gue baik-baik aja Fa.."


"Gue rasa Lo tidak sedang baik-baik aja "


Rafa memberi kode kedipan mata pada asistennya untuk menunggu di luar, asistennya pun mengerti dan pamit pergi ke toilet.


"Vano selingkuh Fa.." Ayra mulai menitikkan air matanya.


Rafa salah satu sahabat Ayra yang cukup dekat waktu ia studi di Eropa. Dulu keduanya adalah sahabat berbagi sedih dan senang.


Ayra menceritakan saat ia mendapati Vano berpelukan dengan wanita lain didepan matanya, dan sampai Ayra memutuskan pergi dari rumah Vano.


Beberapa hari ini Ayra hanya berdiam diri didalam kamar, gak tau lagi harus cerita sama siapa. Masalah ini merupakan aib bagi keluarganya, suntuk memang tapi untuk mencari ketenangan diluar rasanya tidak mungkin.


Rafa mengambil beberapa lembar tissu dan memberikannya pada Ayra, ia membiarkan Ayra mengungkapkan semua kesedihanya.


Memang Rafa belum bisa membantunya, tapi paling tidak Ayra merasa lega ada tempat untuknya berbagi.


"Gue selalu siap jadi tempatmu bersandar Ra. Melihatmu menangis hatiku juga ikut perih, andai aku bisa membuatmu bahagia aku akan menghapus semua kesedihan dihidupmu.."

__ADS_1


"Sekarang gue harus gimana Fa, apa gue diem aja lihat suamiku bersama wanita lain dan pura-pura tidak tahu. Aku gak sanggup, hatiku tidak sekuat itu.."


"Lo tenangis diri dulu, biar bisa berfikir jernih. Jangan terlalu larut dalam kesedihan oke, jaga kesehatan Lo. Apa mertuamu tau tentang ini.."


"Gue gak cerita sama siapapun, kecuali Lo sama Om Om Anton. Gue langsung ganti ponsel biar Vano gak nemuin gue.."


Setelah mendengar masalah Ayra, Rafa memutuskan untuk tidak membahas pekerjaan dulu. Keadaan Ayra lagi kurang baik untuk membahasnya, nunggu sampai Ayra tenang.


Hingga siang hari Ayra dan Rafa baru keluar dari ruang VIP, keduanya saling berpamitan dan berjalan menuju mobil masing-masing.


Philips yang melihat bosnya seperti habis menangis merasa sedikit aneh.


"Nona apa Nona muda sedang kurang sehat.."


"Aku gak apa-apa.." Ayra tersenyum tipis.


"Kita pulang sekarang Nona..".


"Iya.. " Jawabnya singkat.


***


Sudah setengah jam yang lalu Han berada dibandara, kini ia berdiri dipintu kedatangan dari luar negeri.


Sekilas ia seperti melihat seseorang yang cukup dikenalnya.


"Pak Anton.." Sapanya, tadinya ia takut salah menyapa orang.


Merasa namanya dipanggil, pak Anton menoleh ke arah Sember suara.


"Hai Han, kamu disini juga.."


Keduanya berjabat tangan dan mengobrol singkat, Han yang mendapatkan kejelasan kedatangan pak Anton dan istrinya dari perjalanan bisnis.


Seseorang yang telah menunggunya dirumah pak Anton pamit undur diri dulu, sedangkan Han masih menunggu kedatang 10 menit lagi.


"Pak kita ke jalan A.Amj raya.." Ucap pak Anton pada pengemudi taksi


"Baik pak.."


Jarak dari bandara ke mansion hanya sekitar 30 menit saja. Kini pak Anton disambut oleh pak Yoseph di halaman depan mansion.


Pak Yoseph dan beberapa pelayan membantu membawakan barang-barang pak Anton untuk dibawa masuk ke dalam.


"Ayra ada pak Yoseph..?"


"Maaf pak Anton, Nona muda belum kembali sejak pagi. Tadi bilangnya mau ketemu klien diluar..".


"Oohh.. Gak apa-apa saya nunggu aja.."


"Perlu saya siapkan kamar untuk istirahat pak Anton dan Bu Ana.."


"Tidak perlu pak, kami tunggu diruang tamu aja.."


Pak Anton dan Bu Ana menaiki lift untuk sampai diruang tamu untuk keluarga yang ada dilantai 3 mansion.

__ADS_1


__ADS_2