
Menjelang pernikahan kakaknya hari ini sepulang dari kantor tempatnya bekerja Rima menaiki ojek online menuju kediaman papa Reno.
Rima disambut ramah Mama Mely yang kebetulan berada di teras rumahnya sedang menyiram bunga.
" Sayang... Sama siapa..?"
" Sendirian Tante, Rima mau main aja."
" Bilang Tante dong, biar Tante jemput atau ketemu dimana gitu makan-makan shopping.."
" Iya Tante, lain kali Rima telpon Tante kalau mau datang. Om belum pulang ya Te.." Rima melihat halaman rumah dan garasi belum ada mobil yang biasa dibawa Papa Reno ke kantor.
" Panjang umur, Tu mobil Om Dateng.." Mama Mely menunjuk ke arah sebuah mobil yang baru saja memasuki halaman rumah.
Setelah supir memarkirkan mobilnya dan berhenti, keluarlah Papa Reno dari pintu tengah segera berjalan menghampiri dua wanita yang sedang mengobrol di teras.
" Mama ini gimana sih, Rima datang kok gak di ajak masuk.."
" Oia Mama lupa, keasikan ngobrol sih. Ayo sayang kita masuk dulu.."
Ketiganya berjalan memasuki rumah dan menuju ruang tamu.
" Sayang ngobrol sama Tante Dulu ya, Om mau ganti baju.."
" Iya Om, Rima juga baru nyampek kok.."
Papa Reno naik ke kamar dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu, hari juga sudah menjelang malam.
Selesai dengan ritualnya Papa Reno kembali turun ke bawah untuk menemui Rima dan Mama.
" Om... Tante... Sebelumnya Rima mengucapkan banyak terimakasih, om dan tante sudah bersedia kita repotin terus.."
" Stop nak jangan bicara gitu, orang tua mana yang merasa direpotkan anak-anaknya.."
" Iya sayang.. Om bener, kamu gk perlu sungkan.."
" Kamu tenang ya, Om dan Tante udah menyiapkan semua untuk Han. Kita berdua merasa bahagia, gak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.."
" Setelah ini kamu ya Nak.." Mama Mely membelai sayang rambut Rima
" Do'akan Rima ya Om Tante.."
" Pasti.. Tanpa kalian minta kita sebagai orang tua selalu mendo'akan kalian semua.."
" Terimakasih Tante..." Rima memeluk Mama Mely erat dan menyandarkan kepalanya di pundak wanita itu.
" Sayang bagaimana kalau kamu kerja di kantor Om aja.."
" Bener itu Ma, gimana Nak..? Pilihlah posisi yang kamu inginkan.." Papa Reno ikut meyakinkan Rima.
" Terimakasih Om, Rima pengen berusaha dengan kemampuan Rima sendiri.."
__ADS_1
" Bagus.. Bagus..." Om bangga sama kamu nak, kamu dan Han sangat mandiri.
Jam menunjukkan pukul 20:00 setelah makan malam bersama Rima pamit undur diri, dan kembali ke apartemen.
" Selamat malam anak Papa.."
" Malam Papa, baru pulang pasti papa capek..?"
" Mas Vano mau makan dulu atau mandi dulu.."
" Mandi aja sayang, udah lengket semua nie rasanya.."
" Ayra siapkan dulu ya.."
" Mbak minta tolong Shireen dulu ya..?"
" Baik Nyonya.." Pengasuh Shireen segera mengambil alih Shireen dari gendongan Mommy nya.
Vano menggandeng tangan Ayra dan membawanya naik ke lantai 3, Ayra membantu melepas jas dan dasi suaminya.
" Ayra siapkan dulu mas Vano air hangatnya.."
Vano menahan tangan istrinya merapatkan tubuhnya dan tubuh Ayra hingga tak berjarak sedikitpun kemudian memegang dagu Ayra, Vano menatap istrinya dalam-dalam.
Ia menempelkan bibirnya dan bibir istrinya, ciuman yang semakin lama semakin dalam.
" Mas Vano mandi dulu.."
" Mandi bareng ya, mas kangen banget."
Seperti biasa Vano tidak menerima penolakan, Vano segera membopong tubuh istrinya ala bridal style menuju kamar mandi.
Vano menurunkan Ayra di pinggir bathtub dan melucuti pakaiannya tanpa meninggalkan benang sehelaipun. Vano mengisi bathtub dengan air hangat dan menambahkan beberapa tetes aromaterapi ke dalamnya, setelah melepaskan semua pakaiannya Vano masuk ke dalam bathtub yang sudah terisi penuh air.
Melihat suaminya sudah masuk Ayra segera menyusul, Vano mendudukkan istrinya di pangkuannya.
Terjadilah adegan panas yang tadi sempat tertunda, hingga keduanya ambruk dengan posisi terlentang dan kepala menyandar di pinggiran bathtub.
Ayra yang menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya, tak terasa sudah beberapa kali keduanya melakukan hubungan.
" Sayang mas masih pengen..?"
" Ih mas Vano...!" Ayra memukul dada suaminya.
" Aduh... Sayang sakit.." Vano berpura-pura kesakitan.
" Gak ada puasnya di orang, kasihan Shireen nanti nyanriin Ayra. Nanti lagi kan bisa..."
" Bener ya nanti... Sama istri sendiri kan halal, ibadah lagi.."
Keduanya sudah selesai membersihkan diri, kini Vano membantu Ayra mengeringkan rambut dengan hair dryer di depan meja rias.
__ADS_1
" Mas Vano nanti kalau kak Han menikah terus pindah ke perusahaan Om Pram bagaimana..?"
" Mas pelan-pelan nyari asisten lagi sayang, semoga yang cekatan seperti Han.."
" Gak boleh perempuan ya..?"
" Kenapa... Cemburu ya..?" Vano meledek istrinya.
" Enggak tu biasa aja, gpp nyari yang cewek kan bisa nempel terus.."
Ayra berdiri dan meninggalkan Vano yang berdiri mematung karena masih mencerna kata-kata istrinya.
" Sayang kan belum selesai.."
Ayra keluar kamar dengan menutup pintu sedikit keras.
" Kenapa sih, kok aku di cuekin. Emang tadi salah ya ngomong gitu, perasaan gak lagi dapet kok sensitif.."
Vano merapikan pakaiannya dan berjalan cepat menyusul istrinya, di ruang tamu Ayra sudah membawa Shireen dalam gendongannya.
" Anak papa udah mandi...?"
Shireen menanggapi pertanyaan Ayahnya dengan tawa, seolah-olah mengerti apa yang ayahnya katakan.
" Anak papa yang cantik, gak boleh cemberut ya nanti cantiknya ilang kayak Mommy.."
Bukanya terhibur Ayra justru semakin di buat kesal dengan tingkah Vano, Ayra mendudukkan Shireen di pangkuan Vano dan meninggalkannya pergi menuju meja makan.
Setelah kepergian Mommy nya Shireen menangis hingga membuat Vano bingung untuk menenangkannya.
Vano menyusul Ayra ke meja makan, tetapi melihat Shireen menangis tak membuat Ayra menjadi panik Ayra hanya cuek melihat Vano kebingungan.
Vano yang terus berusaha menenangkan Shireen dengan mengganti posisi gendongannya, mulai dari menidurkan Shireen di dadanya hingga di gendong depan nyatanya usaha Vano tak membuahkan hasil.
Shireen semakin kencang menangis dan meronta-ronta dalam gendongan Vano, tidak seperti biasanya Shireen menangis seperti itu. Mungkin apa yang mommy nya rasakan Shireen juga ikut merasakan ketidaknyamanan.
" Sayang kok diem aja sih, Shireen gak mau diem nie..?"
" Nenangin anak aja gak bisa mau melihara bibit pelakor..."
" Mas becanda sayang, kok marah gitu.."
Ayra mengambil Shireen dari gendongan Vano, Shireen pun berhenti menangis.
" Maafin mas ya, besok kamu deh yang seleksi calon asisten mas..."
" Beneran...Ntar nyesel lagi..?" jawab Ayra ketus.
" Mas cium disini ya, biar kamu malu dilihatin semua pegawai disini.." Vano mulai memberi ancaman.
" Emang mas gak malu..?"
__ADS_1
" Ya enggak lah ngapain malu, nyium istri sendiri.."
Hingga malam keduanya sudah baikan, niat hanya bercanda justru Vano membuat Ayra ngambek dan mengancam akan memotong burungnya jika berani macam-macam.