Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 36


__ADS_3

Han membantu membawakan barang bawaan papareno dan Mama Mely, sebagian barang sudah dibawa sopir menuju mobilnya.


Melihat kedatangan orang tua Vano yang begitu mendadak, membuatnya menerka-nerka mereka mengetahui permasalahan Vano.


"Silahkan om tante.." Han mempersilahkan kedua orang tua Vano untuk masuk ke mobil.


Setelah keduanya masuk Han menutup pintu mobil dan memutari mobil membuka pintu bagian depan untuknya sendiri. Han duduk di bangku penumpang bagian depan, diamnya orang tua Vano membuat Han menjadi salah tingkah.


"Han kita langsung ke rumah Vano..!"


"Siap Om.."


Hening tidak ada yang memulai obrolan di dalam mobil, Tante mely yang biasanya heboh juga hanya diam larut dalam pemikiran yang entah apa.


Mobil yang ditumpangi papa Reno sampai di halaman rumah Vano, pak sopir segera turun dan membuka pintu belakang untuk majikannya.


"Pak Asep barang-barangnya langsung dibawa ke atas.."


"Baik nyonya.."


Setelah semua barang masuk ke dalam kamar, di sini kamar untuk papa Reno dan mama mely saat menginap di rumah Vano.


"Han tunggu kita ngobrol dulu.."


Han yang akan menuruni anak tangga berbalik saat papa Reno memintanya tinggal, kini ketiganya duduk di ruang keluarga yang ada di lantai dua.


"Bagaimana ini bisa terjadi Han...?" ucap Mama Mely meski nada bicaranya pelan tapi cukup mengejutkan bagi Han.


"Awalnya saya juga nggak tahu tante, setelah Vano menceritakan semua baru saya paham kemana arah perasaan Vano.."


"Harusnya Vano tau kalau papa dan mamanya tidak pernah menyukai Alexa.!"


"Saya kira Vano sudah melupakan Alexa tante, tapi nyatanya tidak. Bagaimana bisa Vano memberikan apartemen pada Alexa jika tidak ada sesuatunya."


Mama Mely menitipkan air mata, sedang papa Reno memijat-mijat keningnya.


"Maafkan Han Om tante Han luput menjaga Vano.."


"Kamu tidak salah nak, Vano sudah cukup dewasa untuk memikirkan hidupnya.."


Ucap Laki-laki yang penuh wibawa dan cukup bijaksana dimata Han.


***


"Nona muda.. pak Anton menunggu Nona muda di atas."


"Om Anton sudah kembali.." Ayra segera berlari masuk ke dalam mansion.


"Nona muda pelan-pelan tidak usah buru-buru.." Pak Yoseph meneriaki Ayra yang berlari.


"Baik pak yos.." Ucapnya dengan masih berlari dan melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Om.. Tante... Ayra pulang.." Teriaknya dari tangga dengan sedikit ngos-ngosan.


"Sayang kamu bisa naik lift, kenapa harus lari-larian gitu.."


"Ini sehat Tante.." Ayra segera memeluk Tante Ana dan menciumi pipinya.


Wanita yang Ayra anggap sebagai pengganti ibunya, tanpa disadari Tante Ana menangis di pelukan Ayra.


"Tante Ana gak seneng ya ketemu Ayra, kok malah nangis..?"


"Ini tangisan bahagia Nak, mana mungkin Tante gak seneng ketemu Ayra.."


Kini giliran Ayra memeluk om Anton yang sejak tadi mematung menunggu gilirannya.


"Kamu sehat Ra..? kok Om perhatikan wajahmu sedikit pucat.."


"Ayra baik Om.."


" Itu mata juga kenapa sembab gitu, gak bosen apa nangis terus.."


"Apaan sih Om, siapa juga yang nangis terus.."


Suasana yang tadinya haru berubah menjadi tawa dari ketiganya.


"Terima kasih Om tante Ayra sudah ditampung di sini.."


"Hai sayang ini mension milikmu.."


Ayra hanya tersenyum tipis mendengar ucapan om Anton, om Anton mengatakan seperti itu karena Ayra sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri. Sampai saat ini om Anton dan Tante Ana belum dikarunia seorang keturunan di dalam pernikahannya.


Pak Anton mengeluarkan sebuah map dari kopernya, dan menyerahkannya kepada Ayra.


"Terimalah ini nak, ini adalah surat-surat penting peninggalan ayahmu.."


"Maksud Om..? Ayra sudah menerima sertifikat rumah dan toko perhiasan milik papa.."


"Masih banyak yang belum kamu ketahui Nak, salah satunya mansion ini adalah milikmu. Mansion ini dibangun setelah papa dan mamamu menikah, tetapi tanpa sepengetahuan mamamu.."


Ayra yang masih terdiam dalam kebingungan.


"Kamu masih terlalu kecil saat mamamu pergi, dan saat papamu menikah lagi. Papamu sering melihat bagaimana kamu diperlakukan sama ibu tirimu.."


"Dan saat sakit papamu mempercayakan semua asetnya pada Om untuk diberikan ketika usiamu sudah dewasa. Dan Om rasa sekaranglah waktunya."


Ayra menangis dipelukan Tante Ana, Ayra tak menyangka begitu besarnya kasih sayang papa padanya.


"Perusahaan perhiasan terbesar Milik papa ada diluar negeri. Sekarang Om Anton yang kelola, suatu saat Ayra ambil alih yaa..? Om Anton mau pensiun.."


Tangis Ayra pun pecah, ia tak mampu berkata-kata. Om Anton dan istrinya ikut menangis. Setelah dirasa sedikit tenang, Ayra bangkit dari duduknya dan berjongkok dihadapan Om Anton dan Tante Ana, masing-masing tangan Ayra memegang tangan keduanya.


"Om.. Tante..." Ayra menatap keduanya secara bergantian.

__ADS_1


"Jadilah orang tua Ayra Om Tante, Ayra ingin merasakan kasih sayang dari orang tua yang utuh.."


Om Anton dan istrinya saling pandang, dan keduanya mengangguk pada Ayra. Ketiganya berpelukan dan menangis bersama.


***


Pukul 02:00 dini hari mobil Vano memasuki gerbang rumahnya, ia langsung melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Bersamaan dengan tanganya yang memegang handle pintu.


"Kantor mana yang mempekerjakan karyawannya hingga dini hari."


Suara yang sangat Vano hafal, ia pun segera membalikkan badannya.


"Papa... Kapan papa datang, kok gak ngabari Vano.."


"Tadinya papa datang mau ketemu sama menantu papa.." Ucap papa Reno dengan nada datar.


Vano hanya terdiam dan menundukkan kepalanya, ia yakin pasti orang kepercayaan papanya sudah melaporkan tentang permasalahan rumah tangganya.


Mendengar ribut-ribut diluar kamar mama Mely keluar dari kamarnya.


"Mama..." Vano berjalan mendekati mama Mely dan memeluknya erat.


Pelukanya terasa hambar saat tidak mendapat balasan dari mamanya.


Papa Reno berjalan kesofa dan mendaratkan tubuhnya disana, diikuti mama Mely dan Vano.


"Sekarang kamu jelaskan sama papa dan mama.."


"Apa yang mau dijelaskan Pa.. Ayra pergi dari rumah ini, berarti sudah gak mau lagi sama Vano."


"Kamu yang bikin Ayra pergi, kenapa malah menyalahkan."


"Tapi Pa..."


"Vano... Kamu lupa kalau mamamu juga wanita, mama kira kamu sudah berubah." Mama Mely berbicara dengan nada tinggi mengungkapkan kekesalannya pada putranya.


"Alexa juga wanita Ma.."


"Stop Vano, jangan kamu sebut nama itu dihadapan mama lagi. Mama muak mendengarnya.."


Tangis mama Mely pun pecah, papa Reno hanya terdiam melihat pertengkaran putra dan istrinya.


"Vano cuman mau jelasin ke mama.."


"Bagi mama hanya Ayra yang menjadi menantu mama, sekarang dan selamanya. Terlepas dari bagaimanapun hubungan rumah tangga kalian nanti.."


Mama Mely segera berdiri dan pergi masuk kamar meninggalkan Vano yang masih terdiam.


"Ayo Pa kita pulang kerumah, mama gak kuat lagi ada disini.."

__ADS_1


Papa Reno segera menyusul istrinya masuk ke dalam kamar untuk bersiap.


Tak berapa lama keduanya sudah keluar kamar dengan membawa 3 koper, keduanya berlalu pergi tanpa menghiraukan Vano.


__ADS_2