
Rima yang menangis sesenggukan didepan ruang IGD, semua orang menunggu dokter memeriksa Ayra didalam sana.
Sedang Roby bersama tim dokter lainya sibuk menghentikan perdarahan, mulai dari memasang infus, selang oksigen, dan memberikan beberapa suntikan obat penguat kandungan.
Dokter spesialis kandungan, bidan, dan beberapa perawat sudah berada didalam, Boby dan Philips juga sedang menunggu, ada Vano juga yang mengkhawatirkan keadaan istrinya.
Dari parkiran mobil Han dan papa Reno berlari-lari kecil menuju ruang IGD, saat diperjalanan ke rumah sakit Rima menghubungi kakaknya dan menceritakan apa yang terjadi pada Ayra. Han yang sedang dikantor pun memberitahu papa Reno, sedang mama Mely dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Rima gimana keadaan Ayra.." ucap Han dengan berlari menghampiri adiknya.
"Ayra masih didalam kak, Om. Aku takut terjadi apa-apa, Ayra mengeluarkan banyak darah.." Rima bercerita dengan menangis.
"Mungkin ada masalah dengan kandungan Nona muda saat terjatuh." Philips menimpali.
"Apa Ayra sedang hamil..??"
Vano yang mendengar segera berdiri menghampiri Philips, Vano meremas kerah kemeja Philips.
"Apa yang kamu katakan..!"
"Seharusnya anda menyesal, semua ini terjadi karena salah anda.." ucapnya tegas
"Vano lepaskan, dia benar ini semua salah kamu. Jadi suami gak becuss.." Papa Reno mengungkapkan kekesalannya pada Vano.
" Gara-gara kamu sibuk ngurus perempuan lain, kamu mencelakai istri dan calon anakmu."
Phillips dan Boby sedikit terkejut, ternyata pria yang dirinya bentak tadi adalah suami dari Nona mudanya.
"Pa... gimana keadaan Ayra..?" Mama Melly berjalan tergesa-gesa menghampiri Papa Reno dan mengabaikan Vano yang ada di seberang tempat Papa Reno duduk.
" Do'ain Ayra supaya kandungannya baik-baik aja Ma.."
" Kita mau jadi oppa dan Oma..?" Mama Melly menitipkan air mata bahagia sekaligus sedih.
Papa Reno menjawab Mama Melly dengan anggukan, tak berapa lama keluarlah dua orang yang memakai jas berwarna putih dari dalam dan Roby di sampingnya.
" Keluarga dari nyonya khayra..?" tanya seorang lelaki berjas putih.
" Kami orang tuanya Dok.." Papa Reno dan mama Mely menjawab bersamaan.
"Saya suaminya.." Vano yang tak ingin kalah dari orang tuanya
" Kami pengawal pribadinya Dokter, kami harus tau keadaan Nona muda kami.."
Rima yang masih terus menangis dalam pelukan kakaknya.
__ADS_1
"Mari ikut saya ke ruangan.."
Semua orang pergi ke ruangan dokter, Roby menghampiri Rima dan kak Han.
" Udah gak usah nangis, mending kita sama-sama berdo'a untuk Ayra dan calon bayinya."
Rima hanya mengangguk, ia tak mampu menjawab ucapan Roby.
"Gimana keadaanya Rob..?"
"Masih dilakukan observasi Kak.."
Dokter mempersilahkan semua untuk duduk disofa ruang kerjanya, setelah semua duduk ia pun mendaratkan tubuhnya disofa.
"Maaf sebelumnya harus saya jelaskan, saya sangat menyayangkan semua ini terjadi. Pada trimester pertama ibu hamil sangat rentan keguguran, karena plasenta belum terlalu kuat menempel pada dinding rahim."
" Setelah kami para tim melakukan tindakan penghentian pendarahan, kami masih harus terus melakukan observasi setiap 2 jam sekali selama 3 hari kedepan. Kita sama-sama berdoa agar kondisi janin dalam kandungan baik-baik saja."
" Gimana keadaan calon cucu saya dokter..?"
" Untuk saat ini kami fokus menghentikan kontraksi dan pendarahan ibuk. Untuk janin kita lihat bulan depan berkembang atau tidaknya.."
Sesaat semua orang keluar dari ruangan dokter tidak ada yang memulai pembicaraan. Semua larut dalam pikiran masing-masing.
Vano terlihat sangat terpukul, karena kebodohannya ia hampir membunuh calon anak dan membahayakan nyawa istrinya.
" Saya Roby sahabatnya Ayra Bu, boleh tapi dua orang saja itupun harus bergantian." Mama Melly memutuskan untuk masuk lebih dulu.
" Sayang gimana keadaanmu Nak..?"
" Mama.... Maafkan Ayra Ma.." Ayra menangis melihat kedatangan mama mertuanya.
" Kamu gak salah Nak, justru anak mama yang bersalah. Mama minta maaf.." Kedua wanita beda usia ini menangis dengan mama Mely memeluk Ayra yang berbaring diatas tempat tidur.
" Sayang fokus untuk sembuh ya, jangan fikirkan macem-macem dulu.." Tak mampu berkata Ayra hanya mengangguk.
5 menit berada didalam membuat Tante mely harus segera keluar dan bergantian.
Tadinya Rima yang akan masuk, mengingat ia sangat menghawatirkan keadaan Ayra dan sejak kejadian Rima terus menangis.
Vano yang kekeh akan masuk melihat istrinya akhirnya yang lain mengalah dan membiarkan Vano untuk masuk.
" Sayang...."
Mendengar suara Vano, Ayra segera mengambil posisi miring membelakangi Vano.
__ADS_1
" Maafin aku Ra.."
Ayra hanya diam, tak merespon kata-kata Vano hatinya masih sangat sakit dengan apa yang Vano lakukan.
Vano memegang tangan Ayra dan menciumnya..
" Ra aku emang salah, aku minta maaf telah membuatmu begini. Aku ingin memperbaiki semuanya, demi rumah tangga dan calon anak kita."
Tubuh Ayra bergetar karena menangis, Vano juga menitikkan air mata.
" Aku dan Alexa hanya sahabatan, tidak seperti yang kamu lihat. Aku hanya memberikan apartemen untuknya tinggal, waktu itu aku hanya menemaninya melihat apartemen selebihnya tidak ada."
Vano terus menjelaskan walau Ayra hanya diam, tapi Vano yakin Ayra mendengarkan dirinya.
" Pergilah mas, aku mau istirahat aku capek."
" Tapi aku masih ingin selalu nemenin kamu Ra, kasih aku kesempatan."
" Gak perlu berpura-pura mengkhawatirkan aku dan kandunganku kalau nyatanya tidak."
" Apa maksud kamu Ra.."
" Untuk apa khawatir dengan keadaanku, saat kamu masih khawatir dengan tempat tinggal seseorang diluar sana.."
"Aku bisa jelaskan semuanya.."
" Cukup mas, aku gak mau tau apapun alasanya."
" Keluar aku ingin sendiri."
" Ra aku akan selalu disamping kamu.."
"Suster... susterrr.. Bawa laki-laki ini pergi dari sini.."
Suster yang dipanggil segera menghampiri Ayra.
" Maaf pak silahkan anda keluar, pasien kami butuh istirahat."
Vano melangkahkan kakinya keluar, kakinya terasa begitu rapuh untuk berdiri rasanya gak mampu.
Tangisan Vano pecah, ia menyandarkan punggungnya didinding dan tubuhnya terperosok jatuh ke lantai.
Ia menangis seperti anak kecil, baru kali ini Han dan Rima melihat Vano menangis seperti itu. Papa Reno dan mama mely yang melihatnya merasa iba, tapi bagaimanapun ini akan menjadi pelajaran bagi Vano.
Pak Yoseph dan Yuk Darmi tiba dirumah sakit setelah mendapat kabar dari Boby, dengan membawa beberapa pakaian ganti dan beberapa keperluan Ayra yang lain.
__ADS_1
Ayra sudah dipindahkan diruang rawat, masih dalam pemantauan ekstra. Kali ini dokter menyarankan Ayra harus benar-benar bedrest total yang artinya semua harus dilakukan diatas tempat tidur tidak turun dalam jangka waktu tertentu.
Ayra meminta pak Yoseph untuk menambah beberapa pengawal, untuk saat ini Ayra gak mau bertemu Vano dulu.