Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 42


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana Ayra akan melihat kondisi janinnya. Setiap hari dirinya selalu mengajak ngobrol pada sesuatu yang hidup di dalam sana supaya tumbuh sehat dan lahir ke dunia memberi warna di hidup orang tuanya.


" Selamat pagi non Ayra.." ucap Pak Yoseph yang melihat Ayra keluar dari kamarnya


" Pagi Pak Yos.."


" Mari non kita sarapan dulu biar nanti saat ketemu dokter nggak tegang.."


" Iya Pak tegang banget, tapi Ayra yakin sesuatu yang tumbuh di sini masih baik-baik saja." Dengan tangannya membelai perut.


" Pagi Nona muda.." Beberapa pelayan yang berpapasan menyapa majikannya.


Setelah selesai sarapan Ayra bergegas menuju halaman depan bersama yuk Darmi. Keduanya akan berangkat ke rumah sakit.


Mobil yang membawanya memasuki lobby rumah sakit, terlihat Vano sudah menunggunya di sana. Nggak tahu dari mana Vano mendapatkan informasi hari ini Ayra akan periksa kandungan.


Tak ingin berdebat Ayra memperbolehkan Vano masuk untuk melihat perkembangan anaknya. Yuk Darmi menunggu di luar bersama Philips, karena Roby telah mendaftarkan untuk Ayra begitu Ayra datang langsung dipanggil masuk ke ruang periksa dokter.


" Selamat pagi bapak ibu, silakan ibu Ayra naik ke tempat tidur." Ucap dokter cantik dengan nama Maya di dada kanannya.


" Eh lu ngapain di sini.." Ucap Vano pada seseorang yang duduk didepan meja kerja dokter Maya.


" lah kan gue dokter emang situ lupa.."


" Enggak enggak pasti lo mau lihat istri gue dibuka-buka.."


" Hubungan kami sebatas sahabat, pasien dan dokter.."


" Keluar aku bilang dokter suruh orang ini keluar dia bukan keluarga kami.." ucap Vano.


Ayra yang melihat pertengkaran Vano dan Roby merasa malu dan sungkan pada dokter Maya. Kenapa Vano jadi super cerewet begini.


Robi keluar dengan perasaan kesal, ia duduk di kursi tunggu nafasnya naik turun menahan emosi.


" Mari kita mulai.." dokter Maya menempelkan alat ke perut Ayra yang sudah diberi gel, alat yang langsung terhubung ke monitor.


" Ini ya pak Vano dan ibu Ayra, bulatan hitam dan terdapat sesuatu yang berwarna putih itulah bayinya. Masih sangat kecil sebesar biji kacang, tetapi dibanding bulan kemarin ini sudah lebih besar lagi artinya janin ibu berkembang."


Ayra menangis haru benar-benar ada kehidupan di dalam rahimnya. Vano juga menitikkan air mata bahagia, semoga dengan hadirnya buah cinta mereka akan melunakkan hati Ayra.


" Apa anak kami dalam keadaan sehat dok..?"


" Sangat sehat pak, perkembangannya cukup bagus usianya sudah 9 Minggu. saya akan memberikan resep nanti bapak tebus vitamin di bagian farmasi."


" Diminum rutin ya Bu vitaminya setiap hari."


" Terima kasih dokter.."


Selesai melakukan pemeriksaan Vano dan Ayra berpamitan pada dokter Maya, keduanya pun melangkahkan kaki keluar dari ruang pemeriksaan.

__ADS_1


Vano berjalan dengan menggandeng tangan Ayra dengan tangan satunya memegang foto USG.


Berulang kali matanya terus melirik ke foto USG dengan senyum yang terus mengembang di kedua pipinya.


" Gimana Ra.." ucap Roby begitu melihat Ayra dan Vano keluar dari ruangan.


" Alhamdulillah Rob janinnya berkembang.."


" Alhamdulillah... Gue ikut bahagia mendengarnya. Jaga baik-baik ya Ra, jangan terlalu capek dan banyak pikiran, nanti akan berpengaruh pada kandunganku."


" Terimakasih Rob, udah banyak ngrepotin kamu.."


" Gue bahagia kali direpotin.."


Keduanya tertawa, Vano merasa iri pada Roby yang bisa membuat Ayra tertawa disampingnya. Sedangkan dirinya yang suaminya hanya menambah kesedihan.


Roby menatap Vano dengan tatapan sinis, Vano yang menyadari balik menatap Roby.


" Ngapain lu lihat gue kayak gitu.."


" Ra suami lu tadi di dalam kepalanya kepentok tembok ya? lupa ingatan dia tadi udah ngusir gue.."


" Udahlah biarin aja.."


" Sayang kita balik ke rumah ya, biar aku bisa jagain kamu 24 jam."


" Nggak perlu, aku bisa jaga diri. Lagian aku sehat-sehat aja.."


Roby sedikit tertawa dan segera menutup mulutnya mendengar lelucon Vano, laki-laki se gagah Vano kini memelas dan memprihatinkan.


Yuk Darmi dan Boby juga menundukkan kepalanya, mungkin keduanya juga sedang menahan tawa.


Philips kembali dengan membawa beberapa vitamin hamil yang tadi ditebusnya di bagian farmasi.


Setelah dari rumah sakit Ayra memutuskan untuk langsung pulang ke mansion.


Dan Vano melaju ke gedung mahkota Group, pagi ini senyum Vano terus mengembang hingga kakinya melangkah memasuki gedung kantornya.


Semua karyawan merasa aneh pada bosnya, terlihat lebih bersahabat dibanding sebelumnya.


" Maaf Pak Vano ada tamu di ruang bapak.."


Kening Vano sedikit berkerut, perasaan pagi ini dirinya nggak ada janji dengan siapapun.


" Terima kasih.." Vano segera melangkahkan kakinya ke ruangan.


Ketika pintu terbuka terlihat Alexa sudah duduk di sofa menunggunya.


" Sayang dari mana sih, aku nungguin kamu dari tadi."

__ADS_1


Alexa berbicara sedikit dibuat-buat manja.


" Ngapain kamu di sini.."


" Kangen lah masa mau ngapain.." Alexa menghampiri Vano dan akan mengalungkan kedua tangannya di leher Vano.


" Alexa stop..!"Vano mundur ke belakang beberapa langkah.


" Ada apa Van, kamu nggak kangen aku.."


" Berhenti bersikap seperti ini, aku punya istri yang harus aku jaga perasaannya.."


" Vano kamu kok berubah.."


" Dari awal kita nggak ada hubungan apapun, berapa kali harus ku jelaskan agar kamu ngerti Alexa..!"


" Tapi aku sangat menyayangimu Vano.." tangan Alexa membelai wajah Vano.


" Jauhkan tanganmu dari aku.."


" Van.. Aku tulus mencintai kamu, kamu gak ngerti perasaanku.."


" Simpan itu untuk orang lain, aku sudah menikah dan sangat mencintai istriku.."


" Aku siap jadi yang kedua Vano.."


" Tidak ada kedua dan ketiga selamanya hanya satu.."


Alexa pura-pura menangis di depan Vano untuk memaksimalkan aktingnya, dirinya yakin Vano akan luluh dengan rayuannya.


Vano segera menghubungi seseorang untuk naik ke ruanganya.


" Selamat siang pak Vano.."


" Iya bawa wanita ini keluar dari sini, dan besok-besok jangan biarkan dia masuk ke kantor ini.."


" Baik pak.."


" Ayo ikut saya keluar.." Scurity akan membawa Alexa keluar paksa.


" Gak perlu, aku bisa keluar sendiri.."


Alexa segera mengambil tas nya yang tergeletak disofa dan melenggang pergi dari kantor Vano.


" Saya permisi pak.." Ucap scurity dan segera menyusul Alexa, takut kalau wanita itu akan membuat ulah lagi.


" Hhuuuhhh..." Alexa menjatuhkan bobot tubuhnya ke jok belakang taksi dan menghembuskan nafas panjang.


Ia terus berfikir keras bagaimana bisa membuat Vano kembali bersamanya. Kalau Vano udah gak bisa dirayu berarti dirinya harus mencari tau istri Vano, latar belakang dan pendidikan sebagai jalan untuk mendapatkan Vano kembali.

__ADS_1


Bagi Alexa menggunakan cara yang licik udah biasa ia lakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Seorang model internasional seperti dirinya tidaklah susah mendapatkan hati laki-laki, untuk Vano memang ia harus berusaha lebih keras lagi.


__ADS_2