Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 66


__ADS_3

Mulai dari depan pintu hingga sampai di sofa ruang tamu tatapan tajam Han dan Vano tidak teralihkan dari Sarah.


" Mau apa lagi kamu kesini...?" Ucap Han dengan nada yang tidak suka.


" Saya mau bertemu dengan Ayra.."


" Ibuk sadar Ayra bukan siapa-siapa mu lagi, hubungan kalian sudah putus saat Ayra kalian usir dari rumah itu..!"


" Maafkan saya... Maafkan saya... Saya bener-bener ingin bertemu dengan Ayra.."


" Mau apa masih menemuinya,.?"


" Anakku mengalami kecelakaan dan sekarang ada dirumah sakit, saya mau minjam uang sama Ayra.."


" Sudah aku duga pasti masalah uang..!"


Han terus berbicara pada Sarah sedangkan Vano hanya diam saja, dirinya menyimak apa maksud kedatangan Sarah di mansion.


" Tapi saya sangat membutuhkan uang itu.."


" Bukanya anda sudah dikasih rumah sama orang tua Ayra, itu kan bisa kalian jual.."


" Kalau rumah itu sampai terjual kami sudah tidak punya tempat tinggal lagi.."


" Nak Vano, ibuk mohon..." Sarah memohon di hadapan Vano.


" Sudah berapa lama kamu memata-matai Ayra disini.."


" Saya tidak melakukannya sungguh, saya baru tau beberapa hari yang lalu saat restoran tempatku bekerja mendapat job disini.."


" Berapa uang yang kamu butuhkan...?"


" Saya butuh 300 juta.."


****


Ayra tidak mendengar keributan yang ada di lantai bawah, dikarenakan dirinya sedang melakukan video call dengan Mama Ana yang merindukan anak dan cucunya.


Kedua wanita ini selalu betah jika sedang mengobrol, bisa berjam-jam lamanya.


Dari mulai menyusui Shireen hingga Shireen tertidur keduanya masih mengobrol.


Vano juga tidak mengharapkan Ayra melihat Sarah berada di mansion, Vano meminta pelayan membawakan makan siang dan juga buah dan camilan ke kamarnya. Pengasuh Shireen juga stand by disana agar Ayra tidak keluar kamar.


" Saya kasih uang sebanyak yang Anda mau dan segera pergi jangan pernah menampakkan diri di hadapan istriku.."


Sarah menangis terisak-isak, memang perbuatannya dulu sangat jahat tetapi di lubuk hatinya ingin melihat putri sambungnya itu.


Dirinya ingin meminta maaf secara langsung, walaupun setelah itu Ayra akan membencinya.


" Izinkan saya untuk menemuinya sekali saja nak Vano, ibuk mau minta maaf secara langsung sama Ayra.."


" Pilih uang atau menemui Ayra, Vano kan sudah kasih pilihan. Kamu tau lah mana yang lebih di butuhkan.." Han bersikap tegas pada Sarah.

__ADS_1


" Baik kalau begitu, saya akan pergi jauh setelah ini. Tidak akan pernah mengganggu keluarga kalian lagi.."


" Bagus kalau sadar diri.."


" Sudah Han, ambilkan cek di ruang kerjaku.."


Han pergi naik ke lantai atas dan tak lama turun lagi dengan membawa apa yang Vano perintahkan padanya.


" Ini Van.." Han menyerahkan sesuatu yang ada di tangannya pada Vano.


Vano menerima dan langsung menuliskan angka yang cukup fantastis disana, diakhiri dengan membubuhkan tanda tangan di kertas itu.


" Ini uang 2M untuk biaya pengobatan putrimu, dan sisanya kalian bisa pakai untuk hidup atau usaha kecil-kecilan.."


Sarah menerima selembar kertas dari tangan Vano dan melihat nilainya.


" Terimakasih Nak, ibuk tidak akan pernah melupakan kebaikanmu.."


Setelah urusannya selesai Sarah pun pamit dan kembali lagi ke rumah sakit untuk menemui dokter yang akan menangani Amel, semua administrasi dan biaya untuk operasi camel sudah Sarah lunasi. Nanti malam dokter akan melakukan operasi pemasangan pen di kaki Amel.


Sarah tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas Rizky yang dirinya dapatkan, dalam keadaan mendesak Vano memberikannya yang sebanyak itu.


****


" Han bagaimana dengan tawaran Papa kemaren..?"


" Maksudmu Van.."


" Jangan pura-pura lupa Lo, gue minta Lo jangan ngecewain Papa. Bagaimanapun papa cuma mau yang terbaik buat Lo Han.."


" Gue masih bingung Van, Nessa juga minta segera gue datang kerumahnya tapi...!"


" Tapi apa, Lo gak percaya diri. Lo minder dengan keluarga Nessa.."


Bagaimana mungkin Vano bisa membaca pikirannya, ya semua tebakan Vano terhadapnya itu benar.


" Nanti gue kabarin Van, gue mau balik ke kantor lagi.."


Vano hanya melihat Han berjalan semakin menjauh darinya, Han keluar mansion dengan menerima telepon dari seseorang dan terlihat begitu buru-buru.


Vano berjalan ke arah depan berpapasan dengan pak Yoseph yang akan masuk ke dalam mansion.


" Ada yang bisa bapak bantu Den Vano..?"


" Enggak pak, apa mobil Han sudah pergi..?


" Sudah Den, baru aja.."


" Ya udah, terimakasih pak. Saya mau naik dulu melihat Shireen.."


" Baik Den silahkan.."


Berlahan Vano membuka pintu kamarnya dan melihat Ayra tertidur di atas ranjang, sedangkan Shireen bersama pengasuhnya.

__ADS_1


" mbak tidurkan aja di samping ibuk.."


" Baik pak..."


Setelah meletakkan Shireen disamping Mommy nya pengasuh itu pergi meninggalkan kamar.


Vano mengelilingi Shireen dengan bantal dan meninggalkan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai membersihkan diri Vano melihat Shireen sudah terbangun dan bermain sendiri, Vano segera menggendongnya dan mengajak bermain di sofa supaya tidak mengganggu Ayra yang sedang tidur.


Shireen terung menjilati bibirnya.


" Sayang, anak ayah laper ya.? Ayo kita ambil susunya.."


Vano menggendong putrinya dan berjalan ke nakas mengambil susu yang sedang dipanasi, dan memberikannya pada Shireen. Mungkin terlalu lapar Shireen segera menghabiskan ASI di dalam botol minumnya, Vano mengangkat tubuh Shireen dan menepuk-nepuk punggungnya agar bersendawa.


Vano berusaha membantu istrinya sebisa mungkin, meskipun memiliki pengasuh Vano ikut terjun langsung merawat buah hatinya.


Memberikan susu, memandikan dan mengganti popok Vano sudah terbiasa melakukan. Bahkan Shireen juga sering tertidur dalam gendongan ayahnya, mendengar Vano yang terus berbicara pada Shireen Ayra pun terbangun.


" Mas... Shireen rewel ya..?"


" Enggak kok sayang, malah seneng nie Shireen tertawa terus.."


" Sini mas sama Ayra aja,.."


Vano memberikan Shireen pada Ayra dan keduanya bermain di atas tempat tidur, Vano memeluk Ayra dari belakang dengan melihat putrinya yang terus aktif bergerak.


" Sayang udah sembuh belum..?"


" Apanya mas..?" Ayra pura-pura tidak mengerti maksud Vano.


" Jahitan bekas lahiran kemaren.."


" Ya belum lah mas, baru aja 2 bulan.."


" Nunggu berapa lama lagi donk..."


" 5 bulan lagi.."


" Lama sekali sih.." Vano terus menciumi leher jenjang istrinya istrinya dari belakang.


Aroma yang selalu Vano sukai dari istrinya dan membuatnya ingin terus menciuminya.


" Geli mas Vano.."


" Kangen.. Shireen udah minta adek tu, lihat aja iya kan nak..?"


Shireen hanya tertawa tanpa mengerti apa yang orang tuanya katakan, Vano menganggap seolah Shireen mengerti.


" Mana Shireen tau mas Vano.. Masa iya anak sekecil ini minta adek lagi, ada-ada aja sih mas Vano ini.."


" Sayang nanti mas pengen punya anak 3, kalau kamu gimana..?"

__ADS_1


" Sepasang cukup mas.."


Vano menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


__ADS_2