
Seorang wanita duduk dengan gelisah disebuah cafe x, terlihat begitu cemas mungkin sedang nunggu seseorang.
Tak lama setelah itu datang laki-laki yang sangat tampan menghampiri mejanya, kemudian duduk persis keduanya saling berhadapan.
"Sayang akhirnya kamu datang juga.." Bibirnya terus mengulas senyum.
"Hem.. Ada apa memintaku kemari.? Vano terlihat begitu cuek.
"Tenang sayang, aku sudah memesankan coffe latte kesukaanmu. Minumlah dulu.." Alexa menyodorkan cangkir didepan Vano.
Jika dilihat keduanya adalah pasangan yang begitu serasi, laki-laki tampan dengan wanita yang sangat cantik.
"Jelaskan apa maksudmu dengan semua ini.."
"Sayang aku datang untuk meminta maaf, aku pergi tanpa pamit..?
Vano mengenyitkan kedua alisnya mendengar penuturan wanita yang ada dihadapannya, wanita yang dulu begitu dicintainya.
Tiba-tiba pergi tanpa alasan, sekarang kembali sungguh tidak habis pikir.
"Aku pengen kita balikan sayang, ayo kita lanjutkan rencana pernikahan kita. Aku akan buktikan pada orang tuamu, aku pantas mendampingimu.."
Vano semakin tak mengerti dengan wanita yang ada didepanya, begitu mudah ingin membalikkan keadaan.
"Apa kamu gak ingin tanya kemana aja aku selama 4 tahun ini..?"
"Sayang aku tau kamu menungguku.."
"Aku sudah menikah.."
Alexa yang sudah mengetahui pernikahan Vano tidak terkejut sama sekali, ia justru tersenyum seolah-olah ingin menutupi kekecewaannya.
"Sayang aku tau, tidak mudah untuk melupakanku. Kita pernah tinggal serumah waktu kuliah diluar negeri dulu. Apa istrimu tau tentang ini.."
Vano tak bergeming sama sekali, Alexa berfikir permainanya akan segera dimulai.
"Maaf waktuku sudah habis aku harus kembali kekantor.." Vano segera berdiri kemudian berbalik segera pergi dari tempat itu.
"Vano tunggu....!"
Seketika Vano menghentikan langkahnya.
"Aku akan berusaha agar kau mau kembali Van, aku bahagia bersamamu.."
Semua pembicaraan keduanya terdengar jelas oleh seseorang yang duduk membelakanginya dimeja sebelah, seseorang yang sangat mengenali seorang Devano dan khayra.
Tanpa membalikkan tubuhnya Vano segera melangkah keluar cafe, didalam mobil Vano terus saja memukul-mukul setir mobilnya.
Ada rasa marah yang tak bisa ia jelaskan, dadanya benar-benar terasa sesak. Nafasnya tersengal- senggal, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantornya.
****
Semua yang terjadi pada Vano tak luput dari pengawasan orang kepercayaan papa Reno, ditempat lain papa reno tersenyum.
"Apa yang akan dilakukan wanita ular ini pada rumah tangga putranya.."
Untuk sementara papa Reno akan membiarkan wanita itu bermain-main lebih dulu, papa Reno juga ingin tau seberapa besar perasaan Vano pada istrinya.
Sore itu dikediaman Vano terlihat Ayra sedang mondar-mandir didalam kamarnya. Sampai Maghrib Vano belum juga pulang dari kantor, berulang kali ia melihat ponselnya takut kalau suaminya memberitahu akan pulang larut.
Saat ia coba menghubungi nomor Vano tidak terhubung, jelas ini ponsel Vano mati.
Ia menepis pikiran yang buruk tentang suaminya, mencoba untuk positif thinking.
Mungkin suaminya sedang sangat sibuk dan lupa untuk memberinya kabar, bisa ia menanyakan pada kak Han tapi takut dianggap gak percaya pada suami nya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu, jarum jam menunjukkan pukul 8 malam. Belum ada tanda-tanda kepulangan suaminya.
Ia menghubungi ponsel Rima hanya ingin bertukar kabar pada sahabatnya.
"Hallo Ra, Apa kabar..?"
__ADS_1
"Baik Rim, Lo lagi apa..?
"Gak lagi apa-apa nie, biasa cuman tiduran aja.
Hening... Tidak ada suara dari Ayra diseberang sana..
"Ra lo baik-baik aja kan?"
"Hallo Ra.." Rima menaikkan nada bicaranya.
"Eh iya Rim, gue baik-baik aja. Lo ngomong apaan tadi."
"Bisa-bisanya lagi telpon malah ngelamun.."
"Hehehe... Gue gak kelamun kali.."
"Eh Ra, gimana ponakan gue udah ada..?"
"Apaan sih, belum kali nie gue lagi dapet."
"Jangan kasih kendor oke, Lo coba terus.."
"Nie orang bicaranya kayak tau aja. Buruan deh Lo nikah, Aku pengennya Lo sama Roby.."
"Apaan... Lo kan tau Roby sahabat kita."
"Kan udah saling tau satu sama lain, tinggal cintanya aja."
"Si*l*n Lo Ra.."
"Udah dulu ya, kayaknya Vano udah pulang tu.."
Vano berjalan gontai menaiki anak tangga, pikiranya melayang kemana-mana. Antara jujur pada istrinya atau diem seolah-olah gak terjadi apa-apa.
Ceklek... Vano memutar handle pintu kamarnya.
"Sayang udah pulang.? Banyak kerjaan ya kok lembur..?"
"Mandi dulu gih udah aku siapin airnya."
Vano mencium kening Ayra dan berlalu ke kamar mandi, untuk saat ini biarkan semua berjalan seperti ini. Nanti saat waktunya tepat pasti akan diceritakan semua pada istrinya.
Saat Vano keluar dari kamar mandi Ayra baru masuk kedalam kamar dengan membawa secangkir teh hangat untuknya.
Vano segera ganti pakaian tidur yang sudah disiapkan istrinya diatas kasur.
"Bee teh anget.."
"Iya sayang terimakasih.."
Ayra keluar kamar membawa pakaian kotor Vano ke tempat laundry, Vano masih menikmati teh buatan istrinya.
"Ayo makan malam bee.."
"Ayo sayang.."
Keduanya menuruni anak tangga menuju meja makan dengan bergandengan tangan.
Setelah makan malam selesai keduanya duduk disofa ruang tamu untuk menonton TV.
"Sayang seminggu lagi kita akan berbulan madu.."
"Tapi aku sedang berhalangan.."
"Bukanya seminggu lagi sudah selesai."
"hehe... iya Bee. Aku pikirkan dulu kita akan kemana.."
"Jangan sampai satu Minggu ya mikirnya."
Setelah kepulangan ya dari bulan madu Vano akan memberikan surprise untuk istrinya, semua sudah disiapkannya sejak lama. Dibantu asisten Han tentunya, Han sangat bisa diandalkan.
__ADS_1
*****
Vano duduk dikursi kerjanya, dengan tumpukan dokumen dimejanya.
"Van Lo jadi kan bulan madunya Minggu depan..?"
"Jadi donk... Tapi Ayra belum nentuin kemana..! seminggu ini kerja sedikit lembur ya.."
"Siap boss, Han mengangkat tanganya dan ditempelkan dikening."
Dikantor Vano terlihat sangat sibuk, makan siang pun hanya didalam ruangan dengan Han. Dirumah Ayra sudah memikirkan matang-matang kemana akan pergi, kemanapun kalau sama suaminya sudah sangat membahagian.
Ayra kedapur bersama bik Yem, Ayra berencana membuat kue brownies pagi ini.
"Bik... Ayra pinjem dapurnya ya..?"
"Non Ayra mau masak apa.? Bibik bantuin ya..?"
"Bibik lanjutin masaknya aja, Ayra mau bikin kue bik."
"Ya udah kalau gitu Non, bibik mau kebelakang dulu.."
Ayra mulai mencampurkan bahan-bahan brownies nya, tepung, telur, butter, mentega.
Sesekali lengannya mengusap keringat dikeningnya, bik Yem yang melihat majikanya senyum-senyum sendiri.
Ayra sudah memasukkan adonan kedalam loyang kemudian dimasukkan ke oven yang sudah dipanaskan.
Sambil menunggu kuenya Mateng, Ayra membersihkan peralatan kotor yang sudah tidak dipakai.
"Bik yem cobain nie kue brownies nya, mbk saroh sama mbk Tini juga."
"Bibik panggilkan dulu non."
Ke 4 wanita beda generasi itu duduk dimeja makan, Ayra memberikan potongan kue pada ketiga ART dirumahnya.
"Non Ayra, ini bener-bener enak banget kuenya."
"bik Yem bisa aja."
"Bener non ini tu enak banget, lumer dimulut..!"
"Ini mah kue brownies terenak yang pernah saroh makan Non,.."
Vano tiba dirumah pukul 5 sore, Ayra sudah mandi dan duduk disofa ruang tamu.
"Sore sayang..?"
"Sore bee,.." Ayra menyambut kedatangan suaminya dengan mencium punggung tanganya.
"Mas mau langsung yang, badan udah lengket semua."
"aku siapkan airnya ya mas.." Vano tersenyum dan mengangguk.
Vano sedang mandi seperti biasa Ayra turun membuat teh untuk suaminya, Vano yang keluar dari kamar mandi tak mendapati istrinya dikamar.
Ia menjatuhkan bobot tubuhnya diatas kasur, Vano meregangkan otot-otot nya.
Ayra membawakn Vano teh hangat dan camilan.
"bee aku tadi bikin kue, cobain ya? aku pengen tau tanggapan suamiku.."
Ayra memberikan sepotong kue pada Vano
"Enak sayang.."
"Beneran bee.." dengan mata berbinar.
"Beneran sayang, enak banget malahan.."
Ayra memeluk tubuh suaminya, dan Vano menciumi pucuk kepala istrinya dengan sayang. Aroma rambut istrinya yang bikin Vano betah berlama-lama disana.
__ADS_1