
Mama Mely sangat antusias menyiapkan pernikahan Vano, papa dan mama ingin pernikahan Vano diselenggarakan dirumah
Karena ayra sudah tidak memiliki orang tua, semuanya orang tua Vano yang mengurusnya.
Vano mengingatkan mama nya untuk tidak perlu capek-capek, banyak pelayan mama yang bisa bantuin gak harus mamanya sendiri.
Papa Reno menyerahkan semua pada istrinya, tidak diragukan lagi selera istrinya.
"Ra ntar kalau Lo udah nikah sama kak Vano gue balik kerumah aja ."
"Disini aja Rim, Deket dari tempat kerja Lo. Gue kan ikut suami, Lo ya disini aja."
"Gue gak enak sama Lo dan kak Vano."
"Kayak sama siapa aja sih lo.."
"Pasti ntar gue kangen banget tidur bareng Lo Ra."
"Gue juga.."
Mereka berpelukan, rasanya kayak mau pergi jauh aja.
Hari pernikahan pun tiba, Ayra terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna putih. Dan Vano terlihat sangat tampan dengan setelan tuxedo warna hitam.
Para tamu undangan sudah mulai memadati seluruh pekarangan rumah papa Reno, Vano duduk berhadapan dengan pak penghulu.
Vano mengucapkan ikrar pernikahan dengan satu tarikan nafas, dan sah sah sah... Semua yang hadir meneriaki Vano, Khayra Atmaja resmi menjadi istri Devano Setya Nugraha.
Banyak media dari beberapa stasiun TV meliput acara pernikahan Vano secara live, beberapa pasang para menatap layar televisi dengan wajah tidak suka.
Amel, Sarah, Alexa.
Ayra juga mengundang Roby dan Rafa diacara pernikahannya, "Ra selamat ya, gue kira beneran dia kakak Lo ternyata calon suami. Gue kalah start nie," ucapnya" Ayra dan Rafa tertawa bersama.
Setelah Rafa turun panggung Rima datang bersama Roby, "Ra selamat ya, kak Van selamat ya. Jangan lupa cepet-cepet Lo kasih gue ponakan."
Vano dan Roby menatap nanar kedua sahabat ini, wajar lah mereka sudah kayak kakak adek.
"Lo Rim, buruan nyusul ya. Jangan lama-lama jadi perawan tua Lo ntar."
"Enak aja Lo ngomong.."
Kak Han duduk bersama orang tua Vano, acara ini tak lepas dari campur tangan Han.
Hari ini semua orang terlihat sangat bahagia, waktu pelemparan bunga pun dimulai.
Rima dan Roby sudah ada dibelakang penganten, Rima yang hemoh gak mau ketinggalan.
Begi akan dilemparkan pengantin membelakangi tamu undangan dan, Ayra turun dengan membawa buket bunga ditanganya.
Ayra menghampiri meja mertuanya dan memberikan bunga ditanganya pada kak Han, sontak semua tamu undangan bertepuk tangan.
Han tidak menyangka Ayra akan melakukan ini untuknya, Vano yang melihatnya dari atas hanya tersenyum.
Semua tamu undangan dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang ada, saat itu dimanfaatkan Ayra dan Vano untuk duduk.
"Sayang kamu capek ya."
"iya Van, sepatunya ketinggian. Kakiku kayak mau patah.."
"Mau aku pijitin kakinya..?"
__ADS_1
"Enggak ah, malu tau."
"ya udah ntar malam aja aku pijitin seluruh badan tanpa ada yang terlewat."
Ayra menatap tajam ke arah Vano, bukanya takut Vano malah tersenyum.
Malam ini Ayra dan Vano menginap dirumah mertuanya, besok pagi Vano akan memboyong Ayra kerumahnya sendiri.
"Sayang kenapa buru-buru, tinggal disini kan gak papa biar rame."
"Ma Vano ma Ayra ingin mandiri."
"Tapi mama masih mau mantu mama tinggal disini."
"Kan kita bisa nginep lagi lain kali ma."
Akhirnya mama Mely mengalah, Vano bener-bener membawa menantunya pergi.
Papa yang melihat perdebatan Vano dan mama hanya tersenyum tipis.
"Vano kan suaminya Ayra ma, biarkan mereka mandiri. mama bisa setiap hari kerumah Vano."
"Tapi baru semalam mereka nginep pa, maksud mama paling enggak seminggu gt."
"Gimana kalau kita bikin adek buat Vano." Papa merangkul pundak mama tersenyum penuh maksud.
"Apaan sih pa, gak inget umur ini si papa."
"Emang kenapa ma.? kan gak papa."
"Aduh.. sakit ma..." Mama terus mencupit perut papa dan membawanya kedalam rumah, dengan papa yang terus berteriak kesakitan.
****
"Pagi mang, mang turunin barang yang ada di bagasi mobil ya."
"Siap den." Mang Dadang segera membuka pintu bagasi dan mengeluarkan 2 koper yang cukup besar
"Pagi den Vano, nona Ayra." Sapa bik Yem yang menghentikan aktifitas memasaknya dan menghampiri Vano
"Pagi bik.." Ayra hanya tersenyum menanggapi sapaan bik Yem. "Sayang ini bik Yem, istrinya mang Dadang."
"Bik saya Ayra." Ayra mengulurkan tanganya bersalaman dengan bik Yem.
"Selamat datang dirumah ini non Ayra."
"Panggil Ayra bik.."
Ayra tersenyum ramah kepada bik Yem, kepala asisten rumah tangga Vano.
"bibik sendirian aja yang lain pada kemana."
"Ada non, saroh dan Dina lagi belanja. Tini bersih-bersih ditaman belakang non."
"Oh gitu, Maaf bik aku tinggal ke kamar dulu ya."
"Silahkan non, kamar den Vano ada diatas."
"Terimakasih bik.." Ayra berlalu pergi ke kamar sesuai arahan bik Yem.
"Den Vano gak salah pilih istri, udah cantik, baik, dan sopan sekali. Beda sama non Alexa." Ucap bik Yem yang tanpa sengaja didengar mang Dadang dari arah belakang.
__ADS_1
"Hayo ngomongin apa." Ketahuan den Vano habis kita.
"Eh... tak kira gak ada orang tadi. Emang kenyataanya kayak gitu kan..?
"Udah gak usah bahas ini, lanjutkan kerjanya."
mang Dadang berlalu pergi ke depan menjaga gerbang dengan seorang satpam disana.
Ayra mendongakkan kepalanya dipintu kamar dan melihat sekelilingnya, tidak mendapati Vano disana.
Berlahan ayra berjalan mendekati tempat tidur yang berukuran king size, dan mendudukkan pantatnya dipojok tempat tidur.
Ayra mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi, menandakan ada orang didalam sana.
"Sayang kamu ngelamun."
Kedatangan Vano mengagetkan Ayra
" enggak Van, aku tadi habis ngobrol bentaran Ama bik Yem."
Vano merangkak naik ke atas tembat tidur, duduk menyender dikepala tempat tidur dengan memainkan ponselnya. Seketika pandanganya beralih pada istrinya yang sedikit manyun, karena dicuekin.
"sayang ayo sini." Dengan tanganya menepuk-nepuk tempat tidur disebelahnya.
Ayra merangkak naik sesuai dengan perintah suaminya, Ayra menyandarkan punggungnya ditubuh Vano.
"Sayang terimakasih." Vano menggenggam tangan Ayra kemudian menciumnya dengan posisi masih sama.
"Terimakasih untuk apa Van, bahkan aku belum memberikan apapun padamu."
Bertepatan dengan malam pertama mereka ternyata khayra kedatangan tamu.
"Untuk segalanya sayang, cinta,kasih sayang.
Vano membalikkan tubuh ayra, kini mereka berhadapan Vano memeluk ayra dan menciumi pucuk kepalanya dengan sayang.
"Kamu tinggal dirumah ini sendiri Van, kenapa gak dirumah mama. Kan kamu anak tunggal pasti mama sedih banget.?"
"Setelah lulus kuliah aku balik ke Indonesia, papa sama Mama masih di new York. Rumah ini kado ulang tahunku yang ke 25. Papa dan mama baru 3 tahun menetap di sini. Apa kamu gak keberatan sayang kalau kita tinggal serumah sama orang tua ku.?"
"Orang tuamu orang tuaku juga Van, mana mungkin aku keberatan. Justru aku malah seneng banget, aku jadi ngrasa punya orang tua lengkap." Mata khayra mulai berkaca-kaca, mengingat orang tuanya yang sudah disurga.
Vano yang menyadari kesedihan Ayra mengalihkan pembicaraan, "Bagaimana kalau kamu berhenti kerja sayang..? Biar aku yang kerja kamu dirumah aja."
"Bekerja itu mencari hiburan untukku gak ada bebas sama sekali. Lagian aku dirumah terus kan bosen."
"Boleh kerja tapi gak boleh deket-deket sama laki-laki lain." Ucap Vano penuh penekanan.
"Bagaimana gak boleh Deket, kalau sama bos kan gak enak. Ntar dikira menghindar lagi.."
"Ya udah kamu pindah ke kantorku, kan aku jadi bosya.."
Gak terasa waktu sudah semakin siang, Vano dan Ayra menuruni anak tangga menuju meja makan.
Mereka berdua makan siang bersama, para asisten rumah tangga kembali kebelakang. Dibelakang dapur ada sebuah ruangan tempat para asisten rumah makan, lihat tv dan istirahat siang.
Setelah majikanya makan, para asisten mengemasi meja makan. Kemudian mereka makan di ruangangannya, Termasuk supir dan keamanan dirumah Vano.
Meskipun Vano terlihat dingin dan cuek, dimana para asisten rumah tangga Vano majikan yang cukup baik.
Tak pernah sekalipun memarahi para pekerjanya, dan Vano gak pernah membedakan mereka. Apa yang Vano makan mereka juga makan, walaupun kadang Vano kerja keluar kota Vano meminta asistennya untuk menyiapkan hidangan seperti biasanya.
__ADS_1
Ya itu semua untuk para asistennya, Vano gak mau mereka membedakan saat ada Vano ataupun tidak.