Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 48


__ADS_3

Sesuai kesepakatan kami Vano sudah berada di gedung apartemen x, bersama beberapa orang dan sedang menunggu seseorang.


" Den bisa kita mulai sekarang..?"


" Bentar Pak saya menunggu seseorang lagi..'"


Tak berapa lama muncullah dua orang laki-laki Papa Reno datang bersama asisten Han.


Setelah dirasa semua sudah hadir, kini mereka menaiki lift menuju lantai 8. Sebelumnya Vano sudah mengomunikasikan masalah ini dengan pihak-pihak terkait pengelolaan apartemen, bahwa kedatangannya tidak untuk membuat keributan melainkan untuk meluruskan kesalahpahaman.


Pihak apartemen pun tidak keberatan, bahkan menawarkan bantuan jika Vano membutuhkan. Bagi mereka Vano bukanlah sosok yang asing, wajahnya sering menghiasi layar televisi sebagai pengusaha muda dan sukses di negeri ini.


Seorang pengawal yang dibawa Pak Yoseph memencet bel, satu kali tidak ada respon dari dalam. Ia pun memencet bel untuk yang kedua kalinya, tak lama terdengar suara pintu dibuka dari dalam.


Muncul seorang laki-laki bertelanjang dada dengan hanya menggunakan celana boxer.


" Siapaa..?" ucapnya dengan suara khas orang bangun tidur dan kelopak matanya masih berat untuk dibuka.


Tak banyak bicara pengawal itu segera menyandera dan membekap mulutnya untuk tidak bersuara.


Dion terkejut dan membuka matanya lebar-lebar tetapi sudah terlambat dilihatnya beberapa orang bertubuh tegap berada di sana.


Vano, Han, Papa Reno dan Pak Yoseph masuk ke dalam apartemen.


Dilihatnya seorang wanita masih tertidur pulas di bawah selimut, dengan kasur yang berantakan pakaian sprei dan bantal berserakan di bawah.


" Baguuusss..." Vano dengan bertepuk tangan.


Mendengar suara yang tak asing di telinganya Alexa mulai membuka matanya. Ia begitu terkejut melihat di kamarnya banyak orang, diantaranya ada Han Papa Vano dan Vano selebihnya Alexa tidak mengenali mereka.


" Vano..." Alexa duduk dengan masih membungkus tubuhnya dengan selimut. Bisa dipastikan tubuh itu polos tanpa busana.


" Dasar Murah*n.. Begini cara kamu pacaran selama ini.."


" Van aku bisa jelaskan, aku sama Dion cuma temenan."


" Temen apa maksud kamu, aku beri waktu 1 menit untuk pakai pakaianmu. Cepattttt..." Vano pun berteriak.


Semua orang yang ada di sana hanya terdiam kecuali Vano, Alexa yang masih dengan selimutnya turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya di lantai segera berlari ke kamar mandi.


1 menit Alexa keluar dengan pakaian lengkap walau terlihat acak-acakan.


" Van maafin aku.." Alexa meraih tangan Vano, dan Vano segera menghindar.


" Jauhkan tangan kotormu dariku.."


" Duduk..." Dengan keras Vano menunjuk kursi yang ada di sampingnya.


" Tapi Van.."


" Duduk atau kau akan mati berdiri.."


Alexa pun pendudukan tubuhnya pada kursi yang Vano maksud, di sampingnya ada Dion yang sama-sama duduk dengan dijaga 2 pengawal dan mulut di lakban.


Vano berjalan dan segera meraih remote TV dan menyalakannya, Vano mengirim video ke sana dan memutarnya.


Alexa melotot melihat apa yang ada di depan matanya.


" Bagaimana bisa Vano mendapatkan rekaman ini.."


" Buka mulutnya.." Perintah Vano pada pengawal istrinya.

__ADS_1


Kreekkkk... Pengawal itu menarik lakban di mulut Dion dengan sangat kuat.


" Aduuhhh.. Ku bunuh kau.."


" Tutup atau ku robek mulutmu sekarang.."


Dion hanya bisa memegangi mulutnya yang terasa panas sekaligus perih tanpa bisa melawan.


" Kau tahu wanita yang ada dalam video ini..?" tanya Vano pada Dion.


" Mana aku tau.." Jawabnya acuh.


" Perhatikan atau ku congkel biji matamu.."


Seketika nyali Dion langsung menciut, pandangannya fokus menatap layar televisi.


" Aku tidak mengenalnya.."


" Apa kamu mengenalnya..?" tanya Vano pada Alexa.


" Tidak.. aku tidak mengenalnya..!"


" Sungguh..??" Tanya Vano meyakinkan.


" Ii...iyaaa.." Alexa menjawab terbata-bata.


" Perlu kalian tahu, wanita itu sudah mencelakai istriku dan membuatnya cedera pada pergelangan tangannya. Akibat kejahatan itu calon bayiku yang tak bersalah hampir terbunuh, kalau ketemu siapa wanita yang ada di sana.." Vano menunjuk layar televisi dan menghentikan kata-katanya.


" Aku akan memenggal kepalanya.." Vano sengaja menakut-nakuti Alexa agar mengaku.


Alexa bergidik ngeri, dirinya mulai tidak tenang batinnya ketakutan kini tubuhnya bergetar. Iya tak sanggup membayangkan dengan apa yang akan dilakukan Vano padanya.


Semua yang ada di sana menyadari perubahan raut muka Alexa, Papa Reno tersenyum tipis.


" Kasih hukuman berat Van, orang ini akan mencelakai cucu Papa. Jangan biarkan dia berkeliaran bila perlu potong kedua kakinya.."


Begitu ngilu rasanya, kini Alexa dihinggapi kebingungan mengaku ataupun tidak dirinya sama-sama dalam bahaya.


" Maaf wanita dalam video itu saya.." ucapnya seraya terus menundukkan kepalanya.


Vano pun tersenyum puas, akhirnya pembuat onar ini bisa ditaklukkan juga.


" Apaaa..." Dion terkejut Alexa bisa senekat itu.


" Iya itu aku.."


" Lexs kamu tahu sedang berurusan sama siapa, istri Vano juga bukan orang sembarangan.."


" Aku mencintai Vano, wanita itu sudah merebut Fano dariku beserta calon anaknya. aku benci keduanya."


Kini semua orang terdiam hanya suara isakan tangis Alexa.


" Ini juga kesalahan Om.." Alexa menunjuk Papa Reno.


" Om yang tidak pernah menyetujui hubunganku dengan Vano, kalian jahat.."


" Tqurunkan tanganmu.." bentak Han pada Alexa.


" Batin orang tua tidak pernah salah, tidak mungkin saya menyerahkan anak saya dengan wanita licik sepertimu.."


" Sudah berapa lama kamu menjalin hubungan dengan Alexa..?"

__ADS_1


" Sudah lama.."


" Jawab dengan jujur.." Bentak pengawal.


" Kurang lebih 8 tahun." jawabnya singkat.


" Kamu tahu saat itu Alexa punya kekasih..?"


" Tahu.. Dia yang datang padaku..!"


" Seret mereka berdua, letakkan di mana penjahat seharusnya berada.."


" Siap tuan.."


Para pengawal membawa keduanya sesuai perintah Vano.


" Han jual apartemen ini, uangnya kirim ke panti asuhan seperti biasa.."


" Hem.. " jawab Han.


Semua orang pergi meninggalkan gedung apartemen dan kembali ke aktivitasnya masing-masing.


Papa Reno dan sopirnya kembali ke kantornya, begitu juga dengan Han dan Vano.


Pak Yoseph, Bobby dan Philips kembali ke mansion.


" Siang nona.." Pak Yoseph yang mendapati majikannya sedang duduk di ruang tamu sedang membaca buku.


" Siang Pak Yos, Pak Yos dari mana..?"


" Eee.. Anu Nona, ada urusan sedikit diluar.."


" Oohh... Lanjutkan pak.."


" Iya, mari Nona.."


Ayra menjawab dengan anggukan dan kembali fokus pada bukunya.


" Non minum susu hamilnya dulu.."


Yuk Darmi membawakan susu hamil untuk Ayra.


" Iya makasih Yuk, Yuk sini deh duduk Deket Ayra.."


" Iya Non.." Yuk Darmi yang sudah duduk disamping Ayra.


" Yuk Darmi ikut ya kemanapun Ayra pergi..?"


" Emangnya Non Ayra mau pergi..?"


" Iya mungkin"


" Yuk kerja di sini ikut non Ayra, jadi apa yang non Ayra perintahkan Yuk berusaha kerjakan."


" Yuk Darmi kan orang tua Ayra juga, Yuk nggak harus bekerja.."


Seperti biasa Ayra memeluk yuk Darmi Dan meletakkan kepalanya di pundak wanita paruh baya itu, yuk Darmi pun membelai rambut dan kepala Ayra.


Dari dulu saat Ayra masih susah berada di rumah yang sama dengan ibu dan saudara tirinya, sampai sekarang Ayra tidak pernah berubah memperlakukan Yuk Darmi.


Justru karena Ayra kecil yang membuatnya betah bekerja dirumahnya waktu itu. Yang setiap hari dirinya mendapatkan amukan dari Bu Sarah, andai Yuk Darmi pergi dan cari majikan lain bagaimana Ayra waktu itu.

__ADS_1


Sekarang Ayra dan Yuk Darmi sudah memetik buah dari kesabaran ya, begitu juga dengan Bu Sarah dan Amel.


__ADS_2