
Acara launching parfum milik mahkota group ditayangkan hampir di semua stasiun televisi swasta, hampir semua penduduk negeri ini mengikuti acara tersebut. Begitu juga dengan seorang wanita yang melihat acara itu di televisi tempatnya bekerja.
Sambil tangannya memotong beberapa sayuran pandangannya tertuju ke layar televisi, tak sadar air matanya menetes di pipi mengingat masa lalunya.
" Maafin Mama Nak, Mama bukan seorang ibu yang baik untukmu. Semoga kebahagiaan selalu menyertai keluargamu, sehat selalu hingga nanti melahirkan.."
Sarah larut dalam lamunan dan kesedihannya.
" Kenapa kamu nangis..?"
" Eh... nggak ada apa-apa, aku ikut bahagia melihat pengusaha idolaku bahagia. Lihat aja itu.."
Sarah menunjuk ke layar televisi, temannya bekerja sontak menoleh ke televisi yang ditunjukkan Sarah kepadanya.
" Pasangan yang serasi prianya tampan dan wanitanya cantik sekali. Apa kamu mengenalnya..?"
" Kenal lewat televisi prianya Vano dan perempuan itu Aira.."
Sarah bekerja di sebuah restoran tak jauh dari tempat tinggalnya, sebagai tenaga bersih-bersih terkadang juga membantu memotong dan mencuci sayuran.
Apa aja dikerjakan untuk menyambung hidup daripada hanya di rumah, pernah juga sebagai buruh cuci pakaian.
Nasib Sarah tidak jauh dengan nasib anaknya. Setelah namanya di blacklist dari dunia modeling, kini Amel hanya bekerja di sebuah supermarket. Dengan sikap angkuhnya Amel beberapa kali diberhentikan dari tempatnya bekerja karena sikapnya yang tidak sopan pada pelanggan.
***
" Sayang minum dulu susunya.."
" Terima kasih mas Vano.." Ayra menerima gelas susu dari suaminya dan segera meminum hingga tandas.
Setiap hari susu hamilnya dibuat langsung oleh ayah si jabang bayi, Ayra bahagia sekali kamu sudah benar-benar berubah.
" Mas Ayra pengen martabak manis.."
" Mau mas belikan..?"
" Mau mas..."
Walaupun ragu Vano mengambil kunci mobil dan keluar dari halaman mansion, Vano menyusuri jalanan yang sepi mencari penjual martabak karena memang sekarang pukul 01.00 banyak penjual martabak sudah pada pulang.
Hingga pukul 02.00 Vano belum juga mendapat apa yang dicari, Vano menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket untuk membeli kopi.
Saat Vano turun dari mobil Vano melihat gerobak martabak yang sudah tutup di samping mini market, begitu Vano mendekati gerobak itu Vano melihat penjualnya tidur di balik gerobak dagangannya.
" Bang bangun bang.."
Vano menggoyang-goyangkan kaki penjual nya, merasa ada yang memanggil penjual martabak duduk dengan mengucek-ucek matanya.
" Bang martabak manisnya masih ada.."
" Udah tutup Bang.." Jawabnya karena masih mengantuk.
" Tolong buatkan dong bang, istri saya sedang ngidam nih.."
" Mau berapa..."
" Bikin semua bang.."
Seketika senyum penjual martabak pun terbit, Lumayan pulang membawa cukup banyak uang Batinya.
" Beneran bang..?"
" Iya..."
" Semua 27 porsi.." Ucapnya meyakinkan.
" Bungkus semua, saya tunggu di mobil.!"
Setelah membeli kopi yang Vano inginkan ia kembali masuk ke dalam mobilnya. Tidak menunggu lama Vano pun tertidur di jok depan mobilnya, kopi tidak membuatnya terjaga malah semakin ngantuk.
__ADS_1
Hingga pukul 03.00 Abang martabak mengetuk kaca mobil Vano, Vano pun bangun ia baru sadar kalau dirinya tidur di dalam mobil.
Setelah membayar martabaknya Vano pun melajukan mobilnya kembali ke mansion, security membukakan pintu gerbang.
" Pagi Den Vano..?"
" Pagi pak, berapa orang yang jaga..?"
" 3 Orang Den, yang lain lagi lihat TV di dalam.." Scurity itu menunjuk ke pos jaga.
" Pak tolong bantu bawakan barang dibelakang masuk ya.."
" Baik Den.."
Security itu mengambil semua barang yang Vano maksud dan membawanya ke dalam mansion.
" Maaf Den ini diletakkan dimana ya..?"
Vano mengambil 2 box martabak manis rasa kacang dan coklat untuk dibawa ke kamar istrinya.
" Ambil untuk bapak dan temannya, yang lain bagikan ke pelayan lainnya.."
" Baik terimakasih Den Vano.."
Vano pun berlalu masuk ke dalam lift untuk naik, sesampai di kamar Vano melihat Ayra yang tertidur dengan pulas.
" Sayang..." Vano mencium wajah istrinya.
Perlahan Ayra membuka matanya, dilihatnya senyum manis dari Vano.
" Ada apa mas..?"
" Ini martabak manis pesananmu..."
" Mas Vano beneran nyari, ini jam berapa sih..?"
Ayra bangun dan duduk dihadapan suaminya.
Vano mengernyitkan dahinya.
" Tadi katanya pengen martabak manis, mas udah belikan banyak.."
" Nanti aja mas buat sarapan.."
" Ohh... Ya udah bobok lagi aja kalau masih ngantuk.."
Vano membantu Ayra berbaring dan menyelimuti tubuh istrinya. Vano berjalan keluar kamar dengan membawa 2 martabak dan meletakkan diatas meja makan.
Vano kembali ke kamar dan tidur disamping istrinya, karena ini hari Sabtu Vano memutuskan untuk tidak ke kantor dan menyerahkan semua urusan kantor pada Han.
****
Han sibuk menyelesaikan tugasnya dan juga milik Vano, jam makan siang sudah lewat Han masih di ruangan Vano hanya ada sepotong roti dan segelas kopi di sampingnya.
" Mas Vano..."
Seorang membuka pintu dan memanggil Vano, Han menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah pintu.
" Kamu..."
" Kamu...."
Kedua orang ini saling menunjuk.
" Eh... Ngapain kamu disini..?"
" Menurutmu.." Jawab Han.
" Maling ya.."
__ADS_1
" Enak aja..."
" Scurity.. Tolong ada maling disini.."
Han berdiri dan menutup mulut wanita ini dengan telapak tanganya.
" Diam.."
" Hemm MMM..."
Nessa gak kehabisan akal ia melipat tanganya, dan menyikut kuat tepat di bagian perut Han.
"Aduhhh...." Seketika Han melepaskan tangannya di mulut Nessa.
" Biar tahu rasa kamu.."
" Dasar wanita gila.."
" Mana mas Vano..."
" Gak tau..."
Han meringis kesakitan, perut laparnya kini bertambah sakit sekaligus perih.
" Oke oke gue minta maaf. Mas Vano mana..?"
Han hanya diam tidak menanggapi apa yang Nessa katakan.
" Nama gue Nessa, gue anak dari sahabat Om Reno. Gue yang dulu mau dijodohkan sama mas Vano."
" Gue Han, asisten Vano.." Jawab Han cuek.
" Gue minta maaf, gue traktir makan siang gimana sebagai permintaan maaf gue.."
Niat hati ingin mengajak Vano makan siang malah tidak ada Vano dikantornya, dari pada makan siang sendiri mending sama Han.
Han juga ganteng gak jauh beda dari Vano.
Akhirnya kedua orang ini berjalan ke lobby kantor, disana mobil Han sudah terparkir.
" Pakek mobilku aja, ada disana.." Nessa menunjuk mobil berwarna merah tidak jauh dari sana
" Pakai punyaku aja.."
Han mengemudi mobilnya sendiri dan Nessa duduk disamping Han.
" Kamu ngapain nyari Vano ke kantor.."
" Memang gak boleh, mau ngajak mas Vano makan siang aja.."
" Gak tau Vano sudah punya istri.."
" Tau donk, kan aku udah anggap mas Vano kaya kakak ku sendiri.."
" Kamu udah lama Han jadi asisten mas Vano.."
" Cukup lama sebelum mahkota group di bangun.."
" Hebat ya, kantor belum ada asisten udah ada.."
" Aku dan Vano tumbuh bersama, kita temenan dari kecil.."
" Ohh gitu.. Saudara ya.."
" Bisa dibilang begitu, semenjak orang tua ku meninggal Om Reno menganggap aku dan adik ku sebagai anaknya. Dan Om Reno yang membantu sekolah kami berdua.."
" Maaf ya Han, aku turut prihatin dengan apa yang menimpa kedua orang tuamu.."
" Gak apa-apa, aku sudah berdamai dengan keadaan.."
__ADS_1
Keduanya sudah berada disebuah restoran, Nessa mengajak Han untuk bertukar nomor telepon. Dan Han juga setuju keduanya berteman.