Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode24


__ADS_3

Pukul 23 keduanya sudah berada didalam kamarnya, Ayra segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Melihat istrinya ke kamar mandi Vano berjalan dengan langkah lebar menyusul istrinya.


"Mas... aku mau membersihkan diri."


"Aku juga mau membersihkan diri."


Vano segera melepas pakaianya dan masuk kedalam bathtub, Ayra yang melihat suaminya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ayo Ra masuk, kok malah bengong.."


"Iya mas.."


Ayra segera menyusul suaminya masuk ke dalam bathtub, Vano menarik lembuh tangan Ayra masuk ke dalam pelukannya.


Ayra yang mendapat serangan secara tiba-tiba sedikit terjingkat, Ayra mengerti maksud suaminya.


Didalam bathtub keduanya melakukan penyatuan, Vano selalu puas dengan permainan istrinya. Semua yang ada pada diri Ayra membuatnya candu, baginya pernikahan hanya sekali seumur hidup.


Ayra naik keatas ranjang dan Vano yang sudah berada disana segera meraih tangan istrinya, seperti biasa Ayra dan Vano akan mengobrol sebelum tertidur.


Vano yang menyandarkan punggungnya dikepala ranjang dan Ayra yang bersandar pada tubuh suaminya, Tangan Vano memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Bee...."


"Hemm...." Jawab Vano singkat.


"Boleh aku bertanya sesuatu.."


"Mau aku kasih hukuman lagi gak,.? kapan aku ngelarang istriku untuk bertanya Hem.." Tangan Vano mencubit pipi Ayra.


"Apaan sih mas sakit tau.."


"Mau lagi...?"


"Enggak.." Ayra menutup kedua pipinya dengan telapak tangan.


"Mau tanya apa.."


"Bagaimana mas bisa dapetin rumah dan bisnis perhiasan milik papa..?"


"Jangan ngeremehin suamimu ya.."


"Aku bertanya Bee.. Terus kakak sama mama tiriku dimana..?"


"Aku meminta Han untuk mendapatkan informasi apapun tentang keduanya.."


"Han mulai besok kamu cari informasi tentang saudara dan mama tiri Ayra."


"Hemmmmm.,.. Oke. Tunggu info dariku ya.."


Vano menganggukkan kepalanya dan menatap punggung Han yang keluar dari ruangannya.


Tidak sulit bagi Han hanya untuk mendapatkan informasi tentang nya.


Keesokan paginya, Han bolak balik menunggu Vano diruanganya. Begitu mendengar pintu dibuka dari luar Han langsung membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


"Van tentang Amel."


Setelah Vano mendudukkan dirinya dikursi kerjanya, Han siap memulai ceritanya.


Amel memiliki seorang kekasih plus manager nya, tapi Dion ini juga punya kekasih selain Amel.


Dion adalah orang yang memegang semua kontrak kerja Amel sekaligus memegang honor kerja Amel. Dion dan Amel adalah pasangan kekasih, tapi selain Amel Dion memiliki kekasih yang lain.


Dion numpang hidup pada amel dengan mengatasnamakan cinta. Amel yang dibutakan oleh cinta tak mencurigai Dion sama sekali, Dion yang mengatakan jumlah tabungan Amel yang terus meningkat adalah kebohongan, uang itu tak pernah ada. Habis untuk Dion berfoya-foya dengan kekasihnya.


Pagi itu Han menemui Amel dan mengatakan bahwa Amel dan Sarah harus segera keluar dari rumah Ayra dan meningalkan bisnis milik papanya.


"Emang Lo siapa ngatur-ngatur hidup gue.." jari telunjuknya mendorong dada Han.


"Gue Han, emang Lo gak kenal gue.." Han mengimbangi Amel.


Mendengar ada yang ribut diluar Sarah segera melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


"Ada apa pagi-pagi ribut dirumah orang." Sarah yang melihat Han seperti tidak asing dengan muka itu.


"Kamu lagi.... Ngapain disini..?"


"Saya hanya menjalankan tugas dari bos. Meminta anda berdua untuk segera mengosongkan rumah ini..!" Han memberi penegasan pada keduanya.


"Emang bos Lo siapa,.? Apa dia pemilik rumah ini..? Ini rumah suami saya.."


Tak berapa lama sebuah mobil mewah parkir didepan rumah, keluarlah sosok laki-laki 50 tahunan. Sosok yang tak mereka kenal sama sekali, kecuali Han.


Ini adalah seseorang yang ditunggu-tunggu nya.


"Tentu pak Anton, karena ada pembuat masalah disini.." Mata Han menatap tajam pada Amel dan mamanya.


"Maaf ibuk istri kedua dari mendiang bapak Atmaja.?" Tanya pak Anton dengan sopan.


"Saya kuasa hukum yang ditunjuk bapak Atmaja, saya akan menyampaikan wasiat dari beliau. Boleh kita duduk terlebih dahulu."


"Silahkan..." Ratna mempersilahkan mereka duduk, dan ia pun segera mendudukkan dirinya dikursi santai yang ada diteras rumah.


"Maaf sebelumnya, pak Atmaja mempercayakan semua pada saya. Bahkan jauh hari sebelum bapak sakit. Ini silahkan ibuk lihat salinan surat wasiatnya." Pak Anton menyodorkan sebuah map pada Sarah.


Dengan malas Sarah meraih map dari tangan pak Anton dan berlahan membukanya, seketika matanya membulat.


Amel yang ikut membaca isi map itu tak kalah terkejut dari sang mama.


"Apa ini maksudnya.." Sarah melempar map ke meja persis didepan pak Anton.


"Maaf saya hanya menyampaikan wasiat bapak. Saya baru kembali dari luar negeri, jadi baru sekarang saya berkesempatan menyampaikan!"


"Saya sebagai perwakilan dari Ayra disini meminta Bu Sarah dan Amel, untuk segera mengosongkan rumah ini paling lambat 2 hari kedepan.."


"Ma kita mau tinggal dimana?" Amel menggoyang-goyang lengan ibunya.


"Bapak Atmaja sudah menyiapkan rumah untuk anda berdua dikawasan xx."


"Maaf ya saya gak Sudi, anak saya ini model terkenal. Hanya untuk membeli rumah itu kecil.." Sarah memetikkn jarinya pada mereka.

__ADS_1


Asisten Han dan pak Anton pamit undur diri, kemudian berlalu dari hadapan keduanya dan masuk dalam mobil masing-masing.


Setelah kepergian keduanya Sarah dan Amel masuk ke dalam rumah untuk berkemas.


"Sayang suruh Dion cari rumah yang lebih besar dari ini untuk kita."


"Tapi Ma..."


"Gak ada tapi-tapian, bukanya uangmu semua dia yang pegang.."


"Baik Ma, nanti Amel hubungi mas Dion."


Sarah melangkah masuk kedalam kamar, Amel mendudukkan dirinya disofa ruang tamu. Tanganya terus mengotak-atik benda pipih yang ada ditanganya. Berulang kali ia menghubungi Dion, tidak ada jawaban dari seberang sana.


Amel menarik nafasnya dalam-dalam, "Kenapa Dion tidak menjawab telepon nya..? Kemana perginya dia.."


Amel dikagetkan dengan suara dering ponselnya, tertulis nama Dion disana.


"Hallo sayang.."


"Kemana aja sih, ditlpn dari tadi gak diangkat.."


"Maaf sayang tadi aku sedang meeting, gak bawa ponsel jadinya."


"Mas beliin aku rumah yang lebih gede dari rumah ini.."


"Maksudmu apa sayang, kenapa tiba-tiba.." Dion tampak gelagapan.


"Ceritanya panjang, aku gak berhak atas rumah ini. Itu wasiat dari papa tiriku.."


"Jadi kamu diusir sayang..?"


"Pokoknya aku sama mama harus pindah dari rumah ini."


"Sayang cari rumah kan gak kayak beli kacang sehari langsung dapet.."


"Ya usaha secepatnya donk, emang kamu mau aku sama mama tinggal dibawah kolong jembatan..?"


Dion dikasih kesempatan Amel paling Lamat 1 hari untuk mencarikan sebuah rumah, Dion pura-pura menyanggupi. Dan akan mengabari Amel jika sudah mendapatkan rumahnya.


Boro-boro cari rumah, cari makan aja Dion harus bohong kesana kesini. Sementara uang dibank sudah habis untuk menyenangkan pacarnya.


****


Setelah mendapatkan sertifikat rumah dan bisnis papa Ayra, Vano akan menggunakannya sebagai hadiah ulang tahun Ayra nanti.


Asisten nya emang sangat bisa di andalkan.


Ayra yang mendengarkan Vano bercerita sebenarnya tidak tega sama mama dan kakak tirinya, tapi toh papanya sudah menyiapkan tempat tinggal untuk mereka.


"Sayang kamu mikirin apa..?"


"Enggak mas, kasihan mereka berdua ya mas.."


"Biar mereka ngerasain apa yang kamu rasain dulu sayang. Udah ayo kita tidur.."

__ADS_1


Ayra merebahkan tubuhnya dengan miring menghadap Vano, Vano menyelimuti tubuh istrinya kemudian ikut masuk ke dalam selimut.


__ADS_2