Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 38


__ADS_3

Tutt...Tutttt....


"Siapa sih telpon pagi-pagi buta.."


Setelah panggilan kedua barulah ada jawaban.


" Halo ini siapa ya...?" jawabnya datar


" Ini gue, masa lupa sama sahabat sendiri.."


" Ayra loh ke mana aja sih Ra, puas gue sama Roby nyariin lo.."


" Maaf maaf gue ganti nomor lupa nggak ngabarin lo sama Roby.."


Setelah mengobral panjang akhirnya keduanya sepakat untuk bertemu nanti siang di sebuah cafe yang cukup terkenal di kota itu, dan seperti biasa Rima akan mengajak Roby mereka akan ngumpul bertiga.


***


Pak Anton dan Tante Ana sudah tiba di mension.


" Selamat pagi Pak Anton Bu Ana.." sapa yuk Darmi ramah


" Selamat pagi yuk..." jawab keduanya yang hampir bersamaan.


" Ayra belum turun ya.."


" Masih di atas Buk, perlu saya panggilkan..?"


" Nggak perlu Yuk, kami tunggu di sini aja.."


" Beberapa hari ini Non Ayra jarang turun Buk, jadi sarapannya diantar ke atas.."


" Kenapa Yuk, apa Ayra sedang kurang sehat..?"


" Sehat kok Buk, Non Ayra lagi isi Buk..!"


"Apa... Beneran Yuk..?" Yuk Darmi mengangguk..


Tanpa menghiraukan Yuk Darmi, Bu Ana segera berlari menaiki anak tangga. Disusul Pak Anton di belakangnya, meninggalkan Yuk Darmi yang mematung di bawah.


" Sayang mama masuk ya..?"


" Masuk aja Ma..."


Mama Ana dan Papa Anton pun masuk ke kamar Ayra, di mana Ayra sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer.


Mama Ana langsung memeluk Ayra dari belakang dengan sangat erat.


" Sayang mama bahagia sekali, mama dan papa akan segera punya cucu.."


" Ayra masih belum periksa ke dokter Mah buat mastiin, rencananya lusa."


" Selamat ya sayang.." Papa Anton ikut memeluk Ayra.


" Terima kasih Pah.."


Pak Anton segera meminta Pak Yoseph untuk mengumpulkan seluruh maid di mansion ini.


Beberapa saat semua pelayan sudah berkumpul di lantai bawah, mereka saling bertanya satu sama lain apa yang membuat majikannya meminta semuanya berkumpul.


Apa mungkin ada kesalahan mereka dalam bekerja, entahlah tidak ada yang mendapatkan jawaban pastinya.

__ADS_1


Tak lama keluarlah Pak Anton beserta istrinya dan khayra dari lift. Ketiganya duduk di kursi yang telah disiapkan para pelayan di tengah-tengah mereka.


" Sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk waktunya, saya akan menyampaikan beberapa informasi penting pada saudara semua.." Pak Anton membuka percakapan.


" Pertama-tama saya akan sampaikan mungkin di Antara kalian ada yang bertanya siapa sebenarnya pemilik mansion ini..? saya jawab dia adalah Nona muda kalian semua. khayra adalah pewaris tunggal dari bapak Atmaja pemilik mansion ini.." semua para maid merasa sangat terkejut karena selama ini mereka mengira mension ini milik Pak Anton.


" Yang kedua kita mendapatkan kabar bahagia dari Nona muda bahwa Nona Ayra sedang mengandung.."


Semua pelayan bersorak gembira dengan bertepuk tangan. Ucapan selamat untuk Ayra dari para pelayannya secara bergantian, Ayra menjawab terima kasih dengan senyum manis yang mengembang dibibirnya.


" Untuk itu mari kita semua menjaga Nona muda dengan sangat baik khususnya menjaga kandungannya. Karena saya dan istri siang nanti akan ke luar negeri saya mohon kerja samanya.."


Kini giliran Ayra menyampaikan beberapa kata untuk para maid di mansionnya.


" Terima kasih untuk bapak ibu dan saudara sekalian. Pertama saya meminta pada semua untuk merahasiakan identitas saya, biarkan semua orang tahu mention ini milik papa Anton. Saya ingin menjalani hidup seperti biasa, saya menganggap kita semua yang ada di sini adalah saudara.."


Para pelayan yang saling berbisik, tidak menyangka mempunyai bos yang sebaik Nona mudanya.


" Sayang papa Mama pergi dulu ya, sampai ketemu nanti jaga cucu mama baik-baik.." Sambil tangan Mama Ana memegang perut Ayra.


" Siap Mah.. Papa mama hati-hati dijalan ada apa-apa kabarin Ayra..."


Ayra mengantar kepergian kedua orang tua angkatnya di halaman, setelah mobil yang membawa Pak Anton dan Bu Ana tidak terlihat lagi Ayra segera masuk ke mansion untuk bersiap.


Ayra berangkat ke cafe bersama Phillips dan Boby. Setelah menempuh jarak 20 menit mobil memasuki parkiran cafe.


" Nanti seperti biasa kalian awasi dari jauh aja.."


" Baik Non.." ucap keduanya


" Oh iya uang makan ambil di laci depan ya.."


Ayra berjalan memasuki cafe dan mencari meja nomor 10, tadi ia sudah menerima pesan dari Rima mereka duduk di meja itu.


" Haiiii...." Ayra menyapa sahabatnya


Rima yang sedang mengobrol dengan Roby segera berdiri dan berhambur memeluk sahabatnya.


Lama tidak berkirim pesan membuatnya saling merindukan.


" Ra... gue turut prihatin dengan masalah lo, gue nggak nyangka kak Vano tega nyakitin lo.."


" Gue nggak apa-apa kok. Mungkin ini takdir yang harus aku jalani.."


" Berbagilah sama kita Ra, jangan lo Pendem sendiri kita kan lama sahabatan masalah lo masalah kita juga.."


"iya Rob, maaf gue belum siap cerita sama kalian kemarin."


Ketiganya makan sambil mengobrol, Rima dan Roby berniat menghibur sahabatnya. Sedikit mengurangi beban yang dipikul Ayra.


"Ra kenapa Lo gak balik ke apartemen,.? Lo sekarang tinggal dimana..?"


" Sengaja gue biar mas Vano gak nemuin gue, kalau ke apartemen dia pasti tau lah. Gue tinggal dirumah Om Anton, gue belum siap untuk ketemu mas Vano.."


" Yang penting lo jaga kesehatan, jangan sedih berlarut-larut oke.."


" Siap Nona..." Hahaha ketiganya tertawa lepas.


Roby dan Rima hafal sahabatnya yang satu ini paling pintar menyembunyikan kesedihan.


" Gue pamit ke toilet dulu ya.." Rima berdiri dari duduknya dan akan melangkah ke toilet.

__ADS_1


" Perlu gue temenin gak.."


" Gak usah Lo lanjutin aja makanya ."


Ayra dan Roby pun melanjutkan makan siangnya.


Saat Rima akan kembali dari toilet, cafe penuh dengan pengunjung. Karena jam makan siang juga, ia pun berjalan melewati tempat duduk para pengunjung lain.


Tak sengaja matanya menangkap sepasang kekasih yang sedang makan siang, dengan si wanita yang terus nempel pada pria.


Dadanya naik turun, gak tau kenapa nafasnya sedikit berat. Mungkin karena emosinya sedang memuncak, dengan langkah yang memburu ia berjalan menghampiri meja pasangan tersebut.


Braakkkkk...


Rima menggebrak meja, membuat si wanita sedikit terjingkat kaget.


"Jadi begini kak Vano selama ini, dan kamu nenek lampir sudah gak laku ya.. Sampai-sampai suami orang Lo embat juga, dasar pelakor.."


"Siapa Lo, enak aja Lo kalau ngomong.."


Terjadi sedikit keributan dicafe para pengunjung pun beramai-ramai melihat. Saat menyadari ada kegaduhan dan Rima belum kembali, Roby dan Ayra berniat menyusul ke toilet.


Keduanya melewati keramaian dan alangkah terkejutnya Ayra melihat Rima yang sedang bertengkar dengan seorang wanita.


Ayra memutuskan menerobos keramaian.


" Rima sudah, kenapa ribut-ribut disini.."


" Ra Lo lihat laki Lo,." Rima menunjuk ke arah Vano yang sedang duduk.


Ayra menatap Vano dan tatapan keduanya bertemu, kesakitan yang kesekian kalinya yang ia terima dari Vano.


Vano segera berdiri dan menarik tangan Ayra meninggalkan keramaian, Alexa yang terus memanggil namanya tak dihiraukan.


" Lepasin Van, sakittt..."


Vano tak menghentikan langkahnya, ia menyeret Ayra tanpa mendengarkan kesakitanya.


Vano membawa Ayra ke parkiran mobil, Vano menghempaskan tangan Ayra dengan kuat sehingga Ayra hampir terjatuh.


"Kamu lupa kalau udah punya suami,." Vano bertanya dengan kemarahan


" Aku... Kamu yang lupa kalau sudah menikah, seenaknya pelukan dengan wanita lain.."


"Itu gak seperti yang kamu lihat.."


"Lanjutkan.. Gak perlu pikirkan aku.."


Ayra melangkah meninggalkan Vano, Vano mengejar Ayra dan memegang tangan Ayra dengan kuat.


"Lepaskan aku, sakitttt..."


Vano terus menyeret istrinya, tanpa Ayra sadari kakinya menginjak besi penutup selokan. Besi yang sudah korosi karena termakan usia itu patah dan salah satu kakinya terperosok kebawah.


Ayra jatuh dengan posisi terduduk, tiba-tiba ia merasakan sakit yang amat sangat diperut bagian bawah.


Ayra menangis sejadi-jadinya, Philip yang melihat majikanya segera membopong Ayra masuk ke dalam mobil.


Darah segar menetes kebawah, Vano yang melihatnya pun kebingungan.


"Awas Lo..Kalau terjadi sesuatu dengan Nona Muda Akan kubuat perhitungan denganmu.." Ucap Boby kepada vano.

__ADS_1


__ADS_2