Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 70


__ADS_3

Mulai pagi di mansion semua orang disibukkan dengan urusan masing-masing, tidak terkecuali Ayra, Vano, Papa Anton, Mama Ana dan si kecil Shireen.


Siang ini di gedung milik keluarga Nugroho akan diselenggarakan pernikahan untuk Han, berlanjut dengan resepsi disana.


Mama Mely dan Papa Reno sudah berada disana sejak tadi malam, beserta kedua mempelai dan keluarga mempelai.


Gedung itu masih satu gedung dengan hotel milik Papa Reno, untuk itu semua keluarga diboyong menginap di hotel menjelang acara. Vano dan Ayra memutuskan untuk menginap di mansion aja karena harus menjemput Papa Anton dan Mama Ana di bandara.


"Non Ayra sudah cantik sekali persis seperti saat masih gadis dulu.." Puji yuk Darmi yang sejak tadi melihat majikanya di make over.


" Yuk Darmi bisa aja, badan Ayra udah melar gini yuk.."


" Justru tambah cantik Non, terlihat lebih berisi.."


" Bener banget yuk.. Dari dulu istriku memang paling cantik, makanya Vano gak mau ngelihat wanita lain selain istriku..." Vano mendekat pada Ayra dan duduk disampingnya.


Vano yang tiba-tiba masuk kamar mendengar obrolan yuk Darmi dan istrinya ikut menimbrung disana.


" Tu kan bener Non, Den Vano aja sampai gak berkedip ngelihatin non Ayra terus.."


" Udah ah Yuk, Ayra jadi malu nie.."


Yuk Darmi dan Mbak pengasuh membawa Shireen turun ke lantai bawah, disana sudah ada Papa Anton dan Mama Ana yang sedang menunggu anak dan menantunya.


" Ayra belum selesai ya Yuk...?"


" Sudah nyonya sebentar lagi akan segera turun.."


Semua orang menunggu pasangan yang belum juga turun sejak tadi. Mama Ana mulai gelisah karena terlalu lama menunggu, jika telat pasti sungkan sama besanya nanti.


" Pak Yosh.. bisa dipanggilkan Ayra sama Vano..? Takutnya ntar telat lagi.."


" Bisa nyonya akan segera saya panggilkan.."


Pak Yoseph melangkahkan kakinya dengan langkah panjang menaiki anak tangga menuju lantai 3. Langkahnya sudah berhenti persis didepan kamar dengan pintu yang terbuka lebar.


Ayra masih duduk di depan meja riasnya, dengan Vano berdiri disamping Ayra.


" Maaf Den Vano, Non Ayra.. Pak Anton dan Nyonya Ana sudah menunggu sejak tadi.."


" Kami akan segera turun pak.."


Mendengar Papa dan Mama sudah menunggu dibawah membuat Vano dan Ayra segera bergegas turun.


Melihat Ayra dan Vano keluar dari pintu lift, semua orang pun berdiri dan akan segera berangkat. Mobil sudah disiapkan sejak tadi di depan pintu utama.


" Kita berangkat sekarang Nak, gak enak kan kalau telat.."


" Iya Ma, maaf lama.."


" Gak apa-apa sayang, kamu terlihat cantik sekali.."


" Terimakasih Mama..."

__ADS_1


Vano dan rombongan sudah berada diperjalanan, kebetulan siang ini jalanan tidak terlalu ramai hingga 20 menit berlalu mobil yang membawa rombongan Vano tiba di lobby sebuah gedung.


Disana beberapa orang terlihat berlalu lalang mengatur jalanya acara nanti, mungkin mereka pihak WO terlihat dari pakaian seragam yang semua pegawai kenakan.


Ayra segera bergabung dimeja bersama Rima, Roby dan Rafa.


" Maaf ya Kita telat..."


" Gak apa-apa Ra, lagian acaranya juga belum mulai..."


Tak berapa lama setelah menunggu pengantin pria turun dengan didampingi kedua orang tua Vano sebagai pengganti orang tua Han.


Dan disusul pengantin wanita juga di dampingi kedua orang tuanya, diacara yang sakral ini sungguh Nessa terlihat sangat cantik dengan riasan yang natural.


Semua keluarga yang hadir menyambutnya dengan bertepuk tangan. Karena penghulu sudah berada ditempat ijab qobul pun dilaksanakan dengan khidmat, di akhiri dengan memanjatkan do'a untuk kedua mempelai dipimpin oleh tokoh agama yang sudah ditunjuk oleh mempelai.


Rima terus meneteskan air mata, dan menyandarkan kepalanya di bahu Ayra.


" Hey.. kenapa kamu menganis..?"


" Ra..."


Rima tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, ia menangis semakin kenceng.


" Aku tau perasaanmu Rim, pasti berat ya. Percayalah semua ini sudah ditentukan, kita tinggal menjalani saja.."


" Bener kata Ayra, kamu bahagia. Ini moment yang paling membahagiakan dalam hidup Han, jangan ada kesedihan disini.."


" Rima bahagia kak Vano, tapi rasanya seperti mau ditinggal kak Han.."


" Ayo aku antar ke pelaminan dampingi kak Han disana, Ayra juga mau kasih selamat sama Kak Han..."


Rima membalas ajakan Ayra dengan anggukan.


" Hapus dulu air matanya, nanti bedaknya luntur..."


" Udah.. Ayo..."


Kedua berjalan mendengati kedua mempelai, disusul yang lainya di belakang.


Sampai disana Rima segera memeluk kakanya, dirinya sudah tidak mampu lagi membendung perasaan sedihnya.


" Kak Han... Selamat ya..." Rima berkata sambil terisak.


" Kenapa menangis Dek.. Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan kakamu.."


" Ini air mata kebahagiaan Kak.."


Setelah Rima semua keluarga mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, kini mempelai sedang berganti pakaian untuk acara resepsi.


Para tamu yang menunggu di halaman gedung sudah diizinkan untuk masuk dengan pemeriksaan ketat di pintu utama, gedung yang tadinya hanya ada keluarga dekat kini hampir penuh dengan ribuan tamu yang hadir.


Semua tamu dari rekan Papa Pram, Papa Reno, Han dan Nessa sendiri, padahal tidak semua rekan bisnis di undang hanya perwakilan saja.

__ADS_1


" Rob gimana nie.." Ayra memegang pundak sahabatnya.


" Apanya sih Ra...?"


" Jangan pura-pura bego, ya hubungan mu sama Rima.."


" Masih bingung Ra, belum tau.."


" Kelamaan sih Rob, gue sakit Rob ngelihat sahabat gue sedih kaya gitu.."


Roby hanya diam, tapi pikirannya melayang kemana-mana.


" Sama Ra gue juga, kita kan udah sahabatan lama banget udah kaya saudara.."


Roby dan Ayra larut dalam obrolan tentang shabatnya itu, sementara Shireen sudah tertidur dalam pelukan pengasuhnya.


Kedua mempelai sudah kembali ke pelaminan, dan menyambut ribuan tamu disana.


Sesi foto Vano dan Ayra yang menggendong Shireen naik ke pelaminan, keduanya berfoto bersama kedua mempelai kemudian bersama kedua orang tua mempelai.


" Han selamat ya, akhirnya Lo laku juga.." Vano menjabat tangan sahabatnya.


" Makasih Van, emang jualan apa.."


Vano mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku jasnya.


" Ini kado buat pernikahan kalian.."


Han mengernyitkan dahinya, dan memutar kotak itu ditangannya. Han mendekatkan bibirnya pada telinga Vano.


" Ini bukan Kon**om kan Van...?"


" Bisa iya bisa juga tidak..."


" Ah... Sialan Lo..."


Vano tertawa puas mengerjai Han, kemudian berjabat tangan dengan Nessa.


" Kak Han selamat ya, semoga segera diberi momongan langgeng sampai Jannah..."


" Amiin... Terimakasih Ra, tolong amankan suami laknat mu..."


" Ness selamat ya, kalian serasi sekali.."


" Terimakasih Ra.." keduanya cipika cipiki


Ayra segera turun karena banyak yang mengantri untuk berfoto.


" Mas Vano kasih kado apa sama mereka..?"


" Rahasia donk..."


" Ih beneran pengaman ya, bener kata kak Han.."

__ADS_1


Vano hanya tersenyum-senyum sendiri, pesta hingga malam Ayra dan Vano pamit undur diri karena Shireen rewel mungkin lelah terus digendong.


__ADS_2