
Tuuuttttt.....
"Hallo Ra, tumben kamu telepon Om duluan. Masih ingat Om ya..?, atau lagi inget aja nie.." Anton terus menggoda Aira.
"Hallo Om, maaf om Anton laki-laki Ayra datang untuk ngerepotin Om." Ayra berbicara dengan suara parau khas orang menahan tangis.
"Sayang ada apa...?, Kenapa kamu nangis nak..?"
"Om Anton sekarang di mana Ayra pengen ketemu, ada yang ingin Ayra bicarakan sama Om Anton."
"Om lagi ada kerjaan di aussie nak, mungkin beberapa hari lagi baru kembali. Kamu di mana sekarang??"
"Ayra lagi di jalan Om, Ayra pergi dari rumah Vano ada sedikit masalah antara kami berdua. Ayra mau tanya masalah rumah yang papa kasih untuk Mama Sarah dan kak Amel, daripada kosong rencananya Ayra mau tempatin Om."
" Rumah itu sudah ditempati mereka berdua Ra, karena Amel ditipu pacarnya. Sekarang ibu dan saudara tirimu sudah menempati rumah itu."
"Hhuuuhhh..." helaan nafas panjang terdengar dari mulut Aira.
"kasihan sekali kamu Ra, pak Atmaja mungkin sekarang waktunya Aira tahu semuanya. Aira sudah cukup dewasa untuk mengambil alih apa yang sudah menjadi haknya." ucap Anton dalam hati
" Gini Ra, Om kasih alamat untuk kamu tinggal di sana. Tunggu sampai Om Anton dan Tante Ana kembali."
Setelah panggilan berakhir Anton segera mengirimkan alamat sebuah tempat tinggal pada Ayra.
"Pak kita langsung ke jalan A. AMJ Raya ya pak"
" Baik Non.."
Saat taksi yang ia tumpangi berbelok di sebuah jalan Ayra seperti melihat suasana di luar negeri. Hunian Megah di tempat yang asri, seperti sedang berada di sebuah desa yang ada di tengah kota.
__ADS_1
Mobil pun berhenti di depan sebuah gerbang, bangunan yang didesain dengan begitu megahnya dan terdapat pagar besi yang mengelilingi bangunan.
"Kita sudah sampai Non.." Pak supir membuyarkan lamunannya.
"Bener ini ya pak tempatnya,,?" Ayra sedikit ragu.
"Bener kok Non, jalan ini hanya ada satu bangunan Non."
Setelah Ayra membayar ongkos taksi, taksi pun segera meninggalkan Ayra.
Ayra berjalan ke arah pintu gerbang, seorang laki-laki berbadan tegap dengan setelan serba hitam menghampirinya.
" Maaf Mbak ada yang bisa saya bantu..?"
" Saya diminta pak Anton untuk datang ke sini.."
"Silahkan masuk Non mari saya bawakan barangnya.."
Beberapa pekerja sedang melakukan tugasnya masing-masing seperti membersihkan rumah dan merapikan bunga hingga mengganti bunga kering dengan yang baru.
Ketika Ayra melewati para pelayan sontak mereka menunduk memberi hormat kepada tamu di rumah ini.
" Selamat datang di mension ini nona muda.."
tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya menyapanya.
" Terimakasih pak..."
" Panggil saya Yoseph nona, mari saya antarkan nona muda ke kamar."
__ADS_1
Ayra mengangguk, ketiganya berjalan masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai tiga di mana kamar Ayra berada.
"Silahkan masuk nona, ini kamar anda semoga Anda betah tinggal di sini."
" Pasti pak Yoseph, ini kamar yang sangat indah."
" Ini barang anda Nona, nanti saya panggilkan seorang pelayan untuk menatanya di dalam lemari.." ucap pria yang berseragam serba hitam.
" Tidak perlu tidak perlu saya akan menata barang saya sendiri.."
" Kalau begitu kami pamit undur diri dulu Nona, selamat beristirahat. Jika nona membutuhkan sesuatu silahkan Nona tekan tombol yang ada di sana untuk memanggil pelayan.." ucap pak Yoseph seraya menunjuk tombol yang ada di tembok sebelah tempat tidur.
Setelah kepergian pak Yosep dan pria berseragam hitam Ayra segera mengelilingi kamarnya, kamar yang cukup besar 5 kali lebih besar daripada kamar yang iya tempati bersama Vano.
Setelah puas seharian menangis, Ayra pun tertidur diatas kasur.
*****
Hari sudah hampir tengah malam, mobil Vano masih memutari kota menelusuri setiap jalan untuk mencari istrinya.
"Maafkan aku Ra, aku sudah berusaha melupakan Alexa tapi nyatanya masih belum sepenuhnya."
Kondisi vano yang sangat berantakan lelah seharian dikantor, belum lagi istrinya yang entah dimana.
Vano memutuskan untuk kembali kerumah, pak Dadang yang membukakan gerbang dan melihat majikanya yang tak seperti biasanya.
Wajah lelah dengan pakaian yang berantakan, dasi yang miring kemana dan kemeja dengan kancing terbuka.
Begitu memasuki kamarnya Vano duduk dipinggir tempat tidur, ia tertunduk memandangi tempat tidurnya sesekali pandangannya menyapu seluruh kamar.
__ADS_1
Biasanya ada yang menyambutnya saat pulang kerja, senyum istrinya terus mengisi benak Vano. Hingga pukul 04:00 pagi Vano tertidur dengan sepatu yang masih terpasang dikedua kakinya.