Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 59


__ADS_3

Vano pulang dari kantor jam 18.15, saat dirinya masuk ke kamar dilihatnya Ayra sedang berbaring di atas ranjang.


" Sayang mas pulang.."


Vano mendekati ranjang dan mencium kening istrinya.


" Mas Vano.."


" Gimana mau kerumah sakit sekarang...?"


" Belum sering mas, Ayra capek jalan-jalan mau tiduran sebentar.."


" Mas mandi dulu ya..."


" Ayra siapkan airnya ya mas.." Ayra berusaha untuk bangun tetapi tangan kekar Vano menahanya.


" Gak usah, mas bisa sendiri. Kamu istirahat ya.."


" Iya mas.."


Setelah Vano ke kamar mandi Ayra kembali memejamkan matanya dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Tak lama Vano sudah menyelesaikan mandinya, Ayra sudah benar-benar tertidur hingga tidak menyadari Vano sudah berada disampingnya.


Vano keluar kamar dan melihat pak Yoseph dan beberapa pengawal sedang duduk di kursi tamu, Vano segera bergabung dengan mereka.


" Nona muda bagaimana Den..?"


" Masih aman kok pak, lagi tidur.."


Para laki-laki disana mengobrol hingga larut malam, Vano pamit masuk kamar pukul 23:00 dan yang lain tidur disofa itu.


Ayra mondar-mandir didalam kamar sambil jalan-jalan dan melihat kembali isi tas bawaanya.


" Sayang barangnya sebanyak ini.."


Vano yang melihat 2 koper besar disana.


" Iya mas, buatku setelah lahiran dan buat anak kita.."


" Ayo bobok lagi.."


" Mas Vano aja, Ayra belum selesai.."


Vano merangkak naik ke atas tempat tidur tidak menunggu lama Vano pun tertidur, Ayra terus mondar-mandir hingga pukul 02:00.


" Mas Vano bangun.."


Ayra menggoyang-goyangkan tubuh suaminya, Vano segera bangun.


" Kenapa sayang..?"


" Udah gak kuat mas, ayo berangkat.."


" Ayo..."


Vano mencuci muka di kamar mandi dan keduanya keluar bersamaan dengan Vano menopang tubuh istrinya.


Mendengar pintu kamar majikanya terbuka pak Yoseph bangkit dan berjalan ke depan kamar.

__ADS_1


" Gimana Den, kerumah sakit sekarang..?"


" Iya pak, Ayra sudah gak kuat.."


Pengawal lain membantu membawa barang-barang dan memasukkannya ke dalam mobil. Pak Yoseph mengetuk pintu kamar para pelayan di belakang.


Yuk Darmi yang membuka pintu berjalan dengan tergopoh-gopoh.


" Ada apa pak Yosh.."


" Non Ayra mau berangkat sekarang.."


Yuk Darmi dan pak Yoseph berjalan ke halaman depan dimana mobil majikanya terparkir, Ayra dan Vano sudah berada didalam mobil.


Sesampainya di rumah sakit Ayra langsung ditempatkan di ruangan khusus pemilik rumah sakit ini. Selain Vano semua orang menunggu di luar ruangan.


" Maaf Nona, saya periksa dulu ya pembukaannya.."


" Iya dokter..."


Dokter Maya melakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui pembukaannya.


" Sudah buka 4 Nona, kalau masih kuat jalan-jalan dibuat jalan atau berdiri. Kalau tidak kuat tiduran miring kiri.."


Ayra tidur miring sesuai saran dokter Maya, saat kontraksi datang air langsung terbangun dan mengambil nafas panjang kemudian dikeluarkan lewat mulut.


Begitu seterusnya sampai kontraksinya hilang dan seorang suster terus memijat punggungnya, untuk mengurangi nyeri saat kontraksi.


Pukul 06.00 pagi dokter Maya kembali melakukan periksa dalam untuk mengetahui kemajuan persalinan.


" Masih buka 7 Nona, jalan-jalan lagi ya.."


Untuk berjalan Ayra rasanya sudah tidak mampu, ia terus merintih kesakitan saat kontraksi datang.


" Mas sakitt..."


Ayra terus menggenggam tangan suaminya dengan mulut yang terus melafalkan do'a-doa'a.


" Iya sayang sabar ya, Kita sama-sama berjuang.."


Vano tidak meninggalkan istrinya barang sedetikpun, Vano tidak tega melihat Ayra yang terus kesakitan. Tanpa mampu ia meringankan sakit itu, Vano juga terus memanjatkan do'a agar persalinan Ayra lancar.


Yuk Darmi, Pak Yoseph dan beberapa pengawal yang duduk diruang tunggu merasa khawatir, majikanya sedang berjuang di dalam sana. Tidak ada yang berucap sepatah katapun, semua hanya diam larut dalam kirain masing-masing.


" Suster tolong panggilkan dokter Maya, saya sudah nggak kuat. Pengen mengejan rasanya nggak bisa ditahan.."


" Baik Nona.."


Saat dokter Maya masuk ruangan ia langsung menggunakan APD lengkap, mulai dari sarung tangan steril, celemek, sepatu boot, kacamata, masker, dan penutup kepala.


" Ini buka 9 Nona, kita tunggu air ketuban pecah sendiri ya.."


" Saya nggak bisa nahan lagi dokter.."


Akhirnya dokter Maya melakukan pemecahan selaput ketuban.


" Pak Vano silakan naik ke tempat tidur dengan memangku tubuh Nona Ayra, dengan posisi setengah duduk.."


Vano melakukan apa yang dokter Maya anjurkan, Vano berkeringat seakan dirinya juga ikut melahirkan.

__ADS_1


" Ayo Nona sekarang mengejan.."


Beberapa kali mengejan ada kemajuan tetapi tenaga Ayra belum cukup kuat untuk mendorong kepala bayi hingga lahir.


Di sela-sela mengejan Ayra istirahat dan minum manis untuk menambah tenaga, kemudian melanjutkan kembali mengejan.


Ngoek...Ngoek...Ngoekkk


Telah lahir seorang bayi perempuan dengan berat 4800 gram dan panjang 52 cm, pada pukul 09:50 dalam keadaan selamat.


Ayra menangis sesenggukan, kini dirinya menjadi seorang ibu dengan perjuangan panjang. Vano menangis sesenggukan dengan menghujani ciuman di wajah istrinya.


" Selamat ya Nona, pak Vano anaknya putri cantik sekali.."


" Terimakasih Dokter..."


" Terimakasih sayang..." Vano menciumi tangan istrinya.


Vano turun dari tempat tidur pasien dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu, ia akan mengadzai putrinya.


Sementara Ayra sedang dibersihkan setelah melahirkan plasenta, kini Ayra sudah bersih dan sudah mengenakan pakaian gantinya kembali.


Semua dokter dan para suster sudah meninggalkan ruangan, hanya satu orang suster yang masih tinggal di dalam untuk melakukan observasi hingga 2 jam setelah persalinan.


Yuk Darmi dan Pak Yoseph masuk ke dalam ruangan.


" Selamat non Ayra Den Vano.."


" Terimakasih Yuk.."


" Selamat Den, Nona muda.."


" Terimakasih pak Yosh.."


Ayra yang sangat mengantuk karena semalaman terjaga kini tertidur pulas, yuk Darmi yang menjaga si kecil. Sedangkan Vano berusaha menghubungi ponsel orang tuanya.


" Hallo Van, gimana kabarnya...?"


" Baik Ma, Mama dan Papa segera pulang ya Vano ada kado buat Papa dan Mama.."


Vano mengerahkan kamera ponselnya ke wajah putrinya.


" Ya Ampun cucu Oma sudah lahir.."


Mama Mely yang bahagia tidak sanggup berkata-kata, ia menangis bahagia.


Setelah Vano menutup panggilan videonya, Mama Mely segera menghubungi Papa Reno. Keduanya akan segera terbang ke Indonesia untuk segera bertemu dengan cucunya.


Vano menghubungi mertuanya setelah kedua orang tuanya, mertuanya juga tidak kalah bahagia dari orang tua Vano. Papa Anton dan Mama Ana menyambut bahagia berita ini, dan akan segera kembali ke tanah air.


Melihat putrinya dan istrinya yang sedang tertidur Vano kembali menangis, ia tidak mampu membendung air matanya.


Vano teringat bagaimana dulu iya mengecewakan istrinya, setelah melihat Ayra berjuang demi melahirkan putrinya.


Ketika laki-laki mengetahui bagaimana perjuangan seorang wanita untuk melahirkan, Vano yakin tidak akan ada laki-laki yang menyakiti istrinya.


***


Terimakasih support nya buat para pembaca, dukung aku untuk terus berkarya disini ya...

__ADS_1


__ADS_2