Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 33


__ADS_3

Pagi setelah bangun tidur Ayra bergegas menuruni tangga menuju lantai bawah.


"Selamat pagi Nona muda, ada yang bisa saya bantu..?"


"Panggil saya Ayra pak Yoseph..!"


"Maaf Nona saya tidak bisa." Ucap pak Yoseph sopan dengan menundukkan kepalanya.


"Terserah bapak saja, bisa antarkan saya berkeliling pak Yoseph."


"Dengan senang hati Nona muda, mari kita berkeliling nona.."


Pak Yoseph menunjukkan ruangan demi ruangan yang ada di mansion, ada ruang baca di lantai 3 kamar tamu juga berada dilantai ini. Ruang kerja dan ruang pertemuan ada di lantai 5, ruangan ruangan dengan desain yang sangat indah seperti istana yang sering ia tonton di film-film.


Setelah berkeliling di dalam mansion ini pak Yosep membawa Ayra menuju halaman belakang mansion, di sana terdapat kolam renang yang cukup luas. Di sisi kolam terlihat taman mawar yang sangat indah, bunga-bunga yang terawat tersusun sangat rapi berdasarkan warna dan jenisnya.


Terdapat pula kebun buah mini di belakang mansion dengan kursi-kursi santai yang ada di bawah pohon.


"Luas sekali ya pak, om Anton memang pengusaha yang sukses.."


"Kira-kira begitu nona.."


"Apa Nona muda ingin tahu ruang rahasia di mansion ini..?"


"wahhh... ada ruang rahasianya..?"


Keduanya berjalan ke sisi mension, terdapat sebuah pintu besar berwarna sama seperti tembok. Jika tidak jeli melihat tidak akan tahu kalau ada pintu di tembok ini.


****


Hari menjelang siang Han keluar dari kantor dan menaiki mobilnya, iya meluncur ke kediaman Vano.

__ADS_1


40 menit berlalu mobil Han terlihat memasuki pekarangan kediaman Vano.


Han melihat mobil Vano terparkir rapi di dalam garasi.


"Selamat siang Den.." sapa Mang Dadang ketika melihat Han keluar dari mobilnya.


"Selamat siang mang.." sahutan dengan ramah dengan senyum yang mengembang.


Han segera memasuki rumah dan berjalan naik ke lantai 2 di mana kamar Vano berada.


tok.. tok.. tok...


Han mengetuk dengan keras pintu kamar sahabat sekaligus bosnya itu. Tidak ada jawaban dari dalam Han kembali mengetuk pintu lebih keras..


Tak lama terlihat gagang pintu diputar dari dalam dan pintu pun terbuka.


Muncul sosok Vano dengan pakaian yang berantakan, dan rambut acak-acakan jelas terlihat sejak kemarin Vano belum berganti pakaian bahkan masih mengenakan sepatu lengkap dengan kaos kaki.


Vano berjalan masuk ke dalam kamar dan Han mengikutinya.


"Istriku belum ketemu Ayra pergi dari rumah..!" Vano menjawab datar dengan berjalan sedikit sempoyongan.


"Apa yang lo lakuin sama Ayra,,"Han berbicara penuh penekanan.


"Ayra melihat aku dan Alexa di apartemennya.."


Han segera meremas kemeja Fano dan tangan kanan melayang ke atas dengan mengepal seperti ingin memukul Vano.


"Kenapa gue punya sahabat sebodoh lo Van, demi Alexa lu nyakitin Ayra." Han mendorong tubuh Vano dengan kesal hingga Vano jatuh ke belakang.


"Lo tahu kalau gue belum sepenuhnya ngelupain Alexa…"

__ADS_1


"Tega lo Van, tinggalin Ayra kalau lo pilih Alexa. Masih banyak laki-laki yang ingin bahagiain Ayra.."


Han segera berjalan ke arah pintu kamar Vano.


"Termasuk lo laki-lakinya..."


Han menghentikan langkahnya tanpa berbalik menatap Vano.


"Bisa jadi..!" jawab Han lalu berlalu pergi dengan membanting daun pintu kamar Vano.


"Hhaaaahhhh... Vano berteriak dengan mengacak kasar rambutnya.


****


Di New York papa Reno sedang termenung di ruang kerjanya dengan menatap layar komputer.


Ada perih di hatinya saat membaca beberapa email dari salah satu orang kepercayaannya.


Nasib rumah tangga putra semata wayangnya berada di ujung tanduk, bagaimana mungkin anaknya memilih wanita murahan itu daripada istrinya.


Andai Mama Vano tahu masalah ini, papa Reno tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Mungkin untuk sementara waktu papa Reno hanya bisa mengawasi anaknya dari kejauhan.


****


Saat memasuki ruang rahasia di mansion yang ternyata ada di bawah tanah. Ayra tak kuasa menahan tangisnya, ya Ayra melihat sosok yang sangat ia kenal. Kedua wanita beda usia ini tak kuasa berkata-kata dan menangis bersama sambil berpelukan. Para pelayan lain yang melihat kejadian ini ikut menitikkan air mata.


Pak Yoseph hanya berdiam diri menatap haru kedua wanita ini.


"Maafin Ayra yuk, Ayra nggak kuasa menahan yuk Darmi saat Mama Sarah memecat yuk Darmi.."


"Nggak apa-apa non, non Ayra nggak salah. Saya bersyukur bisa bertemu non Ayra di sini.." yuk Darmi mengusap air mata dipipi ayra dengan punggung jemarinya.

__ADS_1


Yuk Darmi membawa Ayra untuk duduk di kursi dan menceritakan semua kejadian setelah ia keluar dari rumah Ayra, hingga pak Anton memintanya bekerja sebagai kepala pelayan di mansion ini. Akhirnya para pelayan lain dan pak Yoseph mengerti hubungan masa lalu Nona muda dengan yuk Darmi.


__ADS_2