
Vano sibuk dikantornya, metting dengan beberapa klien dan diakhiri makan malam bersama.
Tanpa disadari jam menunjukkan pukul 22, pasti istrinya menunggu kepulangan ya.
"Maaf pak Adi acara makan malam sudah selesai saya permisi undur diri dulu."
"Kita minum-minum dulu pak vano, sudah saya bawakan minuman kualitas terbaik."
"maaf pak Adi, saya tidak minum."
Dengan tawaran yang tidak menggiurkan bagi Vano, niatnya hanya makan malam menghormati ajakan kliennya. Malah kliennya menyewa beberapa wanita untuk menemaninya, minuman yang sudah lama Vano tinggalkan.
Han mengantarkan Vano sampai depan rumahnya, kemudian pulang kerumahnya sendiri.
Sesampainya dikamar Vano melihat Ayra tertidur diatas sofa dengan tv masih menyala.
Vano berlahan mendekatinya kemudian mencium pucuk kepala istrinya, merasakan ada seseorang yang menyentuhnya Ayra berlahan mengerjapkan matanya.
"Van udah pulang..?"
"Maaf sayang aku ada metting sampai malam, ini baru selesai.."
"Mandi dulu, aku siapkan air hangat ya."
Vano mengangguk dan Ayra segera menuju kamar mandi, Vano begitu gemas melihat istrinya yang setengah mengantuk tapi masih memperhatikan kebutuhan Vano.
"Sayang apa sudah makan.."
"Belum Van, aku nungguin kamu.."
"Sayang selarut ini kenapa gak makan dulu sih, gak perlu nungguin aku. Ayo kita kemeja makan."
Vano menggandeng tangan Ayra menuju meja makan, asisten rumah tangga belum tidur karena bosnya belum makan malam.
Setelah bosnya makan tugasnya membersihkan meja makan, baru ia beristirahat.
"Mau disuapin..?"
"Enggak aku bisa makan sendiri.." Ayra menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah Ayra selesai makan malam mereka kembali ke kamar, Vano yang terlihat sudah sangat mengantuk segera naik dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Van kamu capek banget ya..?"
"Hem.. sayang.." Vano menjawab pertanyaan Ayra dengan mata masih terpejang.
Ayra segera naik ke atas tempat tidur disebelah Vano menjenderkan punggungnya dikepala tempat tidur.
"Suamiku capek banget yaa.? Dengan tanganya mengelus kepala Vano.
"Pelukin aku donk sayang.!"
"Mau aku pijitin juga gak..?"
"Boleh..!"
Ayra mulai memijit belakang pundak Vano, tak lama setelah itu terdengar dengkuran halus yang menandakan Vano sudah terlelap.
Setelah dirasa cukup Ayra segera membaringkan tubuhnya disamping Vano, subuh Ayra terbangun lebih dulu.
Terasa berat seperti ada yang menindihnya, dilihatnya Vano tidur dengan posisi memeluk khayra dari belakang.
Dengan gerakan yang sangat pelan Ayra memindahkan tangan Vano, merasa ada gerakan Vano berlahan membuka matanya.
"Sayang ini masih terlalu pagi. Biarkan seperti ini dulu ya.?"
"Subuhan dulu Van."
"5 menit lagi oke."
"Diingetin biar sama-sama dapat pahala malah ditunda-tunda.." Gerutu Ayra.
Setelah Vano sholat subuh sudah tidak mendapati khayra dilamar, Vano segera keluar kamar dan menyusul istrinya kebawah.
"Disini rupanya kamu sayang."
__ADS_1
"Maaf den mbok sudah melarang non Ayra buat kedapur.!"
"Gak apa-apa mbok, sepertinya Ayra menyukainya."
"Van udah selesai subuhnya, ini kopi untukmu."
Ayra meletakkan segelas kopi didepan Vano diatas meja makan.
"Terimakasih, masak apa sayang. Jangan sampai dapurnya kebakaran Lo ya.?" Vano menggoda istrinya.
"Enak aja, gak separah itu juga kali Van."
Jam menunjukkan pukul 6:00 pagi, Ayra sudah rapi dengan setelan kerjanya. Vano baru keluar dari kamar mandi, dengan handuk dililitkan kepinggang.
"Sayang bajuku mana."
"Diatas kasur Van, kenapa gak suka ya dengan pakaian yang aku siapin. kalau gak suka aku akan menggantinya."
ayra mengambil pakaian Vano yang ada diatas kasur.
Vano dengan cepat Manahan tangan istrinya.
"Apa yang istriku ambilin aku akan memakainya."
Seketika hati Ayra sedikit menghangat mendengar kata-kata Vano, ada perasaan bahagia disana.
"Kenapa malah melamun, bantuin aku memakainya." Suara Vano terdengar manja.
"Dasar bayi gede."
Ayra mulai pengancingkan kemeja Vano satu persatu, dan memakaikan dasi dilehernya. pandangan Vano fokus menatap istrinya.
"Kenapa ngelihatin aku kayak gitu, aku kan malu.."
"Dilihatin suaminya kok malu, terus kalau dilihatin orang lain gak malu."
"Bukan begitu maksudku Van."
Vano segera menyambar bibir tipis dengan warna merah muda milik istrinya, Vano me**mat dan meng**sap dalam-dalam.
Ayra memutuskan aktivitas pagi Vano
"Kamu lupa suamimu yang tampan ini adalah bosnya, gak akan ada yang berani marah kalaupun aku terlambat."
"Gak lupa takutnya ada metting pagi."
"Sayang belum selesai ya tamunya."
"Mungkin besok." Ayra berlalu dari hadapan Vano, membawakan tas kerja dan jas milik Vano.
"Berarti besok sudah bisa buat Vano junior donk ?"
"Hem" Ayra menjawab seperlunya.
Mereka turun untuk sarapan, disana Han sudah duduk menunggu bosnya.
"Pagi kak Han..?" sapa Ayra ramah.
"Pagi Ra.. He'emm... penganten baru bawaanya bahagia terus."
"Jelas donk, makanya buruan nyari biar ada yang ngurusin kamu.."
"Udah nyari Van, emang belum Nemu aja."
Mereka bertiga melanjutkan sarapan dengan diselingi obrolan ringan, sebelum ke kantor Vano mengantar Ayra kekantornya lebih dulu.
"Nanti pulang bareng oke.?"
"Ayra mengangguk dan melambaikan tangan pada Vano dengan berjalan memasuki kantornya."
Sesampainya Vano diruang kantornya, ponsel yang ada dalam saku jasnya berbunyi.
Dilihatnya tertulis nama mama disana, segera ia menggeser gambar telepon warna hijau.
"Iya ma.."
__ADS_1
"Van mama mau minta izin bawa Ayra nanti sore setelah pulang kantor."
"Mama mau bawa istri Vano kemana ma.?"
"ini urusan wanita, kamu gak perlu tau. Yang penting mama sudah izin sama kamu." tanpa menunggu jawaban Vano mama segera mematikan sambungan telepon nya.
Mama mely segera mengabari Ayra, dan Ayra pun setuju nanti sore mertuanya yang menjemputnya pulang.
Mama Vano yang terlalu semangat gak bisa Ayra menolaknya, Ayra sangat bersyukur memiliki mertua seperti papa Reno dan mama mely. Keduanya begitu menyayanginya, dan menganggap seperti anaknya sendiri.
"Ma kita mau kemana."
"Ke butik temen mama sayang, kamu harus beli banyak baju. Disana desain nya bagus-bagus.."
"Hai jeng lama gak ketemu, ini siapa?" ucap Tante Vera
"kenalin ini khayra, istrinya Vano."
"Khayra Tante." Ayra mencium tangan sahabat mertuanya.
"Hai sayang, cantik banget pinter Vano cari istri."
"Tentu donk, Pilihkan semua baju yang cocok sama menantuku."
Ayra diminta mama mencoba banyak baju, dan semua baju yang dicoba Ayra dimintanya untuk dibawa pulang.
"Ma ini terlalu banyak.." Ayra merasa sungkan.
"Sayang suami kamu CEO perusahaan, kamu harus lebih cantik daripada wanita diluar sama."
Setelah dipikir-pikir bener juga kata mertuanya, suaminya tampan, bodi atletis, kaya, wanita mana yang gak kepincut.
"Ayo kita lanjutkan lagi sayang.."
Ayra mengikuti kemanapun mamanya pergi, mama Mely mengajaknya masuk ke salon langganannya.
"Sore ibu Mely.." sapa beberapa pegawai salon.
"sore... mbk dandani menantuku yang cantik..?"
"Baik ibuk siappp. Mari mbk iku saya." ucap seorang pegawai.
Setengah jam kemudian ayra menghampiri mertuanya dengan penampilan barunya, mama Vano begitu terkesima menatap menantunya yang terlihat sangat cantik.
"Ayo sayang kita pulang keburu suamimu datang..?"
"Ma takutnya mas Vano gak suka sama penampilanku."
"Mana anak laki-laki melihat istrinya cantik gak suka sayang."
Begitu mobil mama memasuki halaman rumah Vano terlihat mobil Vano sudah terparkir disana.
"Mama ayo masuk dulu.?"
"Maaf sayang lain kali mama mampirnya, mama pulang dulu ya.."
Mobil mama menghilang dari pandangan Ayra pun melangkah memasuki rumah, dengan menenteng banyak belanjaan ditanganya.
"Non bibik bantu bawain belnjaanya...?"
"Gak usah bik Yem, ini gak berat. maaf bik Ayra naik dulu ya.."
"Iya non silahkan. Malam ini non Ayra terlihat sangat cantik." Gumam bik Yem
Ayra memasuki kamarnya terlihat Vano duduk disofa dengan laptop dimeja, begitu fokusnya hingga tak menyadari Ayra memasuki kamar.
Ayra menjatuhkan tubuhnya disamping Vano, dengan tanganya menggenggam tangan suaminya.
"eh sayang udah pulang."
"Serius amat kerjanya, sampai gak nyadar aku Dateng.?
Vano menatap istrinya yang begitu cantik, "dari mana aja. Tu ngapain muka dibegituin, hapus sana aku gak suka."
Ayra berlalu kekamar mandi dengan muka yang sedikit ditekuk, setelah menghapus makeup nya Ayra kembali duduk disamping Vano.
__ADS_1
"Nah ini baru cantik, alami.." Vano memuji istrinya dengan senyum mengembang.