Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode18


__ADS_3

Siang itu seorang Wanita berusia 24 tahun berdiri didepan pintu keluar kedatangan dari luar negeri, Ayra hanya ditemani mang Dadang. Rima sedang bekerja, Vano meminta Ayra untuk resign dari pekerjaannya.


Vano ingin setiap waktu dirumah atau pulang kerja lebih awal istrinya berada dirumah, tadinya Ayra keberatan dengan permintaan Vano. Setelah beberapa hari dipikir-pikir akhirnya Ayra setuju, tidak ada hal yang lebih penting didunia ini dari suaminya.


Dari luar Ayra melihat sosok seseorang yang sangat dirindukan sedang berjalan melewati pintu keluar, senyum tak hilang dari bibir indahnya.


"Sayang udah lama nunggunya..?" Vano membawa Ayra dalam pelukannya.


"Enggak bee,, baru aja nyampek.." Padahal sudah sekitar satu jam yang lalu Ayra dibandara. Gak sabar untuk menjemput suaminya..


"Van Lo mau ke kantor apa langsung pulang..?"


"Pulang Han, besok aja kekantornya mau istirahat. Lo juga pulang sana..?"


"Istirahat atau bekerja keras..?" Han meledek sahabatnya.


Dulu sebelum Vano menikah setiap pulang dari luar kota atau luar negeri langsung ke kantor, bisa lembur sampai malam karena meninggalkan pekerjaan beberapa hari.


Sering juga menginap dikantor.


"Emang kenapa, halal kok." Vano segera berlalu meninggalkan Han yang masih mematung ditempatnya.


Mang Dadang sudah berlalu membawa koper Vano ke mobil.


"Langsung pulang aja mang. Kangen rumah.." Ucap Vano berkilah..


"Baik Den Vano.."


Sore itu jalanan sedikit lengang, mungkin belum jam pulang kantor jadi gak semacet biasanya.


Setelah mobil terparkir dihalaman rumah, mang Dadang segera membukakan pintu untuk majikanya, setelah itu memutari mobil dan membukak pintu untuk istri majikanya.


Vano yang turun dari mobil menggenggam tangan istrinya dan membawanya memasuki rumah.


"Sore Den Vano,..?" sapa bik Iyem dari dalam rumah.


"Sore bik..!" Vano dan Ayra tersenyum ke arah mbok Iyem. Dan berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.


"Sayang kangen..?" Suara Vano terdengar manja ditelinga Ayra.


Ayra membantu melepaskan jas dan dasi yang menggantung dileher suaminya.


"Mandi dulu, bersih-bersih kan habis dari luar.."


Vano memeluk ayra yang sedang melepaskan dasinya.


"Ayolah bee..."


"Biarkan seperti ini dulu sayang 5 menit oke. Mandi bareng yaa?"


"Enggak aku baru saja mandi tadi."


Vano segera menarik tangan istrinya kedalam kamar mandi, Ayra hanya pasrah dengan ulah suaminya.


Setelah keduanya masuk kedalam bathtub Vano segera menyambar bibir istrinya, semua milik istrinya menjadi candu baginya.

__ADS_1


Ciuman yang semakin lama semakin menuntut, Semakin kebawah menciumi leher jenjang istrinya.


Tanganya mulai meraba-raba area sensitif milik istrinya, de**han istrinya begitu indah ditelinganya. Didalam kamar mandi saksi penyatuan kedua insan pasangan halal ini.


Setelah puas dengan permainanya mereka melanjutkannya dengan mandi bersama.


Adzhan Maghrib sudah berkumandang, tak terasa mereka mandi lebih dari tiga jam.


Vano segera menggelar sajadahnya..


"Sayang ayo kita jama'ah..!"


"Aku sudah siap bee.."


Ayra sudah berdiri diatas sajadanya dengan menggunakan mukena lengkap, Vano menatap istrinya dengan tatapan penuh kagum.


Terlihat keanggunan diwajah teduhnya, sosok yang tak pernah hilang dari pikiranya.


Sosok yang ingin dilindunginya dan ingin selalu dibuatnya bahagia.


Sholat diakhiri Ayra yang mencium punggung tangan imamnya dan Vano yang mencium pucuk kepala istrinya.


Vano menjatuhkan bobot tubuhnya diatas kasur, tubunya sangat lelah tapi hatinya bahagia sudah berada dirumah bersama istrinya.


Ayra duduk dipinggir tempat tidur disamping suaminya, seketika Vano memindahkan kepalanya yang semula diatas kasur ke pangkuan sang istri dengan muka didepan perut Ayra.


Diambilnya tangan Ayra dan diletakkannya diatas kepalanya, Ayra mulai mengelus-elus kepala suaminya.


Tak menunggu lama Vano terlelap, setelah dirasa Vano benar-benar tertidur Ayra dengan gerakan yang sangat pelan memindahkan kepala suaminya diatas bantal.


Ayra berniat membuatkan suaminya teh hangat, dapur lagi sepi mungkin semua penghuni dapur sedang sholat.


"Non Ayra sedang apa..?" Tanya bik Iyem


"Bikin teh mbok, buat mas Vano.."


"Perlu bibik bantuin Non.."


"Enggak bik, ini sudah selesai.."


Setelah ngobrol sebentar Ayra pamit ke kamar, dilihatnya Vano sudah terbangun.


"Bee teh angetnya.."


"iya sayang, jam berapa ini, aku ketiduran."


"Jam 20:00 bee, mau makan sekarang atau nanti."


"Nanti aja yang, aku masih ngantuk."


Vano yang bermalas-malasan diatas kasur dan Ayra yang duduk disofa melihat tv.


Terdengar notifikasi pesan masuk diponsel Vano, Vano segera mengambilnya dari atas nakas.


"Sayang besok ketemu dicafe x ya." Alexa

__ADS_1


Vano tersentak kaget melihat pesan dari Alexa, wanita yang meninggalkannya begitu saja.


Kembali ia meletakkan ponsel nya diatas nakas, pikiranya kembali menerawang ke masa lalu bersama Alexa.


Wanita yang pernah mengisi jauh dilubuk hatinya, ada keinginan untuk menemuinya esok.


Vano sampai sekarang masih penasaran alasan Alexa yang meninggalkannya, mungkin besok ia akan mendengar langsung dari mulutnya sendiri.


"Tetapi bagaimana dengan khayra..?"


Lihat besok aja, gimana pekerjaannya dikantor.


Suara Ayra membuyarkan lamunannya.


"Makan sekarang Bee, udah malam kasihan mbok Yem dan yang lainya."


"Heem..Ayo kita turun."


Vano merangkul pundak Ayra, keduanya menuruni anak tangga menuju meja makan.


Ayra sama sekali tidak menyadari perubahan raut muka Vano. Seperti biasa Ayra mengisi piring suaminya dengan nasi lengkap sayur dan lauknya lebih dulu, baru piringnya sendiri.


Keduanya makan malam tanpa banyak ngobrol, Vano masih larut dalam pikiranya pada Alexa.


Setelah makan malam selesai Ayra membawa pikirng kotor ke dapur, dan Vano mendudukkan pantatnya disofa didepan televisi.


Ia menyalakan tv dan melihat acara yang ada didalam tv.


Keduanya sudah berada didalam kamarnya, Ayra segera ke kamar mandi untuk gosok gigi dan bersih-bersih. Vano mengantri setelah Ayra, kini keduanya sudah berada diatas kasur.


"Sayang seberapa besar kamu mencintaiku..?"


"Hem..Kenapa tiba-tiba tanya begitu Bee.."


"Pengen denger langsung."


"Emang kamu gak percaya sama aku Bee,."


"Percaya sayang, ayolah istriku kan semangatku."


"Menurutku cinta itu gak hanya soal kata-kata melainkan perilaku kita. Biarpun bintang meredup dan bumi tak lagi berputar aku akan terus mencintaimu."


Vano tercekat mendengar kata-kata istrinya, hatinya menghangat. Gak nyangka begitu besar rasa yang Ayra miliki padanya.


Tidak ada alasan untuknya meragukan, Vano tidak akan pernah lupa dulu Ayra pernah bilang. Ia akan menikah dengan seseorang yang ia cintai dan mencintai nya, baginya pernikahan hanya sekali seumur hidup.


Biarkan maut yang memisahkan, itu juga yang menjadi salah satu alasan Vano yakin memilih Ayra untuk mejadi pendampingnya, Menjadi ibu dari anak-anaknya.


Tanpa sadar ayra sudah tertidur dengan posisi duduk, iya menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


Vano terus menciumi kening istrinya dengan sayang.


Visual Devano Setya Nugraha


__ADS_1


__ADS_2