Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 51


__ADS_3

Kurang lebih selama 3 minggu Ayra berada di London, ini dirinya berada di dalam sebuah pesawat yang akan membawanya ke new York.


Ayra keluar dan di sana sudah ada Papa Reno dan Mama Melly yang melambaikan tangan ke arahnya dengan tersenyum.


Ayra membalas lambaian tangan mertuanya dan bergegas menghampirinya.


" Bagaimana perjalananmu Nak..?"


" Sangat menyenangkan Pa.."


" Apa cucu Mama rewel..?"


" Enggak sama sekali Ma.."


Hanya 15 menit mobil yang membawa Ayra memasuki halaman rumah orang tua Papa Reno.


Begitu Ayra memasuki rumah, Ayra disambut senyum Gema yang sedang duduk di sofa.


" Gema bagaimana kabarnya..?" Ayra segera memeluk Oma Vano.


" Sehat seperti yang kamu lihat Nak.."


" Apa kaki Gema sudah baikan..?"


Gema segera berdiri dan melangkahkan kakinya beberapa langkah ke depan kemudian berputar balik.


" Kaki gema sudah kembali sayang.."


" Wah... Hebat sekali.."


" Gema mau lihat cicit Gema tumbuh besar, makanya harus sehat ."


" Sudah Ma, biarkan Ayra istirahat dulu.."


" Gak apa-apa Pa.."


" Oia Mama lupa, saking asyiknya ngobrol, Ayra makan dulu terus istirahat pasti capek habis perjalanan jauh."


Mama Melly membawa Ayra kemeja makan, setelah makan Ayra naik ke atas. Kamar ini adalah kamar yang sama waktu Ayra dulu datang ke new York bersama suaminya, menurut cerita Mama Mely dan Kak Han Vano benar-benar berubah.


Setiap hari Vano selalu menghubungi anak buahnya untuk menanyakan bagaimana perkembangan pencarian istrinya, tetapi masih nihil yang Vano lakukan hanya menunggu.


Untuk melupakan kesedihannya Vano mengisi waktu dengan bekerja.


" Van...."


Vano menoleh ke sumber suara.


" Besok dan seminggu ke depan, gue masih menyelesaikan urusan di perusahaan Om Reno."


" Iya, tiga hari ke depan aku akan ke Singapura.."


" Saat kepulangan mu dari sana, aku akan menyiapkan acara launching parfum sebagai produk terbaru dari perusahaan kita "


" Semua aku percayakan sama kamu Han."


Han meninggalkan ruangan Vano dengan membawa beberapa dokumen ditangannya.


Saat akan melewati ruanganya, matanya menatap pergelangan tanganya untuk melihat pukul berapa sekarang.


Brakkk...


" Aduhhhh..."


Han dengan memegang kepalanya menatap orang yang barusan bertabrakan dengan ya.


" Hey kalau jalan pakek mata, bukanya minta maaf malah bengong.."


Suara lantangnya membuyarkan Han dari lamunanya.


" Jalan ya pakek kaki, emang bisa jalan pakek mata. Situ yang nabrak kok aku yang minta maaf.."


" Enak aja, udah salah malah nyolott.."

__ADS_1


Keduanya terlibat adu mulut cukup lama, tanpa keduanya sadari beberapa pegawai berkumpul disana ikut menyaksikan pertengkaran mereka.


Hingga Han memutuskan untuk pergi meninggalkan wanita yang terus saja mengomel, sampai di lobby Han segera masuk ke mobilnya dan meluncur ke perusahaan Papa Reno.


Ceklekk..


" Mas Vano..."


Vano yang sedang fokus bekerja menghentikan aktivitas nya sejenak.


" Nessa, kamu kok dateng-dateng sewot gitu.."


" Gimana gak sewot mas, tadi ada orang gila yang nabrak aku dibawah.."


" Ada-ada aja, mana ada orang gila datang ke kantor.."


" Mas, kenalin Nessa sama istri mas Vano ya.."


" Kamu kurang beruntung, istriku lagi berlibur ke new York sama Papa dan Mama."


Vano memiliki alasan untuk membohongi Nessa, andaikan Ayra di Indonesia pun keadaanya tidak memungkinkan untuk memperkenalkan Ayra sama Nessa.


***


" Sayang .. Boleh Oma masuk..?"


Ayra segera membuka pintu kamarnya.


" Boleh dong Gema.."


" Biar saya aja sus yang dorong kursinya.."


" Terimakasih Nona.."


Ayra mendorong kursi roda Gema masuk ke kamarnya dan membantu naik ke atas ranjang.


" Ayra harus sabar ya, Vano itu dari kecil kan gak pernah susah. Apa yang Vano inginkan pasti di dapatkan, beda sama jaman Gema kecil dulu. Mau apa-apa ya harus nabung dulu, kerja dulu tapi Gema yakin Ayra adalah wanita yang tepat buat Vano."


Kedua wanita beda usia ini saling berpelukan.


Selama 2 Minggu Ayra berada di new York ia begitu bahagia, banyak kasih sayang tercurahkan padanya.


Salah satu alasan Ayra berat meninggalkan Vano adalah keluarganya.


" Pa besok Ayra akan kembali ke Indonesia.."


Sontak semua orang menghentikan makanya.


" Kenapa buru-buru Nak.."


" Enggak Pa, kandungan Ayra sudah semakin besar. Ayra akan menikmati masa ini hingga melahirkan di Indonesia.."


" Mama sedih Ayra pulang, tapi mama juga bahagia. Apapun keputusan Ayra, pasti Ayra sudah memikirkan jauh-jauh hari dan itu yang terbaik.."


" Terimakasih Ma.."


" Jangan bosen jadi orang baik ya sayang.."


" Iya Oma, Terimakasih.."


Malam ini menjadi malam yang pendek bagi semua orang, khususnya Mama Mely.


Awalnya Mama Mely berharap Ayra akan melahirkan cucunya di new York, dugaannya salah Ayra memutuskan pulang ke Indonesia.


Berita kepulangan Ayra disambut bahagia oleh para sahabatnya. Lusa Rima dan kak Han akan menjemputnya di bandara.


***


Rima dan kak Han sedang berada didalam mobil menuju bandara.


" Kak... Apa kak Vano tau kalau Ayra pulang.?"


" Hemmm... Enggak kayaknya, tapi menurutku Vano sudah lebih baik sekarang jadi lebih bertanggung jawab diperusahaan."

__ADS_1


" Aku juga kasihan sama mereka kalau sampai pisah kak.."


" Ya semoga gak sampai pisah lah,.."


Mobil Han berhenti diarea parkir bandara, keduanya menunggu didepan pintu kedatangan dari luar negeri. Menurut informasi yang ayra katakan, jam segini pesawat sudah mendarat dibandara Indonesia.


Tak lama menunggu muncul sosok yang Rima rindukan bersama rombongan.


" Selamat datang kembali Ra.."


" Terimakasih Kak Han.."


" Akhirnya kamu pulang juga, pasti kangen banget sama gue.." Keduanya berpelukan erat.


" Tau aja, eh anak gue kegencet nie.."


" Eh sorry sorry... Calon pewaris nie.."


" Tau aja..."


" Gila Lo Ra, bawa rombongan banyak banget, satu pesawat rombongan Lo semua.."


" Ya enggak lah, gue cuma ber 4. Tambah dokter dan beberapa pengawalnya Papa Reno."


" Pasti Om Reno takut ada apa-apa sama kandungan Lo dijalan.."


Ayra meminta dokter dan pengawal Papa Reno untuk langsung kerumah besar Papa Reno, tidak perlu mengantarnya sampai ke mansion.


Setelah berpamitan dengan Ayra semua pamit kerumah Papa Reno, besok pagi semua akan bertolak kembali ke New York.


Sedangkan Ayra, Rima, kak Han, Yuk Darmi dan pengawalnya Ayra pulang ke mansion.


Mobil yang membawa Ayra tiba di mansion, dan semua orang turun dari mobil.


Semua itu tak luput dari pengawasan orang suruhan Vano.


Derrrt...Derrrt...


" Hallo..." Jawab seseorang dari seberang sana.


" Hallo bos, Nona Muda sudah kembali ke mansion, bersama asisten Han dan adiknya."


" Apa kamu yakin.."


" Sangat yakin bos, saya berada didepan mansion Nona Ayra. Rombongan baru saja turun dari mobil.."


" Terus awasi, dan laporkan perkembangannya secepatnya.."


" Baik bos.."


Han meninggalkan Rima di mansion dan dirinya kembali ke kantor, sampai dikantor seorang resepsionis mengatakan Vano menunggunya diruangan.


" Van... Lo nyari gue.."


Vano hanya diam.


" Van Lo kenapa..?"


" Han... Bagaimana bisa Lo gak bilang sama gue kalau Ayra pulang.."


" Van.. Maafin gue, gue gak enak sama Ayra. Gue pikir akan buat suprise saat launching parfum nanti."


" Bagaimana gue bisa nunggu lebih lama lagi Han, Ayra itu hidup gue. Lo tau sendiri gimana usaha gue buat nyari Ayra ."


Han merasa bersalah pada Vano, tapi juga berada diposisi yang bingung.


*****


Hallo... Maafin author ya 2 hari ini gak up, dikarenakan ada sedikit masalah Dimata sehingga harus off dulu melihat layar. Terimakasih yang setia nunggu kelanjutanya dari novel receh ini.


Tanpa pembaca novel ini tidak berarti apa-apa..


🙏🙏🙏🙏 Salam sehattt

__ADS_1


__ADS_2