
"Sayang sekarang udah boleh."
"Boleh mas aku milikmu.."
Vano mulai menciumi dan melu*at bibir istrinya, semakin dalam dan semakin menuntut.
Ayra membalas perlakuan Vano, cukup lama bibir mereka saling berpagutan. Puas dibibir turun menciumi leher jenjang istrinya, Vano meninggalkan banyak jejak kepemilikan disana.
Tangan Vano membuka pakaian bagian atas istrinya, melepaskan kancing bra nya. Tampak dua gundukan menyembul disana, Vano yang langsung melahapnya.
Ayra men**ah nikmat dengan permainan Vano, Vano ******* p**udara Ayra dan tanganya dimasukkan ke dalam celana Ayra.
Vano mulai meraba-raba area sensitif istrinya, des**han Ayra membuat semangatnya terpompa. Keduanya melewati malam panjang dengan bermandikan keringat, malam penuh kenikmatan bagi keduanya. Mereka melakukan hingga dini hari, Ayra yang kelelahan akhirnya tertidur. Vano yang menyelimuti tubuh polos istrinya, dengan meninggalkan ciuman sayang dikening istrinya. Pagi hari Ayra terjaga lebih dulu, badannya terasa remuk dan rasa perih dipangkal pahanya.
Ia mulai mengingat-ingat apa yang semalam terjadi, Ayra beringsut berlahan akan menuruni ranjangnya, "Awww... sakit..!"
Mendengar istrinya berteriak Vano segera membuka matanya, Dilihatnya Ayra yang terduduk dilantai dengan tubuh polosnya.
"Sayang kamu kenapa.." teriak Vano panik.
Melihat Vano sudah terbangun Ayra merasa malu dengan tubuh polosnya, ditariknya selimut yang menutupi tubuh Vano.
"Aaaaa.... apaan sih Van kenapa belum pakai baju."
"la emang kenapa sayang, aku juga baru bangun."
"mau aku bantuin ke kamar mandi..?" Ayra hanya terdiam, ingin rasanya menerima tawaran Vano tapi malu sekali rasanya.
Vano segera mengangkat tubuh polos Ayra ala bridal style ke kamar mandi, dan mendudukkan di bathtub dan mengisi air hingga penuh dan memasukkan sedikit aroma terapi. Vano segera masuk ke bathtub ingin mandi bersama.
"Eh Van mau ngapain..?"
"mau mandi.!" jawabnya santai.
"Aku mandi duluan Van aku malu..."
"Gak usah malu Ra, bahkan aku sudah melihat semuanya. Gak ada yang terlewat kan.." Vano tergelak tawa.
"Dasar mesum.."
"Biarin kan halal.."
Setelah satu jam berlalu Vano dan Ayra menyelesaikan acara mandinya, Ayra membantu Vano menggunakan pakaianya.
Saat Ayra memakai makeup dan berdandan didepan meja rias, tampak Vano sedang menerima telepon dari seseorang.
Terlihat pembicaraan mereka serius dan Vano segera mengakhiri panggilan nya.
"Van siapa yang menghubungi kelihatan serius banget."
"Han izin tidak kekantor sayang, Rima masuk rumah sakit.."
"Hah... kok bisa.." Ayra sangat terkejut mendengar sahabatnya masuk rumah sakit.
Setelah mereka berdua sarapan Ayra dan Vano melajukan mobilnya kerumah sakit tempat Rima dirawat. Setelah sebelumnya Vano menghubungi sahabatnya meminta izin agar Ayra datang terlambat.
__ADS_1
Vano mengetuk pintu ruang perawatan Rima, setelah Han membukakan pintu Ayra berhambur masuk.
Diatas brankas dilihatnya Rima tergolek lemah, dengan luka lecet dibeberapa bagian tubuhnya.
"Rim Lo kenapa bisa kayak gini.?" Ayra memegang tangan Rima dan menangis sesenggukan.
"Cengeng banget sih Lo Ra, gue gak apa-apa hanya lecet-lecet dikit. Tadi pas gue nyebrang jalan gak lihat-lihat jadi keserempet mobil. Mungkin lagi apes.." dengan tangan Rima menggenggam balik tangan Ayra.
Setelah tangisannya mereda Ayra melihat sekeliling ruangan tempat Rima dirawat, ada Han, Vano, dan seseorang berjas putih berdiri disana.
"Rob Lo dari tadi disini..?"
"Gue tadi dipanggil suster ada pasien kecelakaan pas gue lihat di UGD ternyata Rima. Gue tungguin sampai kak Han Dateng."
"Terus bagaimana keadaanya Rob.."
"Rima pusing mungkin karena benturan keras saat jatuh, tadi udah di Rontgen gak ada masalah. Tinggal nunggu luka lecetnya kering dan kesehatannya pulih."
Setelah mendengar Roby menjelaskan panjang banget, Ayra ngerasa sedikit tenang. Gak ada yang serius pada sahabatnya."
Papa Reno dan mama Mely tergopoh-gopoh mendatangi ruang tempat Rima dirawat, setelah mendapat kabar dari Vano keduanya sangat mencemaskan keadaan Rima dan langsung memutuskan kerumah sakit sebelum ke kantor.
Bagaimanapun juga Rima dan Han sudah dianggap anak sama orang tua Vano, "sayang bagaimana keadaanmu.?"
"Gak ada yang perlu dikhawatirkan Tante, hanya lecet sedikit."
Dalam hati Rima bahagia banget, setelah Vano menikah dan ada Ayra dikeluarga mereka, kasih sayang papa Reno dan mama Mely tidak berubah terhadapnya dan kak Han.
Setelah orang tua Vano berpamitan untuk ke kantor sekarang giliran Ayra dan Vano.
"Kak Han, Ayra tinggal dulu ya.."
"Yuk Han.." tangan Vano menepuk-nepuk pundam asistennya itu.
"Terimakasih Van, Ra, hati-hati dijalan.."
Ayra tersenyum dan berlalu pergi sambil melambaikan tangan.
****
Hari ini Ayra disibukkan dengan banyaknya kerjaan, jam makan siang nanti ada pertemuan dengan pemilik Bimantara group. Ada permasalahan yang harus ia tangani bersama team nya.
Disebuah restoran ruang vip tempat dimana mereka akan bertemu dengan klienya, team Ayra harap-harap cemas semoga bisa memenangkan kasus ini batinya.
Kedatanganya disambut baik oleh seorang laki-laki paruh baya, namun masih terlihat gagah dan berwibawa, dia adalah pak Bimantara.
Semua makanan sudah siap dimeja makan, mereka akan makan siang terlebih dahulu kemudian membahas masalah hukumnya.
Tak lama masuklah seorang laki-laki yang mungkin seusia Ayra, dia yang tadi berada di toilet saat Ayra dan teamnya datang.
"khayra kamu disini."
Mendengar namany dipanggil Ayra pun mendongakkan kepalanya keatas, ke sumber suara.
"Rafa... Aku kesini atas undangan bapak Bimantara. kamu sendiri atas undangan juga?"
__ADS_1
"enggak Ra, ini papaku. Pa ini Ayra sahabatku waktu kuliah di Eropa."
"Jadi kalian sudah saling kenal, malah lebih enak bahas pekerjaan nanti." ucap pak Bimantara.
Bimantara langsung setuju dengan kasusunya ditangani Ayra dan teamnya.
"Oh maaf Fa, aku bener-bener gak tahu."
"gak apa-apa, ayo kita lanjutkan makan siangnya."
Setelah acara makan siang selsesai, Ayra meminta waktu untuk mempelajari kasus yang ada diperusahaan Bimantara. Setelah itu Ayra menjelaskan strategi dan langkah yang harus diambil, pak Bimantara begitu suka cara Ayra menyampaikan cukup jelas dan mudah dipahaminya.
Kerjasama antara team Ayra dan perusahaan Bimantara pun terjalin, mereka harus mempersiapkan semuanya dengan baik mengingat ini adalah kasus yang sangat tidak mudah.
****
Sepulangnya dari restoran Ayra ke rumah sakit untuk mengunjungi Rima, Ayra mampir ke toko buah terlebih dahulu untuk membeli beberapa buah untuk sahabatnya.
Siang ini Ayra pulang kerja dijemput mang Dadang, Vano yang meminta mang Dadang untuk menjemput Ayra.
"Bagaimana keadaanmu Rim." Rima yang tiduran dengan memainkan ponselnya.
"Udah mendingan Ra, gue mau pulang aja gak enak dirumah sakit."
"Emangnya sudah diizinin sama dokter."
"Belum tau juga kak Han masih keluar sebentar."
Mereka menghentikan obrolanya saat mendengar pintu terbuka, dan benar kak Han masuk keruang rawat Rima dengan membawa sekantong makanan.
Han membawa martabak, menyerahkannya pada Ayra.
"Udah dari tadi Ra.? ini ada martabak kalian makan gih."
"Belum kak baru aja masuk.." Ayra mengambil kantong ditangan Han dan menyuapkan pada Rima. Tangan kiri dipasang infus dan yang kanan lecet-lecet parah, Rima pun tidak menolak disuapin sahabatnya.
"Gimana kak..? boleh pulang hari ini." Dengan mulut yang masih mengunyah.
"Besok pagi, malam ini masih disuruh nginep dulu."
"Gak apa-apa, semua kan demi kebaikan kamu juga." Celetuk Ayra.
Gak terasa hari sudah semakin petang, Ayra pamit undur diri pada Rima dan kak Han.
Saat Ayra akan keluar ruangan Rima, terlihat Roby menghampirinya.
"Ra udah mau pulang??"
"Iya Rob udah mau Maghrib nie. Kamu sendiri?"
"Aku baru aja selesai jaga, rencana mau jenguk Rima terus pulang. Mau aku anter gak?"
"Maaf Rob, ada mang Dadang nunggu didepan. Oia aku duluan ya."
Roby menatap punggung ayra yang semakin menjauh, ia pun berjalan memasuki ruang rawat sahabatnya.
__ADS_1