Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 60


__ADS_3

Sore ini kamar rumah sakit Ayra penuh dengan tamu, Han dan Rima, disusul Roby dan Rafa belakangan.


" Selamat ya Beb, sudah menjadi seorang ibu. Semoga menjadi orang tua yang membimbing putra putrinya menjadi anak yang berbakti pada agama Nusa dan bangsa.."


" Terimakasih Beb, semoga dirimu segera menyusul ya. Menikah dengan laki-laki yang mencintaimu dan kamu juga mencintainya, untuk membangun rumah tangga yang bahagia.."


Kedua sahabat ini saling berpelukan, Rima dan Ayra sudah seperti saudara bahkan lebih dari itu. Keduanya berjanji satu sama lain untuk terus seperti ini hingga tua nanti, dan semoga bisa dilanjutkan hingga anak cucu mereka nantinya.


" Sudah-sudah momen bahagia kok mau nangis.."


" Siapa sih yang nangis kak, kita mah bahagia tapi dengan cara yang berbeda.."


" Udah Minggir gantian kakak.."


Rima dan Ayra saling melepaskan pelukanya, dan Rima beranjak berdiri kemudian berjalan menghampiri bok bayi tempat anak sahabatnya tertidur.


" Hallo sayang, bangun donk Ounty Dateng nie. Selamat lahir ke dunia ya sayang, temani mama selalu ya.." Rima menoel-noel pipi chubby bayi mungil yang sedang tertidur pulas.


" Ra selamat ya..?"


" Terimakasih kak Han, segera menyusul ya kak. Biar Rima gak ngelangkahin kakak.."


" Kakak mah santai Ra, gak buru-buru. Nanti kalau udah punya istri kangen sendiri gimana..?"


" Ya udah kamu sendiri dulu aja sampai bosen.." Vano menyahut dari sofa tempatnya duduk.


Ayra dan yang lainya hanya cekikikan mendengar 2 laki-laki sahabat ini saling lempar candaan.


" Apaan sih Van, diem gak usah ikut-ikut gue lagi ngomong sama Ayra.."


" Ya Ayra kan istri gue, makanya Cepet kenalin cewek yang kemaren sama kita.."


" Dasar Vano mulutnya ember banget sihh..."


" Cewek siapa Mas.."


" Tanya aja tu sama Han langsung, kan orangnya ada didepanmu.."


" Siapa Kak..."


" Hayo kak Han, siapa...?"


" Bukan siapa-siapa...!"


" Tinggal jawab aja susah banget sih kak, aku kan juga pengen kenal sama calon kakak ipar.."


" Iya nie kak Han..."


Han berjalan ke arah Vano yang duduk di sofa dan menjatuhkan tubuhnya disamping Vano.


" Gara-gara Lu ya Van..."

__ADS_1


" Siapa kak..." Rima yang mengikuti kakaknya sampai ke sofa.


" Apaan sih bocah, ini urusan orang dewasa.."


" Mas Vano siapa...?" Rima menatap Vano penuh harap.


" Gak kenal, tanya aja sama kakak mu nanti dirumah. Disini banyak orang Han malu.."


Semua melanjutkan mengobrol hingga pukul 21:00, Rima mendatangi Ayra yang sedang menyusui si kecil di atas tempat tidur.


" Ra gue pulang dulu ya, udah malem lu harus banyak-banyak istirahat.."


" Kok buru-buru.."


" Besok kalau udah pulang ke mansion gue bakal sering nengokin ponakan gue.."


Rima pun pulang bersama kak Han, Rima memutuskan untuk pulang kerumah bersama kakaknya.


" Kak siapa sih cewek yang kak Vano maksud..?"


" Gak ada, bukan siapa-siapa.."


" Sejak kapan kak Han punya rahasia dari aku.."


" Nanti kalau udah saat nya kakak kasih tau, ini mah cuman temenan aja."


Han mengacak-acak rambut adiknya dengan gemas.


" Maksa ya..."


Rima hanya diam, tapi bola matanya menatap malas pada kakaknya.


" Oke Oke... Dia Nessa mungkin kamu belum kenal, emang beberapa hari ini kita Deket. Tapi gak tau kenapa Nessa mendadak gak ada kabar, mungkin dia jauhin kakak.."


" Memangnya kakak ngapain, kok dia jauhin kakak..?"


" Gak tau dek, perasaan kakak gak ngapa-ngapain. Tapi kakak takut mau deketin Nessa, latar belakang keluarganya bikin kakak minder."


" Kak Han udah kenalan Ama keluarganya memang.."


" Nessa ini dulu pernah mau dijodohkan sama Vano, orang tuanya rekan bisnis Om Reno.."


" Kalau jodoh kak, gak Mandang semua itu.."


Mobil yang membawa Han dan Rima sudah memasuki garasi rumahnya, karena sudah larut malam Rima langsung naik ke kamarnya dan tidur.


" Mas besok kita pulang kan..?"


" Iya sayang, udah gak betah ya..?"


" Iya mas pengen pulang.."

__ADS_1


" Kamu istirahat ya, aku gantiin yang jaga Shireen.."


Ayra memberikan Shireen pada suaminya, dan Vano meletakkan putrinya di pangkuannya.


Shireen adalah panggilan untuk putri kecilnya yang belum resmi diberi nama, lama Vano bermain bersama Shireen di sofa.


Yuk Darmi datang menghampiri Vano.


" Biar sama saya aja non ayu nya Den, Den Vano istirahat aja.."


" Iya Yuk, Yuk Darmi istirahat aja kan ada mbak nya.."


" Oia mbk nanti kalau Shireen nangis ASI nya tinggal ambil di kulkas. Biar ibuk istirahat dulu.."


" Baik pak.."


Yuk Darmi menemani mbak baby sitter untuk jagain anak majikanya, beruntung Shireen gak terlalu begadang karena sudah kenyang. Jadi semua juga bisa istirahat.


Vano tidur di atas tempat tidur pasien bersama istrinya, sedangkan yang lain di sofa ada juga yang tidur di matras.


Ayra tidak mengizinkan para pekerjanya kerja lembur, lebih baik bergantian mereka bisa mengatur sendiri waktunya.


***


Hingga larut malam Han hanya bergulang guling diatas tempat tidur, pikirannya menerawang kemana-mana.


Beberapa hari ini dirinya dan Nessa tidak saling berkomunikasi, Nessa terlihat begitu menghindarinya.


Jauh di lubuk hati Han, dirinya sangat mengagumi sosok Nessa. Meski dari keluarga milyader Nessa sangat sederhana, bahkan keduanya pernah makan dipinggir jalan dan Nessa begitu menikmatinya.


Untuk menyatakan perasaanya Han masih takut, mengingat siapa dirinya dan siapa Nessa. Apa mau Nessa bersamanya..


Han membolak-balikkan bantalnya agar bisa segera tidur, tapi nyatanya pikiran itu semakin dalam menyerang.


Di tempat lain Nessa juga merasakan hal yang sama, disebuah kamar yang remang-remang hanya diterangi lampu tidur matanya enggan terpejam.


Antara galau dan kecewa pada perasaanya sendiri, harusnya menyelidiki dulu sebelum menyukai seseorang.


Dirinya yang terlanjur suka harus kembali patah hati, bahkan sakit hati sebelum menyatakan perasaan.


***


Pagi tiba semua orang sibuk berkemas untuk kepulangan Ayra ke mansion, diruang rawat Ayra semua petinggi rumah sakit sedang berkumpul.


Banyak kado dari para karyawan rumah sakit untuk pemilik tempat dirinya bekerja, bahkan kado itu tidak muat lagi berada diruangan.


Semua mengucapkan selamat atas kelahiran penerus dari keluarga Atmaja, dan untuk pemilik rumah sakit ini yang tadinya identitas nya masih tersembunyi.


Begitu Ayra keluar ruangan hingga ke lobby semua pegawai rumah sakit berdiri memberikan hormat, Ayra yang duduk di kursi roda dengan Shireen dipangkuanya mengangguk ramah dengan melambaikan tangan menyapa para pegawainya.


Vano terus mendorong kursi roda hingga semua berada di lobby dan mobil jemputan Ayra sudah menunggu disana.

__ADS_1


Semua ini membuat Vano bertambah mengagumi sosok sang istri, dibalik semua yang ia miliki tidak membuatnya merasa ditempat yang paling tinggi. Justru Ayra yang Vano lihat saat ini adalah wanita yang sangat sederhana dan bersahaja, sangat berbeda dengan wanita-wanita lain yang berkedudukan dan bergelimang harta.


__ADS_2