Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 52


__ADS_3

Seorang wanita yang berbaring di atas lantai merintih kesakitan, untuk membuka matanya terasa begitu berat nafasnya tersenggal-senggal apa mungkin ini adalah akhir hidupnya.


Alexa terkurung di gudang kosong dan dijaga oleh beberapa bodyguard, Alexa sangat paham Vano bukanlah laki-laki yang bisa diajak bermain-main apalagi menyangkut keluarganya.


" Bangun.."


Byurrrr.... seseorang mengguyurkan seember air pada tubuh lemahnya.


Perlahan Alexa membuka matanya, samar-samar dilihatnya laki-laki yang dicintainya tersenyum padanya.


" Vano... kamu datang untuk membawaku pergi dari tempat ini.."


" Menurutmu.."


Alexa hanya diam, semenjak orang suruhan Vano membawanya ke sini dirinya tidak pernah bertemu Dion.


" Denger ya Alexa, melihat apa yang kamu lakukan pada istriku aku bisa saja membunuhmu.."


" Besok serahkan kedua orang ini ke kantor polisi, pastikan mereka membusuk di sana.."


" Baik tuan.."


" Tapi Van..."


Vano tak menghiraukan Alexa, setelah memberi perintah pada anak buahnya Vano pergi meninggalkan tempat itu.


Malam hari Vano baru tiba di rumahnya, Vano segera membersihkan diri dan naik ke atas ranjang. Hingga dini hari Vano masih belum memejamkan matanya.


Pukul 04.00 Vano mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar dari rumah, 40 menit berlalu mobil Vano sudah tiba di mension.


Security membukakan gerbang untuknya dan Vano segera naik ke lantai atas di mana kamar istrinya berada.


Vano yang sedang menahan rindu pun melangkah naik ke atas ranjang, dilihatnya Ayra yang sedang tertidur miring ke kanan dengan perut yang terlihat semakin besar.


Vano terus menatap wajah istrinya, terlihat sedikit berisi Vano pun menciumi perut istrinya.


" Sayang... Apa mommy mu sedang kelelahan membawamu jalan-jalan. Daddy datang mami tidak menyadarinya.."


Ayra meregangkan tubuhnya, begitu pulas ia tertidur hingga tak terbangun sama sekali.


" Selamat pagi sayang.."


Ayra hanya diam masih mengumpulkan kesadarannya, ditatapnya Vano yang sedang tersenyum melihatnya.


" Mas Vano..."


" Gimana apa liburan mu menyenangkan..?"


" Mas Vano sejak kapan disini..?"


" Tidurmu pules banget, Sampek gak bangun mas usilin.."


" Pasti capek, sini mas pijitin kakinya.."


Vano duduk dan meletakkan kaki Ayra di pangkuannya.


" Mas gak usah..." Ayra berusaha untuk turun.


" Gak apa-apa mas pijitin.."


Akhirnya Ayra pun pasrah Vano memijat kakinya, dengan telaten dari satu kaki ke kaki lainya.


" Sayang kenapa pergi gak pamit mas hemm.." Vano menoel hidung istrinya.


" Hemm.. Ayra masih kesel Ama mas Vano.."


" Maafin mas ya, mas bener-bener salah.."

__ADS_1


" Mau maafin gak, kok malah diem aja.."


" Lihat nanti mas, Ayra gak mau mas Vano cuman janji-janji aja.."


" Mas sadar kalian berdua itu hidup mas, dimanapun mas nyari gak akan nemuin wanita sebaik istri mas ini.."


Ayra serasa ingin terbang, tapi Ayra masih terlihat biasa saja. Ayra ingin membuktikan bahwa suaminya bener berubah.


" Semalaman mas gak bisa tidur mikirin kamu, sekarang mas ngantuk. Ayo temenin mas tidur sebentar.."


Vano menarik tangan istrinya dan membawanya dalam pelukan.


" Tapi mas.."


Vano menciumi pucuk kepala istrinya.


" Kalau bangun dulu bangunin mas ya, jam 10 mas ada meeting."


Ayra hanya diam mematung dan pasrah di dalam pelukan Vano, Tak lama terdengar dengkuran halus menandakan Vano sudah tertidur


Berlahan Ayra bangun dan seperti biasa Ayra menghubungi rumah Vano untuk membawakan pakaian kantor Vano ke mansion.


Ayra keluar kamar dan pak Yoseph sudah menyambutnya disana.


" Maafin bapak Non, bapak gak berani mencegah den Vano masuk.."


" Gak apa-apa pak Yosh, biarkan mas Vano tidur dulu.."


Ayra turun dibawah dan duduk disofa ruang tamu.


" Non ini ada camilan dan susu buat Non Ayra.."


" Makasih Yuk, duduk sini yuk sama Ayra.."


" Biasanya orang hamil itu mudah lapar Non.."


" Iya yuk, makanya badan Ayra tambah bengkak gini.."


" Iya pak Yosh, terimakasih..."


Ayra mengambil paper bag dan naik kembali ke kamarnya.


" Mas..." Tidak ada reaksi sama sekali.


" Mas Vano... Udah jam 9 mas"


" Iya sayang, masih ngantuk.." Vano menarik Ayra kedalam pelukanya.


" Mas Vano..."


" Biarkan seperti ini dulu sayang..."


Ayra hanya diam membiarkan suaminya memeluknya, Ayra juga merasakan kenyamanan berada dipelukan Vano.


Vano selesai membersihkan diri pakaian kantornya sudah siap diatas tempat tidur.


" Memang istriku selalu mengerti apa yang aku butuhkan.."


Ceklekk...


" Ayo sarapan dulu mas.."


" Sayang bantuin mas pakek dasi donk.."


Ayra mendekat dan memakaian dasi dileher suaminya, Vano tak berkedip menatap wajah istrinya.


" Mas Vano kenapa lihatin Ayra terus, kan jadi malu.."

__ADS_1


Muach..


" Dilihatin suaminya kok malu, mas kan udah pernah lihat semuanya. Bahkan dalam keadaan polos.."


" Apaan sih mas Vano, dasar mesum.."


Muach... Muach... Muach ..


" Ayo bilang mesum lagi, mas gak jadi ke kantor mau nyiumin kamu terus aja.."


" Eh eh... Gak boleh, harus ke kantor bukanya ada meeting ya.."


" Andai gak ada meeting mas mau dikamar aja, berduaan sama istriku yang cantik dan cerewet ini.."


" Udah rapi ayo turun mas, kita sarapan..."


Keduanya menaiki lift sampai bawah dan terus Vano menggandeng tangan istrinya.


Semua pegawai melihat keharmonisan kedua majikanya, Yuk Darmi yang melihat Ayra dan Vano seperti itu tersenyum bahagia.


" Pasangan yang cocok ya Nona Muda dan Den Vano, cantik dan ganteng. Sama-sama sultan lagi.."


" Iya andai gue yang diposisi itu..."


" Jangan kebanyakan mengkhayal ya, lanjutin kerjanya.."


" Siap pak Yos, berandai-andai kan gak ada salahnya.."


Sambil berlalu pergi pelayan itu masih membela diri.


" Yuk.. Ayo sarapan bareng..."


" Tadi Yuk udah sarapan Non di belakang, habisnya udah laper banget Non.."


Yuk Darmi terpaksa berkata bohong karena tak ingin mengganggu majikanya untuk sarapan berdua.


Semua pelayan meninggalkan area meja makan, ada yang rela menunda pekerjaannya untuk orang yang lagi jatuh cinta.


" Mau sama ayam mas, ada udang juga.."


" Dikit-dikit aja sayang, takut gak muat perut mas.."


Setelah mengisi piring Vano dengan nasi dan berbagai lauk dan sayur, Ayra mengisi piringnya sendiri.


" Sayang makan yang banyak, biar anak kita sehat.."


" Oia kamu gak mau belanja atau jalan-jalan gitu, mas temenin.."


" Pengen belanja kebutuhan bayi mas, tapi katanya kalau belum 8 bulan pamali. Terus kebutuhan Ayra disini udah ada yang nyiapin, jadi gak perlu belanja lagi.."


" Kalau gitu Kita ke mall beli pakaian aja, bukanya size-nya sekarang udah ganti.."


" Mas Vano mau bilang Ayra gendut.."


" Sayang kan kamu lagi hamil, pasti tambah berisi donk. Gendut juga mas tetep suka kok, kelihatan makin menggemaskan.."


" Terserah mas Vano aja.."


" Kok ngambek...."


Tapi memang benar apa yang suaminya katakan, pakaianya udah banyak yang gak muat dibadanya.


Selesai sarapan Vano berangkat ke kantor dan Ayra mengantar hingga halaman mansion.


" Sayang mas berangkat dulu.."


Ayra mencium punggung tangan suaminya dan Vano mencium puncak kepala istrinya.

__ADS_1


Vano berjongkok dan mencium perut Ayra.


" Ada papa baik-baik ya didalam, gak boleh rewel kasihan mommy.."


__ADS_2