Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
Episode 37


__ADS_3

Malam berlalu dan akan berganti pagi, Ayra belum bisa memejamkan mata pikirannya menerawang kemana-mana.


Ayra mengingat sesuatu di mana dirinya pernah pergi ke apotek bersama Dina, akhirnya ia beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk mencobanya.


Ayra menampung urin nya ke dalam suatu tempat, kemudian mencelupkan alat tes kehamilan ke dalamnya.


Saat menunggu 10 menit adalah waktu yang paling menegangkan buat Ayra, dengan perasaan yang deg-degan perlahan ia mengangkat Alat tes dari wadah.


Dan..... Ting..Tong.... garis dua.


Ia tak kuasa menahan tangisnya, seharusnya ini adalah berita yang sangat membahagiakan untuknya dan Vano. Ttapi keadaan telah berubah 180 derajat.


" Sayang kita akan melewati semuanya hanya berdua, maafkan mama belum bisa menjadi orang tua yang sempurna buatmu.." Ayra berbicara sendiri dengan tangan mengelus-elus perutnya yang masih datar.


Tak sadar berapa lama sudah dirinya menangis, puas menangis Ayra pun tertidur.


Meski masih diselimuti kesedihan setidaknya ada harapan besar untuk sesuatu yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.


***


Pagi ini vano sudah rapi, tak seperti biasanya. ia pun menuruni tangga dengan menenteng tas di tangan kirinya.


" Pagi Den Vano, mau sarapan sekarang Den..??"


" Maaf Mbok saya lagi buru-buru, mbok Yem aja yang sarapan sama yang lainnya.."


Vano pun berlalu pergi, Mbok Yem menatap punggung majikannya yang semakin menjauh.


" Rumah ini jadi beda ya Mbok semenjak nggak ada Non Ayra.."


" Entahlah Roh, Mbok juga ngerasa gitu. semoga non Ayra baik-baik di luar sana."


" Waktu non Aira pergi sambil nangis aku nggak tega Mbok ngelihatnya.."


"Sama mbok juga, mau nahan kita siapa ya.."


Kedua wanita beda usia ini kembali mengingat saat istri majikanya meninggalkan rumah.


***


Saat Vano duduk di kursi kerja yang ada di ruangannya, ia mengambil beberapa dokumen yang ada di meja.


Dirasa masih ada yang kurang.


" Panggilkan Han, suruh ke ruangan saya.." perintah Vano pada sekretarisnya.


" Maaf Pak Vano, asisten Han sudah mengundurkan diri. Surat pengunduran dirinya ada di atas meja pak Vano."


Vano membuka sebuah amplop yang ada di mejanya, mengeluarkan surat dari dalam amplop. tangannya meremas kertas yang ia pegang dan melemparkan ke tempat sampah.


Vano kira ucapan Han hanya ungkapan kemarahannya saja, ternyata Han benar-benar meninggalkan kantornya.


Pagi ini ada agenda meeting bersama Pak Adi, pertemuan terakhir sebelum parfum miliknya launching di pasaran.

__ADS_1


Kini Vano yang harus menghandle semua pekerjaannya sendiri.


***


Han kini berada di kantor pusat papa Reno, sebagai orang kepercayaan papa Reno meminta Han memilih posisi yang ia inginkan.


" Om... kasihan sama Vano.."


" Kita kasih pelajaran sama anak nggak tahu diri itu.."


" Saya sedang menggali informasi di mana Ayra berada Om."


" Orang-orang kepercayaan Om juga sedang mencari tau, kasihan mamanya Vano terpukul sekali dengan masalah ini.."


" Kita cari sama-sama Om, kasihan Ayra juga.."


***


Pukul 09.00 pagi Pak Yoseph hanya mondar-mandir di depan pintu kamar Ayra, mau mengetuk takut salah tapi kalau gak diketuk andaikan Ayra di dalam sedang sakit gimana.


Biasanya Nona mudanya pagi-pagi sekali sudah turun ke bawah, kadang juga ke ruang bawah tanah hanya untuk menunggu Mbok Darmi memasak sambil mengobrol dengan para pelayan yang lain.


" Non Ayra..." Pak Yosep memberanikan diri mengetuk pintu dengan pelan.


" Pak Yos bisa minta tolong yuk Darmi dipanggil ke sini.." jawaban Ayra dari dalam kamar.


" Siap Nona muda.."


Pak Yosep segera bergegas ke ruang bawah tanah untuk memanggil yuk Darmi.


"Pak ada apa, kok lari-larian gitu.."


"Anu yuk..." Pak Yoseph terbata karena ngos-ngosan.


"Pelan-pelan pak, mau minum air putih dulu.." Yuk Darmi menyodorkan segelas air putih pada pak Yoseph.


" Yuk Darmi dipanggil non Ayra ke kamarnya.."


Keduanya naik ke lantai 2 di mana kamar majikannya berada. Seperti biasa Pak Yoseph penunggu di depan kamar.


Tok..tok...tok...


"Non Ayra..."


" Masuk aja yuk..."


Yuk Darmi membuka pintu dan masuk ke kamar, dilihatnya Ayra sedang berbaring di atas tempat tidur.


Yuk Darmi berjalan mendekati ranjang di mana Ayra berbaring.


"Apa Non Ayra sedang sakit.."


"Enggak yuk..." Ayra segera duduk menghadap yuk Darmi.

__ADS_1


"Yuk duduk di sini dulu, ada yang Ayra mau tanyakan sama yuk Darmi." Ayra menepuk tempat tidur di sebelahnya supaya Mbok Darmi duduk di sana.


"Yuk apa dulu yuk Darmi pas hamil pertama bahagia.."


"Sangat non.. Karena waktu itu kita berdua sedang menantikan kedatangannya.." Ayra bisa mengerti bahagianya yuk Darmi waktu itu, terlihat saat bercerita yuk Darmi selalu tersenyum.


Ayra tersenyum tipis, Mbok Darmi tersadar dengan pertanyaan Ayra.


" Apa nan Ayra sedang isi..??" tanya Mbok Darmi dengan sedikit ragu.


Dijawab Aira dengan anggukan pelan.


"Alhamdulillah non.. yuk ikut bahagia."


Yuk Darmi mengelus-elus perut Ayra.


" Sayang jangan rewel ya kasihan Mama, baik-baik di perut Mama ya.."


Ayra tersenyum melihat perlakuan Mbok Darmi.


"Non Ayra, yuk ambilkan sarapan. Non tunggu di sini mulai sekarang yuk akan meminta pelayan yang belanja menambahkan susu hamil buat non.." yuk Darmi yang terlihat begitu bersemangat.


Ia buru-buru keluar kamar tak lama kembali dengan membawa nampan berisi sarapan.


***


Vano sudah keluar dari ruang meeting, entah kenapa badannya terasa kurang sehat. Padahal Vano berangkat ke kantor tidak sedang sakit.


"Pak Vano maaf makan siang sudah diantar ke ruangan bapak." ucap sekretaris Vano


"Terima kasih.."


Biasanya ketika makan siang Vano akan keluar bersama Han, kini dirinya tidak ingin ke mana-mana makan pun hanya di ruangan.


Setelah menghabiskan makan siangnya tiba-tiba perut Vano terasa seperti diaduk-aduk, Vano segera berlari ke kamar mandi.


Hoekkk...Hoekkkk...


Vano memuntahkan semua makan siangnya.


Badannya terasa lemes hingga Vano hanya terduduk dilantai kamar mandi.


Entah berapa kali dirinya bolak balik ke kamar mandi, perutnya sudah kosong tetapi ia masih ingin muntah terus.


Melihat ruangan kosong Alexa kembali kembali menutup pintunya.


"Mbak Vano dimana.." Ia bertanya kepada sekretaris yang ada didepan ruangan Vano.


"Pak Vano ada didalam kok Buk.." Enak aja kamu panggil saya ibuk gue bukan nyokap Lo.


Dengan jari telunjuknya menunjuk sekretaris Vano, sang sekretaris pun hanya terdiam dan menunduk.


Setelah puas memarahi sekretaris Vano, Alexa melenggang masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Huhhh...


"Nenek lampir dari mana sih, seenaknya aja marahin orang. Terus gue harus manggil situ Nona.." Ia mengomel dengan dirinya sendiri untuk melampiaskan kemarahanya.


__ADS_2