Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode22


__ADS_3

Satu Minggu sudah keduanya berada di new York, pagi ini Vano dan Ayra akan kembali ke Indonesia.


Setelah selesai memasukkan barangnya ke dalam koper keduanya menuruni tangga menuju lantai bawah, terlihat gema dan kedua mertuanya sedang menunggunya diruang tamu.


"Gema Ayra pamit dulu, gema jaga kesehatan ya.." Terlihat bola matanya mulai berkaca-kaca.


"Iya sayang, segera kasih gema cicit ya..?"


Luruh sudah air mata Ayra, Ia mencium punggung tangan wanita 70 tahun itu dan memeluknya dengan erat.


Vano melakukan hal yang sama seperti yang Ayra lakukan pada gema, berpamitan dan memeluknya erat.


"Nanti Vano sering-sering ajak Ayra kesini gema..!"


Gema mengangguk dan menepuk-nepuk pundak cucu satu-satunya.


Ayra beralih ke papa Reno, mencium punggung tanganya. Papa Reno mengusap kepala menantu kesayangan nya dengan sayang.


"Pa Ayra pamit dulu, jaga kesehatan ya pa..?"


"Iya sayang hati-hati ya.."


"Jaga istrimu Van.."


"Pasti pa.."


Ayra dan mama mely saling berpelukan, ada perasaan tak ingin jauh dari menantunya.


Ayra juga seperti akan berpisah dengan orang tuanya sendiri.


Papa Reno, mama Mely dan gema mengantarkan kepergian cucu dan menantunya hingga teras rumah, mobil melaju pelan meninggalkan rumah.


Ayra terus melambaikan tangan pada mertua dan Omanya, setelah tak terlihat lagi Ayra menyandarkan punggungnya pada jok mobil.


Langit yang sejak tadi mendung akhirnya luruh juga, air mata itu mengalir tanpa bisa dicegah ya.


"Jangan nangis gitu dong Ra, Nanti kita akan sering kesini..!"


Ayra hanya mengangguk seolah bibirnya kelu, sesekali punggung tanganya mengusap air pada pojok mata indahnya.


****


Sesampainya dibandara Indonesia mobil Vano sudah terparkir didepan dengan kak Han yang melambaikan tangan kearah nya.


"Kak udah lama nunggu..?"


"Enggak Ra, sekitar 10 menit lah..!"


Setelah ketiganya memasuki mobil, asisten Han melajukan mobilnya ke kediaman Vano.


Sesampainya dirumah Rima dan Roby sudah menunggu kedatangan Ayra, keduanya sedang duduk disofa ruang tamu.


"Selamat sore den Vano non Ayra..?" Mang Dadang menyapa keduanya dihalaman depan.


"Yang Baru pulang dari honeymoon ceria banget.."


"Iya nih Rob, makin lengket aja kaya prangko.."

__ADS_1


"Burun nikah makanya, nunggu apa lagi. Cepetan Rob halalin Rima donk.."


Mendengar ucapan Ayra Roby terbatuk-batuk, maunya sih halalin Rima tapi bagaimana kak Han aja belum nikah. Masa mau ngelangkahin yang tua.


"Apaan sih Lo Ra, ntar kak Han denger kan jadi gak enak gue.." Rima berkata dengan berbisik.


"Perlu gue bantu ngomong ke kak Han..?"


"Gak usah gak usah... Ntar aja kalau gue udah siap gue ngomong sendiri.."


Vano dan Han yang duduk sedikit menjauh dari ketiganya tak mendengar apa yang mereka bicarakan, Vano dan Han begitu fokus membahas bisnis.


"Silahkan non teh nya..?"


"Terimakasih bik Yem.."


"Sama-sama Non, bibik permisi kebelakang dulu.."


Hari menjelang malam Roby, Rima, dan Han pamit pulang duluan. Roby harus kembali kerumah sakit, ada jadwalnya jaga malam ini.


"Sayang kamu gak apa-apa kok pucet banget..?" Vano menempelkan telapak tanganya dikening Ayra.


"Gak apa-apa Bee, kayaknya aku mabok perjalanan deh pusing banget.."


"Perlu ku antar kerumah sakit..?"


"Gak usah Bee, mau tidur aja ntar pasti sembuh.."


Vano menggendong Ayra ke kamar mandi, keduanya membersihkan diri setelah itu naik ke atas tempat tidur.


Ayra yang merasa pusing terus memejamkan matanya, berusaha untuk tidur.


Vano menciumi kening Ayra dengan sayang, tak butuh waktu lama Vano tertidur disamping istrinya.


Ayra yang bangun lebih dulu bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri dan menggosok gigi. Saat menggosok gigi tiba-tiba perutnya terasa mual, seketika Ayra menghentikan aktifitas gosok giginya.


"Hoek..Hoek...Hoek.... "


Rasanya seperti mau muntah tapi gak ada yang dikeluarkan.


Ayra segera keluar kamar menuruni tangga dan menuju ke dapur, ingin minum yang hangat agar mualnya segera reda.


"Pagi Non, sapa bik Yem...?"


"Pagi bik.." Ayra tersenyum ramah pada bik Yem.


"Non Ayra gak apa-apa kok pucet Non..?"


"Gak apa-apa bik, cuman mabok perjalanan kayaknya.."


"Non Ayra duduk dulu, bibik bikinkan jahe anget yaa..?" Bik Iyem menuntun Ayra ke meja makan, dan Ayra mendudukkan dirinya dikursi.


"Ini Non jahe hangatnya.." Bik Yem meletakkan secangkir minuman hangat dihadapan Ayra.


"Terimakasih bik, ngrepotin bik Yem jadinya.."


"Gak apa-apa Non, ini sudah tugas bibik pembantu disini. Bibik permisi kedapur duluan Non..?"

__ADS_1


Ayra membalas bik Iyem dengan anggukan. Setelah meminum jahe setengah cangkir Ayra kembali ke kamar, mualnya sedikit berkurang.


Ayra yang tidak mendapati suaminya diatas kasur kembali merangkak naik, merebahkan tubunya diatas tempat tidur. Terdengar kemricik air dari dalam kamar mandi, sudah bisa dipastikan itu suaminya.


"Sayang kenapa denganmu, wajahmu pucat sekali..?"


"Aku gak apa-apa Bee, sepertinya efek mabuk perjalanan masih ada.."


"Sayang kita kerumah sakit.." Vano segera naik keatas ranjang dan meraih tangan istrinya.


"Gak mau kerumah sakit, buat tiduran aja nanti sembuh sendiri.."


"Janji dulu, sampai nanti malam belum sembuh harus kerumah sakit..!"


"Hem.." Ayra mengangguk pada suaminya.


"Istirahat gak perlu kemana-mana, aku akan meminta bik Yem mengantarkan sarapan ke kamar.." Vano menyelimuti tubuh istrinya dan beranjak turun dari atas ranjang.


Setelah rapi Vano segera turun ke bawah untuk sarapan, dimeja makan sudah ada asisten Han yang sedang menikmati secangkir kopi.


"Pagi Van...?"


"Hem.."


"Silahkan Den kopinya.." Bik Yem meletakkan secangkir kopi dimeja didepan Vano.


"Bik Yem, nanti sarapan Ayra bawakan ke kamar aja, Ayra sedang gak enak badan."


"Baik Den Vano.."


"Ayra sakit Van...?"


"Cuman gak enak badan, katanya mabuk kendaraan.."


"Gimana dengan kejutannya..?"


"Kita tunda dulu, cari waktu yang tepat."


Setelah sarapan keduanya masuk ke dalam mobil, Han membawa mobil meluncur menuju kantor.


Bik Yem yang mengantarkan sarapan untuk Ayra mendengar ponsel yang terus berdering, sedangkan yang punya masih tidur dibawah selimut.


Bik Yem meletakkan nampan berisi sarapan diatas meja, dan berjalan menghampiri nakas melihat siapa yang telpon pagi-pagi. Mungkin ada yang penting, dilihatnya tertulis nama Rima diponsel itu.


Bik Yem segera menggeser gambar telepon berwarna hijau pada layar.


"Hallo Non Rima."


"Bik Yem, Ayra kemana bik. Dari tadi aku hubungi gak diangkat..?"


"Maaf Non, ini bibik yang angkat. Non Ayra lagi gak enak badan.."


"Ayra sakit apa Bik.?"


"Katanya mabuk perjalanan Non.."


"Aku kesana sekarang bik, terimakasih.." Rima mematikan sambungan telepon nya dan naik ojek online kerumah Vano.

__ADS_1


Bik Yem membangunkan Ayra dan menunggu hingga majikanya itu selesai sarapan. Bik Yem pamit untuk kembali ke dapur dengan membawa nampan yang sudah kosong.


Setelah sarapan Ayra kembali membaringkan tubuhnya, ia mencoba memejamkan matanya agar tidak terasa pusing.


__ADS_2