
Hari ini ayra pulang yang dari kantor sekitar pukul 2 sore, Khaira menaiki taxi online yang tadi sudah dipesannya. Ayra tidak pulang ke apartemen melainkan menuju sebuah restoran yang tadi dikirimkan RIma melalui Sherlock, dari kejauhan Rima melihat Ayra memasuki restoran, Rima pun melambaikan tangan kearah Ayra. Di sebelah Rima berdiri seorang laki-laki yang tidak kalah tampan dengan Devano, ya dia adalah Roby sahabatnya.
"Rob akhirnya ketemu juga, kemana aja sih lo." Ayra dan Roby saling berpelukan
"lo kan tau sendiri gue ditugaskan di desa yang jauh dari sini."
"kangen banget nih lama nggak ketemu."
"Emangnya aku nggak kangen, aku juga kangen banget sama kalian berdua." ucap Roby.
"kapan kamu balik lagi ke desa Rob..?
" Kabar baik aku sudah menetap di salah satu rumah sakit di kota ini.."
Wah hebat kamu Rob, Ayraa dan Rima merasa bahagia, akhirnya mereka bertiga tidak saling berjauhan. Setelah acara makan sore selesai mereka melanjutkan mengobrol karena sudah lama tidak bertemu banyak cerita di antara mereka bertiga, nggak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18:00.
Ayra dan Rima berpamitan kepada Roby dan berjanji lain kali akan bertemu lagi, Ayra memutuskan untuk salat Maghrib di apartement. Mengingat apartemen Ayra tidak jauh dari restoran tempat mereka makan, kira-kira sekitar 10 menit dengan menggunakan taksi.
Khayra bersiap-siap karena sebentar lagi Vano dan Ayra akan makan malam, di rumah orang tua Vano. Mama Vano sedang menata makanan di meja makan, terdengar mobil Fano memasuki halaman rumah. ketika Vano dan Ayra memasuki rumah, mama segera menghampiri.
"sayang akhirnya kamu datang juga, lama sekali Mama kangen banget."
"Ayra juga kangen banget sama tante." kedua wanita beda generasi itu berpelukan.
"jangan panggil tante panggil mama sayang, kayak Vano.."
"baik tan... Eh mama." dengan sedikit canggung.
"papa di mana Ma..?"
"ada di ruang kerjanya.!"
Vano berjalan menaiki anak tangga menuju ruang kerja papanya, setelah mengobrol sebentar di ruang kerja mereka berdua turun bergabung dengan Mama dan Aira di ruang tamu. melihat papa Reno berjalan mendekat, khayra berdiri menghampiri papa Reno dan mencium punggung tanganya. Papa Reno mengusap kepala Khayra dengan perasaan sayang, kaira merasa seperti memiliki keluarga di rumah ini.
Papa dan Vano membicarakan masalah bisnis mereka, sedangkan mama dan Ayra mengobrol banyak hal. "sayang mama denger dari Vano kamu udah kerja.?"
"Iya ma, di firma hukum milik sahabatnya mas Vano."
"Sayang ayo semua kita makan dulu, khayra jangan sungkan anggap rumah sendiri." papa Reno menimpali.
"Iya om," jawab Ayra.
" Mama Vano kamu panggil mama, kenapa papa kamu panggil Om. panggil papa sayang.."
__ADS_1
Ayra mengangguk dengan tersenyum, mereka makan malam dengan sesekali diselingi obrolan ringan.
Setelah makan malam mereka kembali ke ruang kamu, untuk dilanjutkan dengan mengobrol.
"Sayang kapan kalian akan menikah?" mama menatap kearah Vano dan Ayra secara bergantian.
"Kalau Vano terserah Ayra ma, sekarang pun Vano siap."
"Sayang nanti kalau udah siap segera ya, papa sudah pengen cepet punya cucu." papa Reno menimpali.
Ayra hanya mengangguk sambil tersenyum, bingung apa yang harus dikatakan kepada orang tua Vano.
Tanpa terasa jam menunjukkan pukul 22:00 Vano dan Ayra pamit pulang kepada orang tua Vano, mama menawari Ayra untuk menginap. Ayra menolak dengan alasan lain kali, Vano mengantarkan Ayra ke apartemen. Mobil Vano berhenti dilobby apartemen Ayra, Vano turun dan menggandeng tangan Ayra dan memasuki gedung apartemen.
"Eh Van.. mau kemana?"
"Ya nganter istriku masuk lah."
Karena Vano tidak suka ditolak, Ayra memutuskan untuk membiarkan Vano mengantarnya santai didepan apartemen miliknya.
"Aku mau masuk dulu, kamu bisa pulang sekarang."
"kamu ngusir aku, gak ngajak aku masuk." goda Vano.
"Cium dulu." goda Vano.
"enggak."
Setelah perdebatan panjang akhirnya mereka berjabat tangan, dengan ayra mencium punggung tangan Vano dan Vano mencium kening Ayra dengan tiba-tiba. Vano berjalan memasuki lift dengan senyum kemenangan, dari apartment Ayra ke rumah Vano memakan waktu kurang lebih 40 menit.
Dilihatnya Rima sudah terlelap, mungkin lelah seharian bekerja. Ayra berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian menyusul Rima tidur. Terdengar ada pesan masuk diponselnya, ya pesan dari Vano.
"Sayang mimpi indah ya."
Ayra tersenyum membaca pesan dari Vano, dan meletakkan kembali ponselnya diatas meja sebelah tempat tidur. Gak menunggu lama ayra pun terlelap, pukul 5 pagi Ayra dan Rima sudah selesai melaksanakan shalat subuh.
Pagi ini Rima bersih-bersih apartemen sebelum berangkat kerja, sedangkan Ayraa sibuk di dapur untuk membuat sarapan pagi.
Menu pagi ini capcay dan ayam goreng tidak lupa sambal, Ayraa sudah pandai memasak dari SMP. Saat papanya menikah lagi dengan ibu tirinya, Ayra yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah termasuk memasak dan mencuci.
Ayra dan Rima sudah selesai dengan ritual paginya, kini mereka sudah rapi dan akan sarapan bersama. Bell apartemen berbunyi Ayra segera berjalan untuk membukakan pintu, di sana sudah terlihat Vano bersama asisten Han. "Vano tahan tumben kalian barengan." ucap Khaira.
"Aku mau mau jemput Rima Ra nggak tahu kalau Vano juga kesini."
__ADS_1
"Ini kan apartemen calon istriku, wajar dong kalau aku ke sini ini."
"Apa calon istri, nggak salah denger ya aku."
"Sudah sudah ayo masuk kita sarapan bareng," Ayra memotong perdebatan mereka berdua.
Setelah sarapan pagi selesai, Ayra berangkat ke kantor diantar Vano. Sedangkan asisten Han mengantarkan Rima.
Jam makan siang nanti Ayra sudah janjian akan bertemu Roby disebuah restoran, mereka akan makan siang bersama.
Di salah satu meja makan direstoran tersebut Ayra duduk berhadapan dengan Roby, Ayra terlihat bahagia dan sesekali tertawa lepas.
Tak jauh dari meja Ayra ada sepasang mata yang dari tadi terus melihat ke arahnya, "Van kamu lihatin siapa sih, emangnya kamu kenal sama mereka."
Vano tidak menjawab pertanyaan Vanessa dan terus melihat ke arah Ayra, Vanessa merasa kesal karena diacuhkan Vano.
Vano merasa tidak berselera makan, Vano sekarang berdiri dari tempat duduknya.
"Nes kamu selesaikan makannya aku tunggu di mobil."
"Tapi Van..."
Vano tidak menghiraukan perkataan Vanessa, dan memilih berlalu pergi.
Melihat khayra tertawa didepan laki-laki lain membuat hati Vano merasa sakit, sore hari saat Vano menjemput Ayra Vano hanya menunggu di dalam mobil tidak seperti biasanya.
Ketika perjalanan dari kantor Ayra sampai ke apartemen Vano hanya diam, Ayra merasa sedikit aneh dengan sikap Vano kali ini.
"Van kamu gak papa, apa kamu ngrasa gak enak badan."
Vano tak menjawab perkataan Ayra, setelah Ayra berulang kali bertanya akhirnya Vano menoleh dan menepikan mobilnya.
Setelah mobil Vano berhenti Vano melepaskan seat belt nya dan memutar duduknya menghadap Ayra, "Ra apa kamu begitu menyukai laki-laki itu.?" tanya Vano dengan nada sedikit tinggi
"Maksudmu Van...? Ayra masih terlihat bingung, siapa laki-laki yang dimaksud Vano.
"Laki-laki yang udah bikin kamu seneng tadi siang." Vano masih dengan nada tak suka.
"Roby itu sahabatku Van, aku gak ada perasaan apa-apa."
"Kalau kamu gak punya perasaan sama dia apa kamu yakin dia juga gak punya perasaan denganmu." Vano memukul setir mobilnya dengan sangat keras.
Ayra sedikit terjingkat dengan apa yang dilakukan Vano, Ayra hanya diam dan terlihat sedikit ketakutan dengan kemarahan Vano.
__ADS_1